Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI Hong Kong

Kamis, 30 Juni 2016

BMI Terlibat Kasus Narkotika Divonis Penjara 18 Tahun

Pada  hari Kamis tanggal 30 Juni 2016, bertempat di High Court lantai 7 ruang sidang 13 telah dilaksanakan persidangan WNI atas Terdakwa  berinisial WL   (Lampung, 13 Juli 1984) dengan nomor kasus HCCC 227/2015 dengan tuduhan telah terlibat dalam perdagangan narkotika.
Terdakwa WL  telah di tangkap oleh petugas kepolisian Hong Kong di daerah Tsim Sha Tsui pada tanggal 14 Januari 2015. Terdakwa WL ditangkap pada saat sedang membawa sebuah kantong plastik  yang di dalamnya terdapat narkotika seberat 998 gram yang setelah diperiksa petugas di dalamnya mengandung kokain seberat 572 gram.
Setelah menjalani sidang maraton sejak 22 – 30 Juni 2016 yang menghadirkan 7 orang juri untuk memberikan penilaian terhadap kasus yang sedang dihadapi Terdakwa,  Terdakwa WL tetap tidak mengakui perbuatannya bahwa dirinya telah terlibat dalam perdagangan narkotika sehingga persidangan ditunda sampai dengan tanggal 6 Juli 2016.
Hasil persidangan pada tanggal 6 Juli 2016, setelah diambil kesepakatan dari pihak juri dan Hakim memutuskan bahwa Terdakwa WL dinyatakan bersalah sehingga Hakim kemudian menjatuhkan hukuman kepada Terdakwa WL dengan pidana penjara selama 18 tahun.


Jumat, 24 Juni 2016

BMI Overstay Karena Majikan Akhirnya Dipulangkan

Pada  hari Jum’at tanggal 24 Juni 2016, bertempat di Shatin Court lantai 3 ruang sidang 2  telah dilaksanakan persidangan WNI atas Terdakwa berinisial MKM (Indramayu,  15 Juli 1980) dengan nomor kasus STCC 184/2016 dengan tuduhan telah melakukan pelanggaran keimigrasian di  Hong Kong.
Bahwa Terdakwa MKM pertama kali datang untuk  bekerja di Hong Kong pada tanggal 13 Nopember 2014. Berdasarkan kontrak kerja yang ada seharusnya Terdakwa MKM bekerja sebagai domestic helper yang tinggal di daerah Mongkok.
Pada tanggal 18 Nopember 2015 majikan  telah memutus kontrak secara sepihak dan Terdakwa MKM dibawa ke sebuah agen baru oleh majikannya, dan pada tanggal 15 Desember 2015 pada saat Terdakwa  MKM hendak meninggalkan Hong Kong untuk kembali ke tanah air, Terdakwa MKM ditangkap oleh polisi di bandara Hong Kong dengan alasan bahwa Terdakwa MKM  telah overstay di Hong Kong selama 13 hari.
Pada persidangan sebelumnya Terdakwa MKM  tidak mengakui kesalahannya bahwa Terdakwa telah overstay dikarenakan majikannya yang telah menelantarkan Terdakwa di agen barunya dan sejak diterminate majikan Terdakwa ditampung di agen barunya di daerah Yuen Long. Menurut Terdakwa MKM  selama bekerja satu tahun dengan majikan, majikan Terdakwa telah berpindah rumah sebanyak 5 kali.
Hasil Persidangan pada hari ini, Terdakwa MKM mengakui bersalah sehingga Hakim kemudian menjatuhkan hukuman kepada yang bersangkutan dengan pidana penjara selama 7 hari dengan masa percobaan 1 tahun sehingga Terdakwa tidak perlu menjalani hukuman penjara tersebut sepanjang yang bersangkutan tidak melakukan pelanggaran hukum lagi di Hong Kong dalam jangka waktu 1 tahun. Selanjutnya Terdakwa MKM juga di wajibkan melapor kembali ke Imigrasi Kowloon Bay pada hari Senin 27 Juni 2016 untuk mengambil dokumennya dengan syarat harus membawa tiket pulang ke tanah air.


