Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI Hong Kong

Selasa, 15 Agustus 2017

STD Divonis Penjara Karena Bekerja Secara Tidak Sah

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial STD (42 tahun asal Jakarta)  telah dilaksanakan pada hari Selasa  tanggal 15 Agustus 2017 bertempat di Pengadilan Shatin lantai 6 court 7.
Terdakwa STD datang ke Hong Kong pada tanggal 5 Mei 2015  dan bekerja sebagai domestic helper  dengan  majikan  yang  berlokasi di Sek Kip Mei .
Namun sebelum kontrak kerjanya berakhir Terdakwa STD  telah diputus kontrak oleh majikannya pada tanggal 24 Oktober 2016. Kemudian karena Terdakwa STD masih belum mendapatkan majikan baru di Hong Kong dan yang bersangkutan tidak juga meninggalkan Hong Kong sampai batas waktu izin tinggalnya habis, maka Terdakwa  STD akhirnya menjadi overstay selama  2 bulan.
Setelah diputus kontraknya oleh majikan dan akhirnya overstay, Terdakwa  STD ditampung di boarding house milik agennya. Kemudian atas dasar kesepakatan antara Terdakwa STD dengan pihak agennya, selama overstay di Hong Kong Terdakwa STD telah dipekerjakan secara part time dengan 3 majikan di 3 lokasi yang bebeda dengan perjanjian setiap harinya yang bersangkutan akan dibayar sebesar HKD 150 (seratus lima puluh Hong Kong dollar).
Pada tanggal 30 Desember 2016 dikarenakan Terdakwa STD merasa takut karena dirinya telah overstay maka yang bersangkutan kemudian datang ke Kantor Imigrasi Wan Chai untuk mengurus perpanjangan  izin tinggalnya di Hong Kong, namun Petugas Imigrasi Wan Chai kemudian memberikan kertas dan meminta Terdakwa STD untuk datang ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay. Setelah diinterview dan dilakukan interogasi oleh pihak Imigrasi Kowloon Bay, Terdakwa STD diizinkan untuk bail out dengan uang jaminan sebesar HKD 400 (empat ratus Hong Kong dollar).
Dakwaan yang dituduhkan kepada Terdakwa STD yaitu : 
Terdakwa telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah bekerja secara tidak sah dengan melakukan kerja part time di daerah Aplei Chau selama 21 hari ;
Terdakwa telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah bekerja secara tidak sah dengan melakukan kerja part time di daerah Tuen Mun selama 1 hari ;
Terdakwa telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah bekerja secara tidak sah dengan melakukan kerja part time di daerah Tsing Yi selama 4 hari ;
Adapun hasil persidangan pada hari ini yaitu bahwa Terdakwa STD telah mengakui bersalah atas dakwaan yang dituduhkan kepada dirinya, sehingga Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa STD dinyatakan telah bersalah melakukan pelanggaran Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah bekerja secara illegal dan oleh karenanya Hakim menjatuhkan hukuman dengan pidana penjara kepada yang bersangkutan selama 6 minggu .

