Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI Hong Kong

Jumat, 20 April 2018

Bekerja di Alamat Berbeda dengan Kontrak Kerja, PMI Terancam Dipidana Penjara


Persidangan atas warga negara Indonesia berjenis kelamin laki-laki dengan insial DY  (35 tahun, kelahiran  Cilacap)  telah dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 20 April 2018 bertempat di Shatin Court lantai  3 court 2.

Terdakwa DY  datang ke Hong Kong pada tahun 2013 untuk bekerja sebagai penjaga rumah majikan, tukang kebun dan memelihara anjing dan kucing peliharaan majikan di rumah majikan  yang berlokasi di daerah  Sai Kung. Selain DY , masih terdapat sepasang suami istri berkewarganegaraan Filipina yang bekerja di rumah majikannya itu,  Pada tanggal 17 April 2018 Terdakwa DY,  laki-laki warga negara Filipina yang bekerja dan Majikan laki- laki (UYS)  dari Terdakwa DY ditangkap oleh Petugas Imigrasi dengan tuduhan bahwa  kedua Terdakwa pekerja telah bekerja serabutan , dan juga majikan yang memperkerjakan Terdakwa DY  pun ditangkap bersamaan, mereka ditangkap di bawa ke kantor polisi di daerah Sai Kung dan ditahan selama 2 x 24 jam  kemudian  diajukan kepersidangan pada hari ini. 

Terdakwa DY  di dalam kontrak kerjanya terdaftar bahwa yang menjadi majikan adalah majikan laki-laki  ( UYS ), namun Terdakwa DY bekerja sehari harinya di alamat rumah yang berbeda dengan alamat pada kontrak kerjanya, sebab menurut pengakuannya alamat rumah tersebut masih milik dari majikan laki-laki. Persidangan pada hari ini Pengacara mengajukan bail out untuk majikan laki-laki dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 2.000 (dua ribu hongkong dollar), dan Hakim menyetujui sehingga Terdakwa majikan laki-laki ( UYS) bisa pulang untuk menunggu persidangan berikutnya pada tanggal 25 Mei 2018, namun pada waktu pengacara mengajukan bail out untuk 
Terdakwa DY dan laki-laki berkewarganegaraan Filipina dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 500 (lima ratus hongkong dollar) untuk setiap orangnya, Jaksa Penuntut Umum menolak sebab Jaksa Penuntut Umum tidak mempercayai mereka dan menduga bahwa keduanya akan kabur dan tidak akan kembali ke persidangan yang akan datang, sehingga Hakim memutuskan bahwa  permohonan bail out untuk Terdakwa DY dan laki-laki pilipin ditolak oleh Hakim, namun Hakim masih tetap akan mempertimbangkan permohonan bail out  pada sidang yang akan ditunda sampai dengan tanggal 27 April 2018. 

Hasil persidangan pada hari ini , hanya dibacakan saja tuduhan terhadap mereka bahwa Kedua Terdakwa telah melakukan pelanggaran keimigrasian di Hong Kong, dengan bekerja serabutan pada alamat yang berbeda dengan alamat yang tercantum pada kontrak kerjanya.

Kamis, 19 April 2018

PMI Menang Sidang dan Batal Dipenjara setelah Dituduh Bekerja di Toko Majikan


Persidangan lanjutan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa WNS (41 tahun, kelahiran Malang),  telah dilaksanakan pada hari Rabu  tanggal 18 April 2018 bertempat di Shatin Court lantai  3 court 2.


Agenda persidangan kali ini adalah pembacaan putusan dari Hakim setelah dalam persidangan sebelumnya yang dilaksanakan pada tanggal 10 dan 11 April telah dilakukan pemeriksaan terhadap para saksi, terdakwa maupun saksi yang meringankan dari pihak Terdakwa.
 

Sebagaimana telah disampaikan dalam laporan sebelumnya, Terdakwa WNS diajukan ke persidangan setelah yang bersangkutan ditangkap oleh petugas gabungan dari Departemen Tenaga Kerja dan Departemen Imigrasi Hong Kong pada tanggal 19 Oktober 2017 pada saat sedang berada di sebuah toko milik kakak majikannya yang letaknya tidak jauh dari rumah majikan. Terdakwa WNS pada saat itu ditangkap dengan tuduhan telah melakukan pelanggaran ijin tinggal karena bekerja di tempat yang tidak sesuai dengan kontrak kerjanya.