Kamis, 23 Juni 2016

BMI Korban Overcharging Mendapat Uang Ganti Rugi

Pada  hari Kamis tanggal 23 Juni 2016, bertempat di Pengadilan Eastern lantai 9 ruang sidang 9 telah dilaksanakan persidangan atas Terdakwa berinisial WMC dengan nomor kasus ESS 11685 terkait kasus overcharging yang menghadirkan Saksi Warga Negara Indonesia berinisial SU asal Blitar.
Bahwa Saksi SU datang ke Hong Kong sekitar 6 tahun yang lalu. Setelah finish dari majikan terakhir, yang bersangkutan dikenalkan oleh temannya pada seorang perempuan bernama Sheila yang membantu untuk mencarikan majikan baru. Adapun terkait dengan pengurusan semua kontrak dan administrasi dilakukan oleh Sdri. Sheila di kantor agen yang bernama Gold Union Employment Agency. Saksi SU menandatangani persetujuan bahwa yang bersangkutan harus membayar kepada Agen sebesar HKD 13.300 dan ditambah biaya lainnya sehingga keseluruhannya menjadi HKD 15.000 dimana kewajiban tersebut harus dibayarkan selama 5 bulan berturut-turut sehingga pembayaran setiap bulan sebesar HKD 3.000. Setelah bekerja 1 bulan pada majikan barunya tersebut , Saksi SU telah membayar sebesar HKD 3.000 melalui Seven Eleven yang disetorkan ke rekening seseorang di Hang Seng Bank.
Pada persidangan hari ini Hakim telah membacakan dakwaan terhadap Terdakwa WMC yaitu Terdakwa didakwa telah melanggar peraturan ketenagakerjaan yang seharusnya biaya yang dikenakan kepada SU adalah sebesar 10% dari gaji yang tertera pada perjanjian kontrak kerja atau sebesar HKD 411, tetapi Terdakwa telah meminta Saksi SU untuk membayar sebesar HKD 15.000.
Berkaitan dengan dakwaan tersebut, Terdakwa WMC telah mengakui dan menyatakan bersalah sehingga Hakim memutuskan bahwa Terdakwa WMC bersalah dan oleh karenanya menghukum Terdakwa untuk membayar denda sebesar HKD 9.000. Disamping itu Terdakwa WMC juga diwajibkan untuk mengembalikan kepada Saksi SU kelebihan pembayaran pertama yang telah disetorkan sebesar HKD 3.000 dikurangi HKD 411 yaitu HKD 2.589. Adapun pembayaran denda dan pengembalian kelebihan bayar dari Saksi SU tersebut harus diselesaikan oleh Terdakwa WMC dalam waktu 21 hari.


Rabu, 22 Juni 2016

Sidang WL dilakukan secara Maraton

Pada  hari Rabu tanggal 22 Juni 2016, bertempat di High Court lantai 7 ruang sidang 13 telah dilaksanakan persidangan WNI atas Terdakwa  berinisial WL   (Lampung, 13 Juli 1984) dengan nomor kasus HCCC 227/2015 dengan tuduhan telah terlibat dalam perdagangan narkotika.
Bahwa Terdakwa WL  telah di tangkap oleh petugas kepolisian Hong Kong di daerah Tsim Sha Tsui pada tanggal 14 Januari 2015. Terdakwa WL ditangkap pada saat sedang membawa sebuah kantong plastik  yang di dalamnya terdapat narkotika seberat 998 gram yang setelah diperiksa petugas di dalamnya mengandung kokain seberat 572 gram.
Hasil persidangan pada hari ini, Terdakwa tidak mengakui bahwa dirinya telah terlibat dalam kasus perdagangan narkotika dan Hakim memanggil saksi polisi yang menangkap Terdakwa WL pada tanggal 14 Januari 2015 dan dilakukan pemeriksaan terhadap petugas dari kepolisian tersebut serta ditunjukkan barang-barang bukti pada saat Terdakwa WL ditangkap.
Persidangan atas nama Terdakwa WL ini akan dilaksanakan secara maraton sampai dengan tanggal 30 Juni 2016 ini dimana dalam persidangan lanjutan nanti akan dihadirkan kembali saksi polisi lainnya yang melakukan identifikasi terhadap barang bukti.