Status RPS Masih Belum Diputuskan oleh Hakim

Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa RPS (29 tahun asal Kediri14 Mei 1988) telah dilaksanakan pada hari Selasa  tanggal 15 Agustus  2017 bertempat di Pengadilan Shatin lantai  3 court 1.
Terdakwa RPS datang ke Hong Kong pada tahun 2009 dan bekerja sebagai domestic helper dimana yang bersangkutan telah berganti beberapa kali majikan di Hong Kong dan majikan yang terakhir ternyata sebelum kontraknya habis Terdakwa RPS telah diputus kontraknya pada bulan Maret  2012.
Dengan diputusnya kontrak tersebut maka Terdakwa RPS  seharusnya telah meninggalkan Hong Kong karena sampai batas waktu yang ditentukan yang bersangkutan tidak juga mendapatkan majikan yang baru namun yang bersangkutan masih tetap berada di Hong Kong sampai akhirnya menjadi overstay selama  3 tahun.
Pada  tahun 2015  Terdakwa  RPS menyerahkan  diri  ke Kantor Imigrasi di Ma Tao Kok dan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap Terdakwa RPS, yang bersangkutan kemudian  mengajukan paper ke Imigrasi Hong Kong  dan permohonan papernya mendapatkan persetujuan dari Kantor Imigrasi Hong Kong sehingga kasus overstay atas nama Terdakwa RPS untuk sementara dihentikan.
Pada tanggal 19 Juli 2017 Terdakwa RPS kembali ditangkap oleh petugas dan kemudian dilakukan interogasi  hingga akhirnya  pada tanggal 24 Juli 2017 Terdakwa RPS ditahan di penjara Tailam sampai dengan menunggu hari persidangannya dikarenakan yang bersangkutan telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong  yaitu surat keterangan paper yang telah diberikan kepada Terdakwa RPS telah berakhir dan Terdakwa wajib melaporkan diri serta mendaftarkan diri kembali untuk mengajukan paper yang baru namun hal tersebut tidak dilakukan oleh yang bersangkutan.
Dengan adanya pelanggaran tersebut maka kasus overstay yang telah dihentikan sebelumnya karena permohonan papernya telah disetujui kemudian disidangkan kembali atas tuduhan bahwa Terdakwa RPS telah melanggar peraturan  Keimigrasian  di  Hong Kong  dengan  overstay selama  3 tahun.
Adapun hasil persidangan pada hari ini yaitu Jaksa Penuntut Umum menyatakan bahwa persetujuan dari Imigrasi terkait dengan permohonan pengajuan bandingnya untuk mendapatkan kembali paper tersebut  sampai dengan saat ini  pihaknya masih belum menerimanya. Kemudian terkait dengan Terdakwa RPS yang mengajukan bail out dengan uang jaminan sebesar HKD 700 (tujuh ratus Hong Kong dollar) oleh Hakim juga belum diputuskan, dan untuk sementara sambil menanti persidangan yang akan datang pada tanggal 22 Agustus 2017,Terdakwa RPS tetap harus ditahan di penjara Tai Lam Centre For Women.

Rabu, 09 Agustus 2017

Imigrasi Hong Kong Ciduk MA Sedang Berjualan di Taman Victoria

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial MA  (44 tahun asal Ngawi)  telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 9 Agustus 2017 bertempat di Pengadilan Shatin lantai 6 court 7.
Terdakwa MA datang ke Hong Kong pada tahun 2000 dan bekerja sebagai domestic helper  sehingga sampai dengan saat ini yang bersangkutan telah bekerja selama 17  tahun dimana majikan yang  terakhir berlokasi di daerah Sau Kei Wan.
Pada tanggal 25 Juni 2017 saat menikmati hari libur,  Terdakwa MA   telah ditangkap oleh Petugas Imigrasi di daerah Victoria Park dengan tuduhan bahwa Terdakwa MA telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu bahwa yang bersangkutan telah berjualan minuman botol di taman Victoria Park tanpa izin yang sah mengingat Terdakwa MA  diizinkan berada di Hong Kong hanya untuk bekerja sebagai domestik helper, sehingga Terdakwa MA kemudian dibawa ke Kantor Imigrasi Kowloon Bay untuk diperiksa dan di interview. Selanjutnya Petugas Imigrasi mengizinkan Terdakwa MA untuk bail out dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 100 (seratus Hong Kong dollar) sampai tiba hari persidangannya.
Adapun hasil persidangan pada hari ini telah dibacakan dakwaan terhadap Terdakwa MA  yang telah melanggar Peraturan Keimigrasian  di Hong Kong yaitu telah berjualan tanpa izin yang sah dari Pemerintah Hong Kong, namun Terdakwa  MA tidak mengakui bersalah sehingga Hakim memutuskan untuk menunda persidangan perkara atas nama Terdakwa MA sampai dengan tanggal 26 Oktober 2017.

