Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI Hong Kong

Jumat, 22 April 2016

SNM Akhirnya Divonis 10 Bulan Penjara

Persidangan lanjutan WNI atas Terdakwa SNM dengan nomor kasus DCCC 138/2016  telah dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 22 April 2016 bertempat di District Court.
Terdakwa SNM didakwa telah melakukan pencurian dan penipuan kartu kredit Visa Card milik majikannya serta melakukan transaksi berulang kali dalam satu hari dengan jumlah total keseluruhan sebesar HKD 967,80 (sembilan ratus enam puluh tujuh delapan puluh sen Hong Kong dollar).
Dalam pertimbangannya, Hakim menjabarkan hal-hal yang meringankan Terdakwa yang diantaranya adalah:
Terdakwa SNM tidak memiliki catatan kriminal selama berada di Hong Kong;
Terdakwa SNM bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Terdakwa SNM memiliki 3 (tiga) orang anak yang tinggal di Indonesia, sementara suami Terdakwa SNM telah meninggal dunia pada tahun 2009;
Ayah dari Terdakwa SNM (86 tahun) mengalami stroke;
Terdakwa SNM telah menyelesaikan kontrak dengan baik dan tanpa cacat ;
Terdakwa SNM telah memiliki pengalaman yang cukup sebagai Domestice Helper, yakni Terdakwa SNM pernah bekerja di Malaysia, Singapura dan terakhir di Hong Kong;
Terkait dengan hal tersebut, Hakim juga memberikan pertimbangan yang memberatkan Terdakwa SNM, yaitu perbuatan Terdakwa SNM memiliki implikasi yakni menurunnya tingkat kepercayaan majikan atas Terdakwa SNM, sementara Terdakwa SNM masih tinggal dengan majikannya.
Dengan mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan tersebut, Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa SNM bersalah dan oleh karenanya menjatuhkan pidana penjara kepada yang bersangkutan selama 10 (sepuluh) bulan.

Lagi-lagi... WNI Terjerat Jaringan Narkotika sehingga harus Mendekam di Penjara

Persidangan Warga Negara Indonesia atas Terdakwa FT (Kelahiran Wonosobo, 28 tahun) pada hari Jum’at, tanggal 22 April 2016 dengan nomor kasus TWCC 2453/2015 di Eastern Court.
Terdakwa FT pertama kali datang ke Hong Kong pada bulan Juli 2013. Setelah setahun bekerja dengan majikan (sekitar tahun 2014), Terdakwa FT kemudian di interminate karena majikan mengetahui paspornya digadaikan untuk meminjam uang sebesar HKD 32.000 (tiga puluh dua ribu dollar Hong Kong). Pada bulan Maret 2015, Terdakwa FT mengajukan paper kepada kantor Imigrasi.
Pada suatu waktu Terdakwa FT berkenalan dengan JOSEPH EGBO (warga Negara Brazil) melalui sebuah media sosial. Setelah kenal dekat, JOSEPH EGBO menghubungi Terdakwa FT dan menyampaikan bahwa yang bersangkutan hendak mengirimkan hadiah ulang tahun kepada Terdakwa FT melalui kantor pos.
Pada tanggal 1 September 2015 sekitar pukul 14.30, Terdakwa FT mengambil paket tersebut ke kantor pos Kamtin Tuen Long. Setelah Terdakwa FT menerima kiriman tersebut, yang bersangkutan kemudian keluar dari kantor pos dan langsung ditangkap oleh Polisi Hong Kong.
Polisi Hong Kong kemudian menggeledah paket milik Terdakwa FT, dan menemukan kokain seberat 650 (enam ratus  lima puluh) gram dan setelah dicuci menjadi 454 (empat ratus lima puluh empat) gram.
Dalam persidangan tersebut, Penasehat Hukum Terdakwa mengajukan permohonan penundaan waktu sidang selama 6 (enam) minggu ke depan dan Hakim menyetujuinya dan menunda sidang sampai tanggal 3 Juni 2016 pukul 09.30.