Bahwa setelah mempertimbangkan seluruh keterangan yang disampaikan oleh para saksi, terdakwa maupun saksi meringankan serta seluruh barang bukti yang diajukan di persidangan maka Hakim memutuskan bahwa Terdakwa WNS dinyatakan tidak terbukti bersalah melakukan pelanggaran ijin tinggal di Hong Kong sehingga oleh karenanya yang bersangkutan DIBEBASKAN dari segala tuntutan. 


Salah satu pertimbangan utama dari Hakim yang membebaskan Terdakwa WNS yaitu bahwa yang bersangkutan tidak cukup bukti dinyatakan telah bekerja di toko tempat dimana dia ditangkap mengingat semua karyawan yang bekerja di toko tersebut menggunakan baju seragam dan sepatu boot sedangkan Terdakwa WNS pada saat ditangkap hanya mengenakan baju biasa dan memakai sandal.

Minggu, 15 April 2018

Diskusi Hukum “Mengenal Kejahatan Seksual" Bagi Pekerja Migran Indonesia di Macau


Sekitar tiga puluh Pekerja Migran Indonesia di Macau berkumpul di Gedung Edificio Riviera Macau, Minggu, 15 April 2018. Mereka dengan seksama menyimak Diskusi Hukum dengan tema “Mengenal Kejahatan Seksual”. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Biro Hukum Pemerintah Macau bekerjasama dengan Organisasi CARITAS Macau. Pada kesempatan tersebut turut hadir juga Konsul Kejaksaan pada KJRI Hong Kong.
Narasumber dalam acara diskusi tersebut adalah Mr. CHEONG WENG HANG dari Biro Hukum Pemerintah Macau. Pada kesempatan tersebut narasumber menyampaikan beberapa ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan Macau terkait dengan kejahatan seksual yang pada pokoknya sebagai berikut  :
  • Berdasarkan peraturan perundang-undangan di Macau Kejahatan Seksual meliputi 3 hal yaitu Perkosaan, Paksaan Seksual dan Pelecehan Seksual terhadap anak-anak yang masing-masing mempunyai ancaman pidana tersendiri bagi para pelaku kejahatan tersebut ;
  • Terkait kejahatan seksual tersebut terhadap pelaku dapat diberikan hukuman yang diperberat apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut  :
  1. Pelaku dan korban punya hubungan khusus misalnya orang tua dengan anak-anaknya, kakak adik, atasan bawahan, dll ;
  2. Korban belum genap berusia 16 tahun, tak berdaya, lemah karena sakit cacat jasmani atau jiwanya;
  3. Pelaku mengidap penyakit yang menular dengan hubungan seksual ;
  4. Perkosaan atau perbuatan seksual lain dilakukan oleh 2 orang atau lebih secara langsung dan bersama-sama ;
  5. Menggunakan orang belum dewasa turut serta dalam pertunjukan atau produksi rekaman cabul;
  6. Memproduski, mengimpor, menjual atau mengedarkan  rekaman cabul;
  7. Memiliki rekaman cabul dengan tujuan seperti tersebut di atas.
  • Adanya perubahan peraturan yang dulunya mewajibkan korban kejahatan seksual yang akan melaporkan kasusnya ke pihak kepolisian harus didampingi oleh pengacara sedangkan sekarang siapa saja yang menjadi korban kejahatn seksual dapat langsung melaporkan kasusnya kepada pihak kepolisian tanpa harus didampingi pengacara.
Para Pekerja Migran Indonesia yang hadir dalam acara diskusi tersebut memberikan apresiasi atas diselenggarakannya kegiatan ini karena mereka dapat memperoleh tambahan pengetahuan dan wawasan terkait peraturan yang berlaku di Macau khususnya mengenai bagaimana langkah-langkah yang harus mereka lakukan apabila menjadi korban kejahatan seksual.​
 Baca artikel aslinya di sini

Komitmen Diaspora Indonesia di Macau Untuk Selalu Dukung Kegiatan KJRI



Perwakilan Diaspora Indonesia di Macau yang tergabung dalam Indonesian Returned Overseas Chinese Association Macau, telah bertemu dengan Konjen RI, Tri Tharyat di Portas do Sol Restaurant Hotel Lisboa Macau, Sabtu, 14 April  2018. 