Karena Berjualan, SR Diadili

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial SR (40 tahun asal Malang) telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal  9 Agustus  2017 bertempat di Shatin  Court lantai 3 court 1.
Terdakwa SR  datang ke Hong Kong pada  tahun 1997 untuk bekerja sebagai domestic helper dan telah berganti majikan beberapa kali dimana majikan yang terakhir berlokasi di daerah Tsuen Wan dan telah bekerja selama 6 tahun sampai dengan sekarang ini.
Pada tahun 2003, saat  Terdakwa SR  sedang menikmati hari libur pernah ditangkap oleh Petugas Imigrasi  di daerah Victoria Park dengan tuduhan bahwa Terdakwa telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu Terdakwa SR telah berjualan di taman Victoria Park secara tidak sah mengingat Terdakwa SR  diizinkan berada di Hong Kong hanya untuk bekerja sebagai domestik helper, sehingga Terdakwa SR  kemudian diputuskan oleh Pengadilan dinyatakan bersalah dan harus membayar denda sebesar HKD 200 (dua ratus hongkong dollar).
Selanjutnya dengan adanya kasus tersebut maka setiap 2 tahun ketika Terdakwa SR hendak memperpanjang visa kerjanya dengan majikan (renew kontrak), yang bersangkutan juga diwajibkan untuk membuat surat pernyataan bahwa dirinya tidak akan pernah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong dengan berjualan tanpa izin yang sah dari Pemerintah Hong Kong.
Pada tanggal 29 April 2017, menurut pengakuan Terdakwa SR bahwa dirinya saat itu bermaksud untuk  membeli makanan dari seorang penjaja yang berjualan secara ilegal di daerah Tsuen Wan, namun saat Terdakwa SR  sedang melakukan transaksi jual beli makanan ringan dan tanpa disadari disana hadir Petugas Imigrasi Hong Kong yang sedang melakukan pemeriksaan rutin dan kejadian tersebut di foto oleh petugas dan dijadikan sebagai barang bukti untuk menuntut Terdakwa SR  bahwa dirinya telah melanggar Peraturan Keimigrasian di Hong Kong. Pada hari yang sama Terdakwa SR dibawa ke kantor polisi di Tsuen Wan untuk di interview dan Terdakwa SR diizinkan untuk bail out dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 300 (tiga ratus Hong Kong dollar) sambil menunggu hari persidangannya.
Hasil Persidangan pada hari ini telah dibacakan dakwaan terhadap Terdakwa SR  yaitu telah melanggar Peraturan Keimigrasian untuk kedua kalinya di Hong Kong karena yang bersangkutan tertangkap sedang berjualan tanpa izin yang sah dari Pemerintah Hong Kong. Atas dakwaan tersebut Terdakwa  SR tidak mengaku bersalah sehingga Hakim kemudian memutuskan untuk menunda persidangan perkara atas nama Terdakwa SR sampai dengan tanggal 1 September 2017 dan selama menunggu persidangan yang akan  datang Terdakwa SR tetap diizinkan untuk bail out dan menunggu di rumah majikannya yang sekarang dimana Terdakwa SR bekerja.


