Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI Hong Kong

Kamis, 23 November 2017

Sidang SA Mundur Lagi Karena Jaksa Penuntut Umum Belum Menerima Hasil Pemeriksaan Dokter

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial SA (44 tahun asal Blora) telah dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 23 November 2017 bertempat di Pengadilan Tuen Mun lantai 3 ruang sidang 1.
Terdakwa SA datang ke Hong Kong pada  tanggal 13 Februari 2014  dan bekerja sebagai domestic helper dimana setelah kontraknya habis Terdakwa SA kemudian memperpanjang kontrak dengan majikannya yang sama dan bekerja hingga saat ini.
Pada tanggal  11 Juli 2017 tiba-tiba beberapa orang polisi datang ke rumah majikan untuk menangkap Terdakwa SA dengan tuduhan bahwa Terdakwa SA telah melakukan penganiayaan terhadap bayi majikan yang dirawatnya yang berusia 2 bulan.
Terdakwa SA pada hari yang sama kemudian di bawa ke Kantor  Polisi untuk diinterview dan diinterogasi guna mendapatkan informasi yang lebih jelas dimana pada kesempatan tersebut Terdakwa SITI  AMINAH menjelaskan bahwa pada tanggal 2 Juli 2017  saat Terdakwa SA meninggalkan  bayi yang berusia 2 bulan itu sedang tertidur di tempat tidurnya, yang bersangkutan tidak mengetahui jika kakak dari bayi yang berusia 2 bulan itu datang menghampiri bayi  tersebut dan ketika Terdakwa SA kembali ke kamar tidur bayi ternyata bayi yang dirawatnya tersebut sudah jatuh dilantai dan dalam kondisi sedang menangis.
Adapun hasil persidangan pada hari ini  Jaksa Penuntut Umum menyatakan bahwa bayi yang berusia 2 bulan itu di periksa oleh 3 orang dokter dan sampai dengan saat ini masih belum didapatkan kesepakatan dari ketiga orang dokter tersebut terkait dengan  hasil laporan pemeriksaan kepala bayi yang ditemukan terdapat 4 luka pada bagian tengkorak bayi tersebut. Selanjutnya Jaksa Penuntut Umum memohon kepada Hakim untuk menunda persidangan perkara atas nama Terdakwa SA mengingat Jaksa Penuntut Umum belum mendapatkan jawaban dari hasil pemeriksaan dari ke-3 dokter yang memeriksa bayi tersebut dan oleh karenanya  Hakim kemudian memutuskan untuk menunda persidangan perkara atas nama Terdakwa SA  sampai dengan tanggal 21 Desember 2017, dan selama menanti persidangan tersebut Terdakwa SA tetap akan berada dalam tahanan di penjara Tai Lam Centre for Women. 


RTL Masuk Bui Karena Overstay

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial RTL (51 tahun asal Banjarmasin) telah dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 23  November 2017 bertempat di Pengadilan Sha Tin lantai 3 ruang sidang 1.
Terdakwa RTL datang ke Hong Kong pada tahun 2007 untuk bekerja sebagai domestic helper  dan telah bekerja dengan  beberapa majikan di  Hong Kong, dimana majikan terakhirnya berlokasi di daerah Tsuen Wan.
Pada tanggal 25 November 2014 Terdakwa RTL telah diputus kontrak oleh majikannya. Dengan diputus kontrak kerjanya tersebut maka  Terdakwa RTL  hanya di izinkan tinggal di Hong Kong selama 2 minggu untuk mendapatkan majikan yang baru, namun karena Terdakwa RTL   masih belum juga mendapatkan majikan baru dan masih tetap berada  di Hong Kong meskipun visanya telah berakhir dengan alasan karena kondisi badan yang sakit dan majikannya yang terakhir tidak membelikan tiket untuknya maka Terdakwa RTL  akhirnya menjadi overstay selama 2 tahun 10 bulan.
Pada tanggal 3 November 2017 Terdakwa RTL datang untuk menyerahkan diri ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay sebab Terdakwa RTL berkeinginan untuk pulang ke tanah air. Kemudian setelah Terdakwa RTL diinterview, Terdakwa RTL  diizinkan untuk bail out dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 30 (tiga puluh Hong Kong dollar)  dan yang bersangkutan diminta untuk menghadiri persidangan yang akan  ditentukan oleh petugas Imigrasi di Kowloon Bay.
Pada persidangan hari ini Terdakwa RTL mengakui perbuatannya bahwa dirinya telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah overstay selama 2 tahun 10 bulan sehingga Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa RTL dinyatakan bersalah dan oleh karenanya  yang bersangkutan dijatuhi  hukuman dengan pidana penjara selama 6  minggu.  