Konjen Tri yang didampingi oleh Konsul Kejaksaan, Konsul Bea Cukai dan Konsul Perdagangan menyampaikan beberapa hal terkait program kerja yang akan dilaksanakan oleh KJRI Hong Kong, khususnya dalam memberikan pelayanan dan perlindungan kepada seluruh Warga Negara Indonesia yang berada di Hong Kong maupun Macau. “Harapan ke depan, agar hubungan antara KJRI dengan Diaspora Indonesia yang ada di Macau dapat terus terjalin erat, dan apabila dimungkinkan dapat membangun sebuah sinergi dalam pelaksanaan beberapa kegiatan di Macau”, ujar Konjen menambahkan.

Diaspora Indonesia di Macau yang diwakili oleh​ Mr. Johny Sitou dan Ms. Lau, menyampaikan apresiasi terkait pertemuan yang diselenggarakan tersebut. “Kami berkomitmen untuk terus dapat menjalin hubungan yang erat dengan pihak KJRI, dan berharap untuk dapat berperan serta aktif dalam kegiatan-kegiatan KJRI khususnya yang dilaksanakan di Macau”, demikian disampaikan oleh Johny Sitou.
 Baca berita aslinya di sini

Jumat, 13 April 2018

Tertangkap Bekerja di Restoran, 2 PMI Overstayer Ex Narapidana Kembali Dibui


Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa YM dan Terdakwa RT telah dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 13 April 2018  bertempat di Shatin Court  lantai  3 court 1 ;

Terdakwa YM dan Terdakwa RT diajukan ke depan persidangan dengan tiga tuduhan, yaitu pelanggaran izin tinggal, penggunaan identitas palsu, bekerja secara ilegal ;

Terdakwa YM dan Terdakwa RT datang ke Hong Kong pertama kali untuk bekerja sebagai domestic helper pada tahun 2010. Namun sebelum kontrak kerjanya selesai keduanya telah diputus kontraknya oleh  majikan mereka masing-masing ;

Dengan telah diputusnya kontrak tersebut maka mereka seharusnya hanya mempunyai batas waktu tinggal di Hong Kong selama 14 hari untuk mencari majikan yang baru. Namun sampai batas waktu yang ditentukan yang bersangkutan belum juga mendapatkan majikan yang baru dan masih tetap berada di Hong Kong hingga akhirnya  Terdakwa YM dan RT menjadi overstay di Hong Kong dan sempat beberapa kali ditangkap dan keluar masuk penjara karena terus melanggar izin tinggal dengan tidak juga pulang ke Indonesia ;

Pada tanggal 10 April 2018, kedua Terdakwa kembali ditangkap petugas imigrasi saat sedang bekerja di sebuah restoran di daerah Jordan. Pada saat itu Terdakwa YM sedang melayani tamu, sementara Terdakwa RT sedang mencuci piring. Saat tertangkap keduanya menggunakan celemek layaknya seorang pelayan ;

Berdasarkan hasil interogasi dan barang bukti, diketahui bahwa kedua Terdakwa juga menggunakan kartu identitas Hong Kong palsu saat melamar pekerjaan di restoran tersebut ;

Di akhir persidangan, mengingat Terdakwa YM dan Terdakwa RT mengakui segala tuduhan yang didakwakan pada mereka, maka Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa YM dan Terdakwa RT dinyatakan bersalah dan oleh karenanya yang bersangkutan dijatuhi pidana penjara selama 15 bulan.

Kamis, 12 April 2018

BMI Menyerahkan Diri Setelah Hampir 2 Tahun Overstay



Tanggal 12 April 2018 telah dilaksanakan Persidangan Warga Negara Indonesia atas  Terdakwa HS  (37 tahun, kelahiran Sukabumi ),  bertempat di Shatin  Court  lantai  3 court 1. 