YUL Ditangkap Petugas Imigrasi Ketika Sedang Berjualan Saat Libur

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial YUL  (37 tahun asal Surabaya) telah dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 10 Agustus 2017 bertempat di Shatin Court lantai 3  court 1.
Terdakwa YUL  datang ke Hong Kong pada  tanggal 9 Januari 2015   dan bekerja sebagai domestic helper  dimana sampai dengan saat ini yang bersangkutan masih bekerja dengan majikan yang sama yang  berlokasi di daerah Tuen Mun.
Pada tanggal 15 Januari  2017 saat menikmati hari libur,  tiba-tiba Terdakwa YUL   ditangkap oleh Petugas Imigrasi di daerah Yuen Long  dengan tuduhan bahwa Terdakwa YUL telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu yang bersangkutan telah berjualan  makanan ringan  di depan Toko Bali  (toko Indonesia ) tanpa izin yang sah mengingat Terdakwa YUL  diizinkan berada di Hong Kong hanya untuk bekerja sebagai domestik helper, sehingga Terdakwa YUL  kemudian di bawa ke Kantor Imigrasi Kowloon Bay untuk diperiksa dan di interview.  Selanjutnya Petugas Imigrasi mengizinkan Terdakwa YUL untuk bail out dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 100 (seratus Hong Kong dollar)  sampai tiba hari persidangannya.
Adapun hasil persidangan pada hari ini telah dibacakan dakwaan terhadap Terdakwa YUL  yaitu telah melanggar Peraturan Keimigrasian  di Hong Kong dengan berjualan tanpa izin yang sah dari Pemerintah Hong Kong. Atan dakwaan tersebut Terdakwa  YUL tidak mengakui bersalah sehingga Hakim memutuskan untuk menunda persidangan perkara atas nama Terdakwa YUL sampai dengan tanggal 18  Oktober 2017.

Senin, 07 Agustus 2017

Sidang RPS Kasus Pelanggaran Keimigrasian Ditunda Lagi Hingga 24 Agustus 2017

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa RPS (29 tahun asal Kediri) telah dilaksanakan pada hari Senin tanggal  7 Agustus  2017 bertempat di Pengadilan Shatin lantai  3 court 1.
Terdakwa RPS datang ke Hong Kong pada tahun 2009 dan bekerja sebagai domestic helper dimana yang bersangkutan telah berganti beberapa kali majikan di Hong Kong dimana dengan majikan yang terakhir ternyata sebelum kontraknya habis Terdakwa RPS telah diputus kontraknya pada bulan Maret  2012.
Dengan diputusnya kontrak tersebut maka Terdakwa RPS  seharusnya telah meninggalkan Hong Kong karena sampai batas waktu yang ditentukan yang bersangkutan tidak juga mendapatkan majikan yang baru namun yang bersangkutan masih tetap berada di Hong Kong sampai akhirnya menjadi overstay selama  3 tahun.
Pada  tahun 2015  Terdakwa  RPS menyerahkan  diri  ke Kantor Imigrasi di Ma Tao Kok dan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap Terdakwa RPS, yang bersangkutan kemudian  mengajukan paper ke Imigrasi Hong Kong  dan permohonan papernya mendapatkan persetujuan dari Kantor Imigrasi Hong Kong sehingga Terdakwa RPS akhirnya  dibebaskan.
Pada tanggal 19 Juli 2017 Terdakwa RPS kembali ditangkap oleh petugas dan kemudian dilakukan interogasi  hingga akhirnya  pada tanggal 24 Juli 2017 Terdakwa RPS ditahan di penjara Tailam sampai dengan menunggu hari persidangannya dikarenakan yang bersangkutan telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong  yaitu surat keterangan paper yang telah diberikan kepada Terdakwa RPS telah berakhir dan Terdakwa wajib melaporkan diri serta mendaftarkan diri kembali untuk mengajukan paper yang baru namun hal tersebut tidak dilakukan oleh yang bersangkutan.
Dengan adanya pelanggaran tersebut maka kasus overstay yang telah ditunda karena papernya telah di setujui kemudian disidangkan kembali atas tuduhan bahwa Terdakwa RPS telah melanggar peraturan  Keimigrasian  di  Hong Kong  dengan  overstay selama  3 tahun.
Adapun hasil persidangan pada hari ini yaitu Jaksa Penuntut Umum menyatakan bahwa sampai dengan saat ini  pihaknya belum menerima persetujuan dari Imigrasi Hong Kong terkait dengan  permohonan pengajuan banding dari Terdakwa RPS untuk mendapatkan kembali status paper-nya. Disamping itu pada hari ini Terdakwa RPS juga mengajukan permohonan bail out kepada Hakim, namun  Hakim belum memutuskan terkait permohonan bail out tersebut. Selanjutnya Hakim menyatakan menunda  persidangan perkara atas nama Terdakwa RPS ini sampai dengan tanggal 15 Agustus 2017.