Kamis, 21 April 2016

KJRI Hong Kong Kunjungi Tahanan WNI di Tai Lam

KJRI Hong Kong telah melakukan kunjungan ke penjara Tai Lam Correctional Institution dan Tai Lam Centre for Woman pada hari Kamis tanggal 21 April 2016.
Terdapat 3 (tiga) orang Warga Negara Indonesia laki-laki yang berstatus narapidana di Penjara Tai Lam Correctional Institution dan terdapat 20 orang Warga Negara Indonesia perempuan yang terdiri dari 5 orang berstatus tahanan dan 15 orang berstatus narapidana di Penjara  Tai Lam Centre For Woman.
KJRI Hong Kong pada kesempatan tersebut memberikan konsultasi kepada WNI terkait dengan permasalahan kasus pidana yang melibatkan para WNI, permasalahan ijin tinggal dan kepulangan ke Indonesia setelah menjalani masa hukuman. Selain itu juga melakukan pendataan ulang terhadap identitas para WNI yang saat ini berada di penjara.


FT Diadili karena Overstay

Pada hari Selasa tanggal 26 April 2016 KJRI Hong Kong melakukan pendampingan terkait persidangan Warga Negara Indonesia atas Terdakwa berinisial FT bertempat di Pengadilan Shatin dengan nomor kasus STCC 1453/2016. Terdakwa FT pada tanggal 21 April 2016 ditangkap oleh Polisi Hong Kong karena telah melakukan pelanggaran keimigrasian yakni telah melewati batas tinggal (overstay) di Hong Kong selama 20 bulan.
Terhadap dakwaan overstay tersebut, Terdakwa FT mengakui kesalahannya sehingga Hakim memutuskan untuk menjatuhkan hukuman kepada yang bersangkutan berupa hukuman penjara selama  2 bulan dengan masa percobaan 3 tahun. Dengan hukuman tersebut, maka Terdakwa FT tidak perlu menjalani hukuman penjara selama 2 bulan, dengan syarat yang bersangkutan tidak boleh melakukan pelanggaran hukum lagi selama 3 tahun. Apabila Terdakwa FT melakukan pelanggaran hukum lagi sebelum 3 tahun, maka yang bersangkutan harus menjalani hukuman penjara selama 2 bulan ditambah dengan hukuman untuk pelanggaran yang baru dilakukan.

Rabu, 20 April 2016

2 WNI yang Terlibat Narkotika Dihukum 13 Tahun dan 20 Tahun

Persidangan lanjutan Warga Negara Indonesia atas Terdakwa NN (Kelahiran Malang, 33 tahun) dan SGY (Kelahiran Banyuwangi, 35 tahun) digelar pada hari Rabu, tanggal 20 April 2016 dengan nomor kasus HCCC 35/2015 di High Court.
Bahwa Terdakwa SGY pertama kali datang ke Hong Kong pada tahun 2010, dan mulai overstay pada tahun 2014. Yang bersangkutan mempunyai kekasih warga negara India bernama Tanvir dan selama overstay terdakwa bekerja di salon di daerah Jordan. Setelah Tanvir pulang ke negaranya, teman Tanvir yang bernama Philip (orang Pakistan) menghubungi Terdakwa SGY dan menjanjikan sebuah pekerjaan untuknya dengan upah sebesar HKD 1.500 (seribu lima ratus dollar Hong Kong).
Sedangkan Terdakwa NN pertama kali datang ke Hong Kong pada tahun 2002 dan bekerja sebagai Domestic Helper sampai tahun 2009 selanjutnya yang bersangkutan overstay selama 5 (lima) tahun sampai ditangkap di Hong Kong saat bekerja di restaurant Thailand. Terdakwa NN juga mengenal Philip di bar dan Philip juga menjanjikan sebuah pekerjaan untuknya dengan upah sebesar HKD 1.000 (seribu dollar Hong Kong).
Pada tanggal 17 Juli 2014, Terdakwa SGY diminta oleh Philip untuk menghubungi Terdakwa NN dan menjemputnya di MTR Jordan untuk selanjutnya dibawa ke rumah Philip guna bertemu dengan seorang warga negara Bangladesh bernama Tapa untuk mengambil barang yang akan diserahkan kepada seseorang di Mong Kok.
Selanjutnya pada saat kedua Terdakwa akan memasuki MTR Jordan, keduanya ditangkap oleh polisi dengan sebuah kantong hitam yang berada di tangan Terdakwa SGY. Kedua Terdakwa kemudian dibawa ke kantor polisi Yau Ma Tei dan kantong plastik hitam tersebut setelah dibuka ternyata berisi 2 (dua) kg kokain dan setelah dicuci menjadi 725 (tujuh ratus dua puluh lima) gram kokain.
Agenda persidangan tersebut adalah Putusan Hakim terhadap kedua Terdakwa. Pada saat jalannya persidangan, Tim Penasehat Hukum dari kedua Terdakwa memberikan penjelasan terkait hal-hal yang meringankan kedua Terdakwa. 