Selasa, 21 Juni 2016

SDN Menjadi Tersangka Kasus Pemalsuan Dokumen

Persidangan  WNI atas Terdakwa berinisial SDN telah dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 21 Juni 2016 bertempat di Pengadilan Shatin  ruang sidang 7 lantai 6.
Terdakwa SDN  telah dituduh melakukan pemalsuan dokumen (paspor) namun saat ini terdakwa masih bekerja  pada seorang majikan di daerah Ho Man Tin. Ketika Terdakwa  hendak mengurus izin kerjanya  di Kantor Imigrasi Wan Chai, Terdakwa telah ditangkap dan diperiksa karena dituduh telah menggunakan data yang  berbeda dengan HKID-nya.
Dalam persidangan hari telah dibacakan kembali tuduhan yang dikenakan kepada Terdakwa SDN yang pada pokoknya sebagai berikut :
  • Pada tanggal 20 Oktober  2006 Terdakwa telah melanggar keimigrasian di Hong Kong yaitu telah menggunakan dokumen palsu yang bernomor AG219919.
  • Pada tanggal 20 Oktober  2006 Terdakwa telah memberikan pernyataan palsu pada petugas imigrasi Hong Kong.
  • Pada tanggal 21 Juli 2009 Terdakwa memberikan  dokumen palsu berupa Paspor yang bernomor AP 409268 kepada Imigrasi Hong Kong. 
  • Pada tanggal 21 Juli  2015 Terdakwa memberikan pernyataan palsu dengan membenarkan tahun kelahirannya 1978.
Terhadap tuduhan yang dikenakan kepada Terdakwa tersebut, Terdakwa SDN tidak mengakui semua tuduhan tersebut. Selanjutnya mengingat Berita Acara Wawancara Terdakwa belum dilakukan proses legalisasi oleh Jaksa Penuntut Umum maka pada persidangan hari ini Jaksa Penuntut Umum memohon kepada Hakim agar sidang dapat ditunda guna proses legalisasi tersebut dan Hakim mengabulkan permohonan tersebut sehingga persidangan perkara atas nama Terdakwa SDN diputuskan untuk ditunda sampai dengan tanggal 24-25 Agustus 2016.


Senin, 20 Juni 2016

RA Diadili karena Ambil Barang Milik Orang Lain

Persidangan WNI atas nama Terdakwa RA (31 tahun),  dengan Nomor Kasus ESCC 1666/2016 telah dilaksanakan pada hari Senin tanggal 20 Juni 2016 bertempat di Eastern Court.
Terdakwa RA pertama kali datang ke Hong Kong pada tahun 18 Februari 2016 dan saat ini masih bekerja pada majikan di daerah North Point.
Terdakwa pada tanggal 16 Mei 2016 pada saat sedang berlibur di Taman Victoria menemukan sebuah Handphone dan barang tersebut kemudian dibawa pulang serta disimpan di kamar Terdakwa.
Pada tanggal 19 Mei 2016, ketika majikan Terdakwa hendak memanggil Terdakwa, tetapi tidak ada jawaban dari Terdakwa, maka majikan masuk ke kamar Terdakwa dan ditemukan Terdakwa RA sedang pingsan dan ketika itu ada suara handphone berdering yang kemudian dijawab oleh majikannya dan ternyata itu adalah pemilik handphone tersebut.
Selanjutnya majikan Terdakwa menghubungi polisi Wan Chai dan menangkap RA yang kemudian dibawa ke kantor polisi dengan tuduhan telah mencuri sebuah handphone dan pada saat dihadirkan pemilik handphone untuk mengenali handphone-nya didapati memory card-nya telah dihancurkan oleh Terdakwa. Terdakwa RA untuk sementara ditampung di agen dengan jaminan HKD 500.
Hasil persidangannya, dibacakan tuduhan bahwa Terdakwa RA telah mengambil HP seseorang dan telah merusak memory card-nya. Terdakwa RA mengakui perbuatannya bahwa telah mengambil handphone milik seseorang dan merusak  memory card-nya. Hakim memutuskan karena handphone telah kembali kepada pemiliknya, maka hukuman yang dijatuhkan bahwa Terdakwa diwajibkan untuk membayar denda sebesar HKD 1.000 dalam waktu 1 bulan.