Terdakwa HS datang ke Hong Kong pertama kali pada  bulan Oktober tahun 2009  untuk bekerja sebagai domestic helper  dan bekerja dengan majikan yang berlokasi di daerah  Yau Ma Tei. Namun  pada bulan Desember  tahun 2010  majikan Terdakwa HS telah memutuskan kontrak kerja dengan Terdakwa HS namun karena  Terdakwa HS  masih berkeinginan untuk bekerja di Hong Kong  maka yang bersangkutan masih tetap berada di Hong Kong sehingga akhirnya menjadi overstay selama hampir 2 tahun.  
Pada bulan Desember  tahun 2012  Terdakwa HS  datang untuk menyerahkan diri ke Kantor Imigrasi Kowloon Bay, kemudian Terdakwa HS  diinterogasi dan diminta keterangan lebih lanjut. Setelah selesai pemeriksaan, Terdakwa HS diizinkan untuk bail out dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 100 (seratus Hong Kong dollar) dan Terdakwa HS diminta untuk menghadiri persidangan yang telah ditentukan oleh Imigrasi Hong Kong. 

Terdakwa HS telah mengakui kesalahannya bahwa dirinya telah melakukan pelanggaran Keimigrasian di Hong Kong, dan selanjutnya Terdakwa HS mengajukan paper kepada Imigrasi Hong Kong. Hasil Persidangan pada hari ini, mengingat Terdakwa HS dengan kesadaran sendiri telah menyerahkan diri dan mengajui kesalahannya maka Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa HS dinyatakan bersalah dan oleh karenanya yang bersangkutan dijatuhi pidana penjara selama 16 hari dengan masa percobaan selama 12 bulan. 

Dengan putusan tersebut maka Terdakwa HS tidak perlu menjalani hukuman penjara namun dalam jangka waktu 12 bulan apabila yang bersangkutan melakukan pelanggaran lagi maka akan diberikan hukuman atas pelanggaran yang baru tersebut serta ditambah dengan hukuman yang ditunda selama masa percobaan

Selasa, 10 April 2018

BMI Overstayer Tertangkap Bekerja secara Ilegal di Restoran

Persidangan Warga Negara Indonesia atas Terdakwa berinisial WS telah dilaksanakan pada hari  Senin tanggal 9 April 2018 bertempat di Shatin Court lantai  3 court 1 ;

Terdakwa WS datang ke Hong Kong pada tanggal 6 Mei 2013  untuk bekerja sebagai domestic helper dimana yang bersangkutan setelah bekerja selama 3 bulan kemudian telah diputus kontrak oleh majikannya pada bulan Agustus 2013  ;

 Dengan diputusnya kontrak tersebut maka Terdakwa WS  hanya mempunyai batas waktu tinggal di Hong Kong selama 14 hari untuk mencari majikan yang baru. Namun karena sampai batas waktu yang ditentukan tersebut yang bersangkutan belum juga mendapatkan majikan yang baru dan masih tetap berada di Hong Kong, hingga akhirnya Terdakwa WS menjadi overstay  di Hong Kong selama 4 tahun 7 bulan ;

Terdakwa WS ditangkap oleh petugas Kepolisian yang sedang melakukan patroli pada tanggal 5 April 2018 ketika yang bersangkutan sedang bekerja di sebuah restaurant di daerah Sheung Wan dengan masih menggunakan seragam dan tanda pengenal pegawai restaurant tersebut. Pada saat ditangkap tersebut Terdakwa WS kemudian diminta menunjukkan kartu identitasnya sehingga akhirnya yang bersangkutan diketahui telah berstatus overstay dan kasusnya kemudian dilimpahkan ke Kantor Imigrasi Hong Kong.

Adapun hasil persidangan pada hari ini, telah dibacakan dakwaan atas pelanggaran yang dilakukan oleh Terdakwa WS yaitu melakukan pelanggaran ijin tinggal dengan overstay selama 4 tahun 7 bulan dan bekerja di Hong Kong secara ilegal. Terhadap dakwaan tersebut Terdakwa WS telah mengakui kesalahannya sehingga Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa WS dinyatakan bersalah telah melanggar peraturan keimigrasian di Hong Kong sehingga oleh karenanya yang bersangkutan dijatuhi hukuman dengan pidana penjara selama 18 minggu.

Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI HongKong