Terdakwa SGY:
  1. Terdakwa tidak memiliki catatan kriminal selama berada di Hong Kong;
  2. Terdakwa telah menikah dan memiliki seorang anak berusia 7 (tujuh) tahun, yang sekarang ini diasuh oleh orang tua terdakwa. Adapun status pernikahan Terdakwa sekarang adalah sudah bercerai;
  3. Terdakwa pertama kali datang ke Hong Kong bertujuan untuk memenuhi kebutuhan finansial anak dan orang tuanya dengan bekerja sebagai Domestic Helper;
  4. Terdakwa telah mengaku bersalah atas tuntutan yang telah dituduhkan oleh Jaksa Penuntut Umum.
Terdakwa NN:
  1. Terdakwa tidak memiliki catatan kriminal selama berada di Hong Kong;
  2. Terdakwa merupakan seorang pribadi yang naif (lugu) karena muda dan kurang berpengalaman.
  3. Pada saat melakukan tindak pidana tersebut, terdakwa masih berusia 23 (dua puluh tiga) tahun dan tidak memiliki pekerjaan sejak tahun 2011. Untuk dapat bertahan hidup, Terdakwa bekerja serabutan dan akhirnya menerima tawaran pekerjaan dari Phillip tersebut;
  4. Terdakwa NN pertama kali datang ke Hong Kong ketika terdakwa berusia 19 (sembilan belas) tahun bertujuan untuk mencari pekerjaan, dan telah bekerja sebagai Domestic Helper;
  5. Terdakwa mengaku sangat menyesal karena telah melakukan tindak pidana tersebut.

Dengan melihat fakta, alat bukti, barang bukti, dan uraian pembelaan dari Tim Penasehat Hukum, Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa SGY dan Terdakwa NN terbukti bersalah dan selanjutnya menjatuhkan hukuman penjara untuk Terdakwa SGY selama 13 (tiga belas) tahun dan 8 (delapan) bulan, sedangkan untuk Terdakwa NN dipidana penjara selama 20 (dua puluh) tahun penjara.

Selasa, 19 April 2016

OVERSTAY = Penjara...

Persidangan Warga Negara Indonesia atas Terdakwa MNY dengan nomor perkara  STCC 1032/2016 telah dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 19 April 2016 bertempat di Shatin Court.
Terdakwa MNY diajukan ke persidangan dengan tuduhan telah melakukan pelanggaran keimigrasian yaitu telah overstay di Hong Kong selama 6 (enam) bulan.
Terdakwa pada saat ini telah mengajukan paper dan masih dalam proses pemeriksaan Imigrasi Hong Kong.
Dalam persidangan tersebut, terdakwa telah mengajukan jaminan (bail out) tetapi ditolak oleh Hakim dengan alasan tertentu.
Karena pengajuan bail out  ditolak oleh Hakim maka Terdakwa MNY masih tetap ditahan di Penjara Tai Lam Centre for Woman dan persidangan ditunda sampai dengan tanggal 17 Mei 2016.