Persidangan WNI Terkait Kasus Dokumen Palsu

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial MLD (24 tahun asal Tegal) telah dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 23 November 2017 bertempat di Pengadilan Sha Tin lantai 3 ruang sidang 2.
Terdakwa MLD awalnya datang ke Hong Kong beserta dengan kekasihnya (pria warga negara China yang bekerja sebagai TKA di Jakarta) pada tanggal 3 November 2017 sebagai turis dengan maksud untuk membuat Paspor di Kantor Imigrasi Hong Kong.
Terdakwa MLD pada tanggal 21 November 2017 telah datang ke Kantor Imigrasi Wan Chai untuk membuat Paspor Hong Kong dan diketahui bahwa dokumen yang merupakan syarat membuat Paspor yang dimilikinya tersebut ternyata palsu dan Terdakwa mengakui di depan petugas Imigrasi Hong Kong sehingga Petugas Imigrasi kemudian memintanya untuk datang ke Imigrasi di Kowloon Bay guna diinterview dan Terdakwa MLD diizinkan untuk bail out dengan  membayar uang jaminan sebesar HKD 100 (seratus Hong Kong dollar) dan diminta untuk menunggu sampai dengan hari persidangannya.
Pada tanggal 22 November 2015 Terdakwa MLD datang ke KJRI Hong Kong untuk konsultasi sekaligus meminta perlindungan hukum terkait  dengan dokumen Akte Kelahiran Hong Kong dan HKID yang palsu yang dimiliki oleh Terdakwa MLD. Terdakwa MLD telah didakwa dengan 6 dakwaan yaitu :
  1. Terdakwa MLD telah menggunakan paspor dengan data yang palsu pada tanggal 23 September 2017
  2. Terdakwa MLD telah menggunakannya dan mengakuinya bahwa paspor tersebut adalah miliknya pada tanggal 23 September 2017
  3. Terdakwa MLD  telah menggunakan paspor dengan data yang palsu pada tanggal 3 November 2017
  4. Terdakwa MLD telah menggunakan dan mengakuinya bahwa paspor tersebut adalah miliknya pada tanggal 3 November 2017
  5. Terdakwa MLD telah memiliki HKID palsu
  6. Terdakwa MLD telah memiliki Akte Kelahiran Hong Kong palsu
Terdakwa MLD menuturkan kisahnya bahwa dokumen tersebut belum pernah digunakan sebelumnya hanya karena desakan dari kekasihnya orang China tersebut yang meminta Terdakwa MLD untuk membuat Paspor Hong Kong dimana kekasihnya tersebut memiliki suatu tujuan tertentu. Saat ini Terdakwa sedang dalam keadaan hamil 7 bulan dan tidak memiliki tempat tinggal mengingat kekasihnya tersebut telah meninggalkan dirinya setelah mengetahui bahwa dokumen yang dimiliki oleh Terdakwa MLD palsu dan Terdakwa MLD juga memohon agar kiranya dapat diijinkan untuk tinggal di shelter KJRI Hong Kong.
Pada persidangan hari ini hanya dibacakan dakwaan terhadap Terdakwa MLD dikarenakan Jaksa Penuntut Umum masih belum menerima dokumen terkait dengan perkara atas nama Terdakwa MLD dan Hakim selanjutnya memutuskan untuk menunda persidangan perkara atas nama MLD sampai dengan tanggal 21 Desember 2017.


Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI HongKong