Majikan Saya Lansia, Pikun dan Suka Marah, Bagaimana Saya Harus Bersikap?


PERTANYAAN  :
Assalamu'alaikum, Pak Sri Kuncoro.
Nama saya NN, saya bekerja di Hong Kong belum ada satu tahun dan Majikan saya kebetulan adalah seorang lansia yang sudah pikun. Bulan lalu, Majikan saya tersebut menuduh saya telah mencuri barangnya sehingga dari pagi hingga malam saya disuruh berdiri dan tidak diberi makan serta hanya mendengarkan majikan marah-marah. Disamping itu pada saat kejadian Majikan juga mengancam akan memulangkan saya keesokan harinya namun setelah itu majikan lupa lagi apa yang sudah dilakukan terhadap saya.
Atas kejadian tersebut sebenarnya ada keinginan saya untuk break kontrak, tapi saya juga tidak tega meninggalkan majikan yang sudah lansia.
Apabila kejadian itu terjadi lagi, bagaimana saya harus bersikap dan  kemana saya harus melapor pada saat kejadian seperti itu sehingga bisa langsung menolong saya ?

JAWABAN  :
Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sebelumnya kami mengucapkan terimakasih atas pertanyaan yang disampaikan kepada kami melalui Rubrik Konsultasi Hukum ini. Selanjutnya terkait permasalahan yang disampaikan tersebut dapat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut  :
1.              Sebagaimana yang Mbak NN sampaikan bahwa Majikannya adalah seorang Lansia yang sudah pikun maka kejadian yang disampaikan tersebut disatu sisi memang cukup memprihatinkan namun disisi lain juga perlu untuk kita maklumi sepanjang kejadian seperti itu tidak terulang kembali dikemudian hari ;
2.             Selanjutnya apabila kejadian seperti tersebut ternyata terjadi lagi maka kami menyarankan agar Mbak NN dapat bersikap sebagai berikut  :
(a)         Mbak NN harus berani menyampaikan kepada Majikan apa buktinya kalo Mbak NN dituduh mencuri barang milik Majikan ;
(b)         Mbak NN segera melaporkan kejadian tersebut ke pihak Agen karena sesuai dengan Keputusan Kepala Perwakilan RI Nomor : 007/II/2017 Tentang Kode Etik Agen Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong yang mulai berlaku efektif pada tanggal 1 Maret 2017 ini telah diatur mengenai kewajiban Agen sebagai berikut  :
Agen wajib memantau, membantu, mendampingi dan memfasilitasi TKI yang ditempatkan serta berkoordinasi dengan KJRI Hong Kong, dalam hal TKI yang bersangkutan mengalami permasalahan selama berada di wilayah Hong Kong terkait permasalahan pidana, perdata, ketenagakerjaan, dan keimigrasian. Bantuan Agen kepada TKI tersebut diberikan dalam bentuk (1) pendampingan bagi TKI dalam melakukan pelaporan kepada otoritas terkait di Hong Kong, (2) pendampingan bagi TKI dalam melakukan mediasi permasalahan dengan pihak terkait, dan (3) kegiatan fasilitasi lain yang mendukung penyelesaian permasalahan TKI tersebut

(c)          Setelah Mbak NN melaporkan kejadian tersebut ke pihak Agen namun apabila ternyata pihak Agen tidak memberikan bantuan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan Majikan maka Mbak NN dapat menyampaikan laporan kepada pihak KJRI Hong Kong dengan datang secara langsung ke Bagian Pengaduan atau melalui telepon ke nomor +852 68942799 dan +852 67730466.


3.             Dapat kami sampaikan juga bahwa apabila Majikan sampai melakukan kekerasan fisik  seperti memukul, menampar, dll maka pada kesempatan pertama Mbak NN harus segera melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi yang terdekat. Namun apabila tidak memungkinkan untuk meninggalkan tempat karena berbagai alasan maka Mbak NN dapat menghubungi nomor darurat di Hong Kong melalui telepon untuk meminta bantuan atau pertolongan yaitu ke nomor 999 ; 
Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI HongKong