Senin, 18 April 2016

MSN Diadili karena Overstay

Persidangan terkait tindak pidana overstay yang melibatkan WNI atas Terdakwa MSN (34 tahun) dengan nomor kasus SCCC 647/2016 telah dilaksanakan pada hari Senin tanggal 18 April 2016 bertempat di Shatin Court.
Terdakwa MSN diajukan ke persidangan atas tuduhan overstay selama 1 (satu) tahun. Terdakwa MSN datang ke Hong Kong pertama kali pada bulan Desember 2009 sebagai domestic helpers melalui sebuah agen dimana Terdakwa sudah berpindah tempat kerja sebanyak 4 (empat) kali, terakhir bekerja di daerah Taipo. Disamping itu Terdakwa telah mengajukan paper dan telah diterima pada tanggal 10 Juni 2015.
Pada persidangannya Hakim memutuskan untuk menunda persidangan yang bersangkutan sampai dengan tanggal 9 Mei 2016.

Minggu, 17 April 2016

Aksi Unjuk Rasa

Pada hari Minggu, tanggal 17 April 2016 di depan KJRI Hong Kong telah berlangsung aksi demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok massa Buruh Migran Indonesia (BMI).
Kegiatan Demonstrasi dilaksanakan pada pukul 12.00 dan 13.00 yang dihadiri oleh sekitar 100 orang massa yang tergabung dalam JBMI (Jaringan Buruh Migrant Indonesia), IMWU (Indonesian Migrant Workers Union), AMP (Aliansi Migran Progresif), Al Istiqomah dan beberapa organisasi WNI lainnya.

Beberapa hal yang menjadi tuntutannya adalah :
  1. Menuntut adanya kontrak mandiri bagi tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri.
  2. Perbaikan pelayanan KJRI agar lebih ramah dan cepat.
  3. Menuntut penghapusan atau revisi Undang-Undang Nomor 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indinesia di Luar Negeri.
  4. Menuntut agar pemerintah menghukum PJTKI di Indonesia yang telah menyebabkan adanya data palsu bagi BMI (Buruh Migran Indonesia.
  5. Meminta KJRI agar menyiapkan MOU dengan pemerintah Hong Kong sebelum melaksanakan kebijakan koreksi data passport.
Demonstrasi tersebut tidak dilaksanakan seperti biasa dimana turut dihadiri oleh sejumlah massa 50 (orang) dari organisasi keagamaan (islam) Al Istiqomah Hong Kong. Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan doa bersama oleh massa peserta demonstrasi.

Jumat, 15 April 2016

WNI Ditangkap karena Overstay

Pada hari Kamis tanggal 14 April 2016 bertempat di Sha Tin Court telah dilaksanakan persidangan WNI atas Terdakwa berinisial PM (48 tahun) nomor kasus STCC 1307/2015. Pada persidangannya telah dibacakan dakwaan bahwa Terdakwa PM  didakwa telah melakukan pelanggaran keimigrasian yaitu telah overstay (melewati batas izin tinggal) selama 5,5 bulan dimana kontrak kerjanya seharusnya berakhir pada tanggal 16 Oktober 2015, tetapi Terdakwa masih terus bekerja di rumah majikan sampai hari ditangkapnya tanpa melakukan perpanjangan kontrak kerja.
Disamping itu PM  juga didakwa telah melakukan pelanggaran keimigrasian dimana Terdakwa hanya diperbolehkan untuk bekerja sebagai Domestic Helper tetapi Terdakwa telah bekerja di sebuah toko milik majikan di daerah Yuen Long.
Terungkap dipersidangan juga bahwa pada tanggal 12 April 2016 sekira pukul 07.40 pagi hari Terdakwa PM  ditangkap di daerah Yuen Long pada saat sedang membereskan barang-barang di toko milik majikannya.
Pada persidangan tersebut, Terdakwa PM  mengakui seluruh kesalahannya dan Hakim mengizinkan kepada yang bersangkutan untuk bail out dimana pihak Pengadilan meminta kepada KJRI untuk dapat kiranya memfasilitasi tempat tinggal (shelter) bagi Terdakwa PM  sebelum tanggal 18 April 2016. Selanjutnya Hakim memutuskan untuk menunda persidangan Terdakwa PM  tersebut sampai dengan tanggal 9 Mei 2016.

