Jumat, 25 November 2016

Overstayer Tidak Mau Pulang ke Indonesia Memutuskan Mengajukan Paper




Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa SR (Jakarta, 23 Maret 1970), No. Kasus STCC 4222/2016 telah dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 25 November 2016  bertempat di Shatin Court  lantai 3 court 1.
Terdakwa dituduh telah melakukan pelanggaran Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah overstay selama 2 bulan dimana Terdakwa pertama kali ke Hong Kong pada tahun 1999 dan bekerja sebagai domestic helper dan telah berganti majikan beberapa kali di Hong Kong.
Pada tanggal 11 Agustus 2016 pada saat Terdakwa SR sedang berjalan di Mong Kok tiba-tiba ditangkap oleh Polisi Mong Kok dan kemudian dibawa ke kantor polisi di Mong Kok untuk diinterview dimana selanjutnya Terdakwa SR ditahan di Penjara Tai Lam yang kemudian dipindahkan ke Penjara Lowu untuk menanti persidangan.
Selain Terdakwa SR, pada kesempatan persidangan tersebut juga telah dilakukan pemeriksaan terhadap Warga Negara Indonesia lainnya yaitu atas nama Terdakwa UN (Subang, 23 Agustus 1974), No. Kasus STCC 4225/2016.
Terdakwa UN dituduh telah melakukan pelanggaran Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah overstay selama 2 bulan, Terdakwa pertama kali ke Hong Kong pada tahun 2009 dan bekerja sebagai domestic helper dan telah berganti majikan beberapa kali di Hong Kong.
Terdakwa UN telah meninggalkan rumah majikan sejak tanggal 2 Agustus 2016, dan Terdakwa ditangkap oleh polisi di Jordan pada tanggal 14 Oktober 2016, kemudian Terdakwa UN ditahan di penjara Tai Lam yang kemudian dipindahkan ke penjara Lowu untuk menanti persidangan.
Dalam persidangan tersebut Terdakwa SR dan Terdakwa UN mengakui kesalahannya yaitu telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong dengan telah overstay selama 2 bulan dimana kedua Terdakwa telah mengajukan paper sebanyak 2 kali tetapi permohonan papernya masih belum mendapatkan persetujuan dari pihak Imigrasi Hong Kong.
Hasil persidangan hari ini Hakim menyetujui permohonan bail out dari kedua Terdakwa dimana  masing masing Terdakwa diharuskan untuk membayar uang jaminan sebesar  HKD 500  (lima ratus Hong Kong dollar). Disamping itu Hakim juga memutuskan bahwa persidangan kedua Terdakwa ditunda sampai dengan tanggal 29 Desember 2016 guna memberikan kesempatan terakhir kepada kedua terdakwa untuk mengajukan permohonan papernya.