HE Diadili karena Dititipin Barang yang Ternyata Mengandung Narkoba

Persidangan WNI atas Terdakwa berinisial HE (26 tahun),  dengan Nomor Kasus ESCC 1530/2016 telah dilaksanakan pada hari Senin tanggal 20 Juni 2016 bertempat di Eastern Court.
Terdakwa HE pertama kali datang ke Hong Kong pada tahun 2014 dan saat ini masih bekerja pada majikan di daerah Sam Tseng melalui Agen Mei Foo.
Terdakwa ditangkap oleh Polisi Wan Chai pada hari minggu tanggal 3 April 2016 pada saat Terdakwa sedang libur, karena mencurigakan maka tas Terdakwa digeledah Polisi dan ditemukan sebuah obat yang diduga mengandung narkoba.
Pada tanggal 26 Mei 2016 Terdakwa menghadiri sidang pertama di Eastern Court dan diizinkan untuk bail out  dengan uang jaminan sebesar HKD 500.
Hasil persidangannya, Terdakwa HE mengakui bahwa obat yang ditemukan di dalam tasnya adalah titipan dari teman laki-lakinya yang dikenalnya setahun yang lalu di Hong Kong dan setelah diperiksa terbukti bahwa obat tersebut adalah obat penguat untuk laki-laki yang mengandung narkoba dengan kadar rendah. Hakim memutuskan hukuman denda sebesar HKD 1.000 dengan masa percobaan selama 1 tahun sehingga apabila dalam periode 1 tahun Terdakwa HE melakukan pelanggaran hukum lagi, maka yang bersangkutan akan diwajibkan untuk membayar denda sebesar HKD 1.000 dan ditambah dengan hukuman untuk pelanggaran hukum yang baru.

Jumat, 17 Juni 2016

Kunjungan ke Tahanan WNI di Macau

Tim Citizen Service KJRI Hong Kong melakukan kunjungan ke Rumah Tahanan Estabelecimento Prisional de Macau pada hari Jumat tanggal 29 April 2016.
Kunjungan tersebut diterima oleh Social Worker untuk narapidana Warga Negara Indonesia. Narapidana yang berada di Estabelecimento Prisional de Macau saat ini sebanyak 14 (empat belas) orang, yang terdiri dari 10 (sepuluh) orang perempuan dan 4(empat) orang laki-laki dengan perincian tindak pidana sebagai berikut  :

a.    Narkotika                             :      9    orang (5 perempuan & 4 laki-laki)
b.    Pencurian                             :      3    orang (3 perempuan)
c.    Tindak Pidana Lainnya        :      2    orang (2 perempuan)
___________________________________________________
                       Jumah                   :     14    orang