Karena Overstay, Seorang WNI Dijatuhi Hukuman Percobaan



Persidangan kasus pelanggaran peraturan keimigrasian yang melibatkan WNI berinisial NH (47 tahun) telah digelar pada hari Kamis tanggal 14 April 2016 bertempat di Shatin Court.
Terdakwa NH  datang ke Hong Kong sejak tahun 2010 untuk bekerja sebagai Domestic Helper dan telah beberapa kali berganti majikan serta agen di Hong Kong. Terdakwa NH  break kontrak dan keluar dari majikannya yang terakhir pada tanggal 22 November 2015. Terdakwa NH  kemudian mendaftarkan diri melalui Agen Jen (sub agen di Tsuen Wan) dan membawa majikan sendiri untuk diproses melalui agen tersebut. Namun Terdakwa NH masih tetap tinggal di Hong Kong sampai dengan yang bersangkutan ditangkap pada tanggal 22 Februari 2016 saat hendak pergi ke Macau untuk menunggu visa dikarenakan saat diperiksa ternyata yang bersangkutan telah overstay selama 2,5 bulan sehingga kemudian dibawa ke Imigrasi Kowloon Bay untuk dilakukan pemeriksaan.
Pada persidangan hari ini telah dibacakan dakwaan terhadap Terdakwa NH bahwa yang bersangkutan telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong karena telah overstay selama 2,5 bulan. Terdakwa NH  kemudian mengakui kesalahannya sehingga Hakim memutuskan untuk menjatuhkan hukuman kepada yang bersangkutan berupa hukuman penjara selama  1 bulan dengan masa percobaan  3 tahun.
Dengan hukuman tersebut maka Terdakwa NH  tidak perlu menjalani hukuman penjara selama 1 bulan dengan syarat yang bersangkutan tidak boleh melakukan pelanggaran hukum lagi selama 3 tahun. Apabila Terdakwa NH  melakukan pelanggaran hukum lagi sebelum 3 tahun, maka yang bersangkutan harus menjalani hukuman penjara selama 1 bulan ditambah dengan hukuman untuk pelanggaran yang baru dilakukan dan Terdakwa NH  diwajibkan untuk melapor ke Kantor Imigrasi Kowloon Bay pada tanggal 26 April 2016.

Kamis, 14 April 2016

Apa Yang Harus Dilakukan Jika Overstay di Hong Kong?

PERMASALAHAN
Nama saya MAWAR (bukan nama sebenarnya), saya menjadi overstayer di Hong Kong sudah 4 tahun lebih. Sebelumnya  saya terjerat kasus hutang piutang dengan lembaga finance di sini dan karena urusannya ruwet maka saya akhirnya di-terminated oleh majikan hingga kemudian saya over stay.
Saya saat ini berstatus single parent dengan 2 orang anak dimana saya sangat menyayangi dan merindukan keluarga saya tersebut serta saya juga masih tetap mencintai Indonesia.
Yang akan saya tanyakan, bagaimanakah prosesnya agar saya bisa pulang ke Indonesia serta menyelesaikan proses hukum di Hong Kong ? Apa yang harus saya lakukan dan kemana saya meminta bantuan karena saya orang awam yang kurang mengerti tentang hukum ? Selanjutnya apabila saya harus mempertanggung jawabkan kesalahan saya tersebut, kira-kira berapa lama saya harus tinggal di penjara ?
Mohon petunjuk dan arahan dari Bapak, terimakasih.