Ada beberapa narapidana Warga Negara Indonesia yang akan segera menyelesaikan masa hukumannya dalam waktu dekat ini Tim Citizen Service yang datang pada kunjungan kali ini juga menerima permohonan dari para narapidana agar dapat dibantu dan dikoordinasikan dengan pejabat yang berwenang di penjara Macau khususnya terkait dengan penerbitan dokumen perjalanan (SPLP) yang akan digunakan untuk kepulangan ke Indonesia termasuk juga mengenai masalah tiket.
Dalam kunjungan tersebut, Tim Citizen Service telah memenuhi berbagai permintaan berupa barang yang diajukan oleh para narapidana WNI di penjara Macau pada saat pertemuan sebelumnya seperti buku Yasin, shampo, dan body lotion namun untuk permintaan baby oil untuk anak dari salah satu tahanan tidak dapat dipenuhi karena pihak penjara tidak mengizinkannya. Disamping itu terkait permintaan dari para tahanan pada waktu kunjungan sebelumnya yang meminta dibawakan makanan untuk dimakan secara bersama-sama pada saat kunjungan, maka Tim Citizen Service kali ini juga membawakan makanan berupa Mc Donald.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Tim Citizen Service, secara umum kondisi para narapidana sehat dan baik serta diperlakukan secara wajar oleh pihak penjara di Macau.

SR Pemegang Paper Terjerat Kasus Narkotika

Persidangan WNI atas nama Terdakwa SR  (35 tahun)  dengan Nomor Kasus TWCC  3420/2015 telah dilaksanakan pada hari Jumat  tanggal 17 Juni 2016 bertempat di Eastern Court.
Terdakwa SR pertama kali datang ke Hong Kong pada tahun 2010 dan bekerja selama 2 tahun dengan 3 majikan dan karena tidak ada yang cocok yang bersangkutan akhirnya pergi meninggalkan majikan hingga berstatus overstay yang kemudian mengajukan paper dan sudah berjalan selama 3 tahun. Pada suatu ketika yang bersangkutan ini berkenalan  dengan seorang lelaki berkewarganegaraan Columbia.
Sedangkan Sdri. SH adalah teman dari Terdakwa SR dimana suatu ketika orang Columbia yang merupakan teman dari Terdakwa SR tersebut meminta alamat kepada Terdakwa SR untuk mengirimkan suatu barang, dan Terdakwa SR selanjutnya memberikan alamat Sdri. SH tanpa sepengetahuan dari yang bersangkutan.
Pada tanggal 19 Desember 2015, saat Terdakwa SR dan Sdri. SH menerima sebuah paket yang dikirimkan melalui Pos bertempat di rumah Sdri. SH, tiba-tiba Polisi datang dan kemudian menangkap mereka berdua yang selanjutnya memeriksa paket yang diterima tersebut dan setelah dibuka ternyata isinya adalah narkotika sebanyak 393,5 gram dengan kandungan kokain di dalamnya sebanyak 250,9 gram.
Pada  persidangan tanggal 10 April 2016, setelah mendengarkan dan memverifikasi pernyataan yang diberikan oleh Terdakwa SR, maka Hakim memutuskan untuk mencabut tuntutan dan tuduhan yang ditujukan kepada Sdri. SH selanjutnya menyatakan Sdri. SH bebas tanpa syarat .
Hasil persidangan hari ini telah dibacakan dakwaan bahwa  Terdakwa SR telah terlibat dengan kasus yang sangat serius yaitu terlibat dengan narkotika dan Terdakwa SR  tidak mengakui perbuatannya sehingga Hakim memutuskan perkara atas nama Terdakwa SR di transfer ke High Court dan Terdakwa SR  pun diizinkan untuk mengajukan bantuan Legal Aid pada persidangan yang akan ditentukan kemudian.