JAWABAN / TANGGAPAN
Pertama-tama kami mengucapkan terimakasih atas kesediaan dari Mbak Mawar (bukan nama sebenarnya) untuk menyampaikan permasalahan sebagaimana tersebut di atas kepada kami. Namun sebelum kami menjawab atau menanggapi pertanyaan / permasalahan yang Mbak Mawar sampaikan tersebut tidak ada salahnya apabila kami terlebih dahulu menyampaikan hal-hal sebagai berikut  :
  • Perlu kita pahami bersama bahwa baik Indonesia maupun Hong Kong (bagian dari Republik Rakyat Tiongkok yang menganut kebijakan 1 negara dengan 2 sistem) merupakan sebuah negara yang berdaulat yang masing-masing mempunyai sistem hukumnya sendiri.  Hukum adalah himpunan peraturan-peraturan yang mengatur kehidupan bermasyarakat, yang dibuat oleh lembaga yang berwenang dan bersifat memaksa serta berisi perintah dan larangan yang apabila dilanggar akan mendapat sanksi ;
  • Dalam sistem hukum yang berlaku universal dikenal prinsip teritorial yang menyatakan bahwa setiap negara memberlakukan hukumnya kepada setiap orang, siapapun juga baik warga negaranya sendiri maupun warga negara asing, terkecuali yang berdasarkan hukum internasional ia diberikan hak "exterritorialiteit" yakni hak untuk tunduk kepada hukum negaranya sendiri. Adapun Hak Exterritorialiteit ini hanya diberikan dan dimiliki oleh para kepala negara, korps diplomatik, konsul, pasukan asing dan atau wakil badan-badan internasional ;
Berdasarkan hal tersebut di atas maka sebagai orang yang saat ini tinggal di luar negeri dalam hal ini Hong Kong maka kita juga diharuskan tunduk dan taat pada aturan hukum yang berlaku di Hong Kong. Selanjutnya terkait dengan permasalahan yang Mbak Mawar sampaikan tersebut pada kesempatan ini dapat kami jelaskan sebagai berikut  :
1)        Yang dimaksud over stay adalah setiap orang asing yang berada di wilayah suatu Negara telah melampaui batas waktu tinggal sebagaimana yang diijinkan oleh instansi yang berwenang.  Permasalahan over stay ini berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia khususnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian dikategorikan sebagai pelanggaran administratif sehingga sanksi yang dikenakan hanya berupa Tindakan Administratif seperti membayar biaya beban atau dilakukan deportasi dan penangkalan. Hal tersebut tentunya berbeda dengan hukum yang berlaku di Hong Kong dimana permasalahan over stay dapat dikategorikan sebagai tindak pidana sehingga seseorang yang terbukti telah melakukan pelanggaran izin tinggal atau over stay maka sebelum yang bersangkutan di deportasi atau dipulangkan ke negara asalnya terlebih dahulu harus menjalani hukuman penjara yang diputuskan melalui proses persidangan di pengadilan ;
2)       Kemudian mengenai apa yang harus dilakukan oleh Mbak Mawar yang telah over stay di Hongkong lebih dari 4 tahun atau Warga Negara Indonesia lainnya yang mempunyai permasalahan yang sama dan ingin segera pulang ke Indonesia dapat kami sampaikan proses / tahapan yang harus dijalani sebagai berikut  :