Kamis, 16 Juni 2016

KS Dipenjara karena Bekerja Tidak Sesuai Kontrak Kerja


Pada  hari Kamis tanggal 16 Juni 2016, bertempat di Shatin Court telah dilaksanakan persidangan WNI atas Terdakwa berinisial KS (42 tahun) dengan nomor kasus STCC 631/2016 dengan tuduhan telah memberikan pernyataan palsu kepada Pejabat Imigrasi Hong Kong.
Terdakwa KS telah bekerja di Hong Kong sejak bulan Februari 2010. Berdasarkan kontrak kerja yang ada seharusnya Terdakwa KS bekerja sebagai domestic helper dengan majikan yang tinggal di daerah Tsuen Wan. Namun pada kenyataannya sejak datang di Hong Kong yang bersangkutan justru disuruh oleh majikannya tersebut untuk bekerja pada sebuah toko Indonesia yang bernama “JUANA” di daerah Yuen Long yang merupakan  milik dari seorang teman dari majikannya tersebut.
Meskipun Terdakwa KS berkerja tidak sesuai dengan kontrak kerja, pada awalnya tidak ada masalah apapun dan yang bersangkutan tetap menerima hak-haknya sebagaimana mestinya sampai akhirnya pada tanggal 18 Februari 2016 yang bersangkutan didatangi oleh 4 (empat) orang petugas CID Hong Kong yang kemudian melakukan interogasi hingga akhirnya menangkap Terdakwa KS dan kemudian melakukan penahanan terhadapnya di penjara Tai Lam Centre for Women.
Hasil Persidangannya bahwa Hakim menyatakan untuk persidangan Terdakwa KS ditunda sampai dengan tanggal 3 Oktober 2016 untuk menunggu hasil persidangan dari majikannya yang juga diajukan ke pengadilan tanggal 26-28 September 2016. Dan Terdakwa KS bersedia untuk menjadi saksi bagi pihak imigrasi Hong Kong pada persidangan majikannya.

Selasa, 14 Juni 2016

BMI Dipenjara Akibat Bekerja Tidak Sesuai Kontrak Kerja

Persidangan WNI atas nama Terdakwa PU (Madiun, 19 Mei 1976) dengan Nomor Kasus STCC 1797/2016 telah dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 14 Juni 2016 bertempat di Shatin.
Terdakwa PU pertama kali datang ke  Hong kong pada  tahun 2009  dan selanjutnya dari tahun 2013 sampai dengan sekarang Terdakwa PU bekerja dengan majikan yang berdomisili di daerah Tuen Mun.
Terdakwa PU ditangkap di toko Laundry milik majikannya  pada tanggal 18 Mei  2016, kemudian yang bersangkutan diperiksa serta diinterogasi oleh Polisi di Tuen Mun  dan didapati ternyata  Terdakwa PU telah diperbantukan untuk bekerja di Laundry milik majikannya tersebut sehingga yang bersangkutan kemudian ditahan oleh petugas kepolisian Hong Kong.
Pada persidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum membacakan dakwaannya bahwa Terdakwa PU  telah melanggar peraturan keimigrasian di Hong Kong dimana seharusnya Terdakwa hanya bekerja sebagai domestic helper tetapi Terdakwa PU juga bekerja di Laundry milik majikannya.
Pada persidangan tersebut Terdakwa PU telah mengakui kesalahannya sehingga Hakim kemudian memutuskan hukuman penjara kepada yang bersangkutan selama 2 (dua) bulan.

Banyak TKI Kena Kasus di Hong Kong, KJRI Bantah Tak Membela

TEMPO.CO, Malang - Konsul Jenderal Indonesia di Hong Kong, Chalief Akbar, membantah tudingan Jaringan Buruh Migran Indonesia  pekan lalu bahwa upaya hukum oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) tidak efektif, sangat mengecewakan, dan malah menjerumuskan buruh migran yang tersangkut perkara hukum pemalsuan data paspor.

Chalief menuturkan, pihaknya telah melakukan pendampingan hukum terhadap buruh migran yang datanya dikoreksi mulai dari tahapan pemeriksaan sampai dengan tahapan persidangan. Konsulat Jenderal memberikan uang jaminan atau bailout bagi buruh migran yang sedang menjalani persidangan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Hong Kong.

Pembelaan tertulis yang dilakukan Konsulat Jenderal, kata dia, berupa mitigation letter kepada hakim di pengadilan yang dipersiapkan oleh retainer lawyer, yakni advokat setempat yang dikontrak untuk waktu tertentu. Pengacara ini akan mewakili kepentingan Indonesia jika terjadi masalah hukum.

Chalief menambahkan, Konsulat Jenderal juga secara berkala melakukan pertemuan koordinasi dengan Departemen Imigrasi Hong Kong serta menyurati Chief Executive (CE) Hong Kong untuk menjelaskan kebijakan pengoreksian data paspor Republik Indonesia disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku di Indonesia dan Hong Kong.

Upaya tersebut akan ditindaklanjuti Konsulat Jenderal dengan mengupayakan pertemuan pejabat tinggi Pemerintah Indonesia dan pemerintah Hong Kong dalam waktu dekat untuk mencari solusi penyelesaian perbedaan data paspor WNI di Hong Kong. "Termasuk inisiasi penandatanganan memorandum of understanding  antara Departemen Imigrasi Hong Kong dengan Direktorat Jenderal Imigrasi," kata Chalief melalui WhatsApp, Selasa, 7 Juni 2016.

Konsul Imigrasi Konsulat Jenderal RI di Hong Kong, Andry Indrady, menambahkan dari sisi hubungan bilateral, sebenarnya Konsul Jenderal RI telah bertemu dengan CE Hong Kong pada awal Mei lalu untuk menjelaskan duduk perkara pelurusan data paspor yang dimiliki sejumlah buruh migran. "CE Hong Kong memahami pelurusan data paspor oleh Pemerintah Indonesia sebagai solusi dan bukan sebaliknya," ujar dia.

Berdasarkan data Konsulat Jenderal Hong Kong, saat ini ada 35 pekerja migran Indonesia yang data paspornya telah dikoreksi, yakni 14 orang di antaranya mendapat perpanjangan visa dari Departemen Imigrasi Hong Kong dengan identitas data diri otentik. Lalu, tiga orang BMI sudah divonis bersalah dan saat ini dipenjara. Sedangkan 18 buruh migran lagi sedang diperiksa oleh otoritas imigrasi setempat.

Sebelumnya, Jaringan Buruh Migran menuding upaya hukum yang ditempuh pemerintah melalui KJRI Hong Kong untuk membantu buruh migran yang tersangkut perkara pemalsuan data paspor tidak efektif. Mereka menuduh perlakuan Konsulat malah sangat mengecewakan.

Alih-alih bisa membebaskan buruh migran dari dakwaan, upaya hukum Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong malah menjerumuskan sang buruh migran sebagai pihak yang bersalah dan harus dihukum.

Tudingan Jaringan Buruh Migran itu terkait dengan hukuman yang dijatuhkan Pengadilan Hong Kong kepada sejumlah tenaga kerja Indonesia. Sejak Januari hingga awal Juni 2016 ada tujuh TKI yang divonis bersalah atas tuduhan pemalsuan identitas diri pada paspor. Mereka kini dipenjara.

Saat ini pun ada tiga orang yang jadi tahanan kota sampai nanti kasus mereka digelar di pengadilan, serta ada sekitar 17 pekerja migran yang dalam proses diinvestigasi oleh aparat imigrasi Hong Kong.

Dua dari tujuh orang yang dipenjara bernama Suyanti dan Dwi Murahati. Keduanya dari Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Pada 26 Mei Suyanti dijatuhi hukuman penjara 6 bulan oleh Pengadilan Shatin pada 26 Mei lalu. Pada 3 Juni kemarin, pengadilan yang sama memvonis Dwi Murahati dengan hukuman penjara 5 bulan.