a)        Warga Negara Indonesia yang sudah over stay di Hong Kong diharapkan dapat segera datang dan melaporkan permasalahannya tersebut ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong untuk selanjutnya akan diminta mengisi formulir pengaduan ;
b)      Pihak KJRI akan menerima pengaduan tersebut dan selanjutnya akan mengatur jadwal untuk membawa yang bersangkutan ke Kantor Imigrasi Hong Kong dalam rangka menyerahkan diri dan membuat laporan ;
c)      Pihak KJRI akan mendampingi WNI yang over stay tersebut  saat membuat laporan ke Bagian Investigasi Imigrasi Hong Kong dimana setelah menyampaikan laporan tersebut maka dokumen diri yang bersangkutan akan ditahan oleh pihak Imigrasi Hongkong ;
d)         Setelah selesai melapor, apabila tidak ada catatan kejahatan lainnya maka yang bersangkutan akan diijinkan pulang untuk menunggu proses investigasi selesai dan apabila tidak mempunyai tempat tinggal yang bersangkutan akan ditampung di shelter KJRI. Namun apabila yang bersangkutan ternyata memiliki catatan kejahatan maka biasanya yang bersangkutan akan ditahan di penjara Imigrasi sampai proses investigasi selesai ;
e)         Sesuai jadwal yang telah ditentukan, WNI yang over stay akan diminta untuk melapor kembali ke Kantor Imigrasi Hong Kong untuk mendapatkan jadwal persidangan di pengadilan ;
f)          Pihak KJRI akan mendampingi WNI yang over stay tersebut selama menjalani proses persidangan di pengadilan ;
g)      Sebagaimana yang telah berlaku selama ini, setelah proses persidangan di pengadilan selesai maka bagi yang over stay lebih dari 2 (dua) tahun akan menjalani pidana penjara terlebih dahulu sebelum dikembalikan ke Tanah Air, sedangkan bagi yang over stay kurang dari 2 (dua) tahun akan langsung dipulangkan ke Tanah Air setelah menyelesaikan semua administrasi ;
3)       Selanjutnya terkait dengan lamanya pidana penjara yang harus dijalani oleh WNI yang over stay tersebut kami tidak bisa menyampaikan berapa lama karena semuanya tergantung pada pertimbangan Hakim yang menyidangkan perkara yang bersangkutan. Sebagai gambaran, sesuai dengan data yang ada pada Fungsi Kejaksaan KJRI Hong Kong sampai dengan tanggal 30 Maret 2016 ini tercatat  28 (dua puluh delapan) orang Warga Negara Indonesia yang berada dalam penjara di Hong Kong karena terlibat kasus over stay baik yang masih berstatus tahanan maupun yang sudah menjadi narapidana.   Dari WNI yang sudah berstatus sebagai narapidana kasus over stay tersebut rata-rata mereka harus menjalani hukuman penjara antara 2 (dua) bulan sampai dengan 10 (sepuluh) bulan.

Demikian beberapa hal yang dapat kami sampaikan terkait dengan permasalahan over stay. Kemudian pada kesempatan ini kami juga menghimbau khususnya bagi Warga Negara Indonesia yang saat ini tinggal di Hong Kong serta berstatus over stay untuk dapat segera melaporkan diri ke KJRI Hongkong dan jangan tergoda untuk mengajukan paper mengingat hal tersebut tidak akan banyak memberikan keuntungan bagi para over stayer. Dengan mengajukan paper maka banyak hal yang justru akan semakin membatasi ruang gerak dari para over stayer itu sendiri. Disamping itu dengan menjadi paper berpotensi besar untuk melakukan berbagai pelanggaran hukum sebagaimana yang telah dialami oleh saudara-saudara kita sesama WNI yang saat ini berada di dalam penjara di Hong Kong. Untuk itu sekali lagi kami berharap semoga para WNI yang berstatus over stayer dapat segera melapor ke KJRI Hong Kong untuk menjalani proses sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Hong Kong sehingga dapat segera kembali berkumpul dengan keluarga di Tanah Air meskipun harus menjalani sanksi pidana terlebih dahulu sebagai konsekuensi kita telah melakukan pelanggaran hukum. 

Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI HongKong