ABDI PURMONO

Sumber: Tempo

Senin, 13 Juni 2016

TW Dipenjara Akibat Ulah PT

Persidangan WNI atas Terdakwa berinisial TW dengan Nomor Kasus KCCC 1544/2016 telah dilaksanakan pada hari Senin tanggal 13 Juni 2016 bertempat di Kowloon Court.
Pada tahun 2013 Terdakwa datang pertama kali ke Hong Kong untuk bekerja sebagai domestic helper dengan identitas data lahir di paspor yaitu Cilacap, 16 April 1982 yang diurus oleh PT.
Terdakwa TW  bekerja di  Hong kong  sampai dengan tahun 2015  dan izin batas tinggal di Hong Kong sampai dengan 29 Oktober 2015 tetapi setelah izin tinggalnya habis yang bersangkutan tidak meninggalkan Hong Kong sehingga menjadi overstay selama 6 bulan.
Terdakwa TW  ditangkap di pasar Sham Shui Po pada tanggal 27 April 2016 sehingga Terdakwa diperiksa serta diinterogasi oleh Polisi Sham Shui Po dan didapati ternyata KTP Indonesia dengan data yang ada di paspor dan HKID tidak sama dimana data lahirnya Cilacap, 16 April 1989.
Pada saat diinterogasi tersebut Terdakwa TW  mengaku kepada petugas Kepolisian Hong Kong bahwa memang terdapat perbedaan data kelahirannya pada KTP Indonesia, Paspor maupun HKID.
Pada persidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum membacakan dakwaannya bahwa Terdakwa TW   telah menggunakan dokumen yang palsu dan menggunakannya untuk keluar masuk Hong Kong selama 6 kali dan Terdakwa telah memberikan pernyataan palsu terhadap Petugas Imigrasi Hong Kong serta Terdakwa juga telah mengisi formulir permohonan HKID dengan menggunakan data palsu. Adapun hasil persidangannya Terdakwa TW  mengakui kesalahannya sehingga Hakim kemudian memutuskan hukuman penjara kepada yang bersangkutan selama 4 (empat) bulan.

Jumat, 10 Juni 2016

SA Diadili karena Dituduh Mencuri Daging Babi

Persidangan Warga Negara Indonesia atas Terdakwa berinisial SA (Ponorogo 24 April 1975) dengan nomor kasus STCC 1986/2016 telah dilaksanakan pada  hari Jum’at tanggal 10 Juni 2016, bertempat di Shatin Court.
Pada persidangan tersebut Terdakwa SA  diajukan ke persidangan dengan tuduhan telah melakukan pencurian di sebuah supermarket ternama di Hong Kong.
Terdakwa datang pertama kali ke Hong Kong bekerja sebagai domestic helper  pada tahun  2004 sampai dengan tahun 2006 bekerja dengan satu majikan dan kemudian Terdakwa SA berganti majikan dari tahun 2006 sampai dengan saat ini dan bekerja dengan majikan yang sama  di daerah Shatin.
Terdakwa SA pada tanggal 5 April 2016 sekitar pukul 12.20 pm pergi di supermarket daerah Shatin untuk berbelanja buah-buahan dan 2 pak daging babi, karena Tedakwa sibuk dengan telepon genggamnya sehingga Terdakwa mengaku lupa untuk mengeluarkan 2 pak daging babi  (seharga HKD 93.90) di kasir pada saat hendak membayar, akibatnya pada saat hendak  keluar dari supermarket  tersebut Terdakwa ditangkap oleh petugas supermarket yang dan pada waktu itu juga Terdakwa dilaporkan ke polisi dan Terdakwa membuat pernyataan telah mencuri 2 pak daging babi seharga HKD 93.90. Pada tanggal 28 April 2016 Terdakwa diinterogasi di kantor polisi Shatin dan diminta untuk menghadiri persidangan pada tanggal 10 Juni 2016.
Hasil persidangan tersebut, Terdakwa SA mengakui kesalahannya bahwa Terdakwa SA telah melakukan pencurian di supermarket sehingga Hakim kemudian menjatuhkan hukuman denda sebesar HKD 1.000  (seribu hongkong dollar ) dengan masa percobaan selama satu tahun. Dengan hukuman tersebut, maka Terdakwa SA  tidak perlu membayar denda tersebut dengan syarat selama satu tahun yang bersangkutan tidak melakukan lagi pelanggaran hukum di Hong Kong. Apabila  Terdakwa SA  melakukan pelanggaran hukum lagi di Hong Kong dalam kurun waktu satu tahun tersebut, maka yang bersangkutan harus membayar denda sebesar HKD 1.000  (seribu hongkong dollar) ditambah hukuman atas pelanggaran hukum yang baru dilakukan.
Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI HongKong