Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI Hong Kong

Jumat, 27 Januari 2017

DHS Dihukum Penjara Karena Mengambil Foto Anak Majikan saat Mandi

Persidangan Warga Negara Indonesia dengan Nomor Kasus KCCC 27/2017 atas nama Terdakwa berinisial DHS  (38 tahun asal Cirebon), HKID WX 342961 (8), telah dilaksanakan pada hari Jumat tanggal  27 Januari 2017 bertempat di Kowloon City Court lantai 5 court 1.
Terdakwa DHS  diajukan ke persidangan dengan tuduhan telah mengambil dan menyimpan salinan foto anak majikan yang bernuansa pornografi.
Terdakwa DHS datang pertama kali ke Hong Kong pada tanggal 12 Maret 2016 dan setelah bekerja selama 9 bulan 2 minggu Terdakwa DHS di terminate karena majikannya menemukan foto telanjang anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun ketika sedang mandi pada telepon genggam milik Terdakwa. Majikannya kemudian melaporkan Terdakwa ke kantor polisi Wan Chai.
Adapun hasil persidangan pada hari ini, tuduhan terhadap Terdakwa DHS  yaitu memiliki barang yang bernuansa pornografi itu telah dicabut tetapi tuduhannya menjadi memproduksi barang yang bersifat pornografi dengan korban anak majikan yang masih berusia  5 tahun. Disamping itu, pada persidangan hari ini Terdakwa  DHS telah mengaku bersalah dan meminta maaf sehingga Hakim kemudian  memutuskan bahwa Terdakwa dinyatakan bersalah dan oleh karenanya yang bersangkutan dijatuhi hukuman dengan pidana penjara selama 6 minggu. 

Karena Sakit, Akhirnya DP Ketahuan Overstay

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial DP  (47 tahun asal Purworejo), telah dilaksanakan pada hari Jumat tanggal  27 Januari 2017 bertempat di Shatin Court lantai  3 court 1.
Terdakwa DP  diajukan ke persidangan dengan tuduhan telah melanggar peraturan Keimigrasian Hong Kong yaitu telah overstay selama 8 tahun.
Terdakwa DP datang pertama kali ke Hong Kong pada tahun 1999  dan  selama bekerja di Hong Kong telah berganti tiga majikan dimana majikan yang terakhir berlokasi di daerah Hung Hom dan bekerja hanya sampai dengan tahun 2008. Setelah yang bersangkutan putus kontrak kerja dengan majikannya tersebut, Terdakwa  DP tidak juga mendapatkan majikan yang baru dan tidak juga meninggalkan Hong Kong sehingga yang bersangkutan akhirnya menjadi overstay di Hong Kong. 
Pada  bulan Desember  2016  Terdakwa DP  masuk rumah sakit di Kwong Wah  karena penyakit busung air yang dideritanya, dan pihak rumah sakit menghubungi polisi dan melaporkan Terdakwa DP karena Terdakwa DP tidak memiliki dokumen dan baru diketahui oleh pihak rumah sakit  bahwa Terdakwa DP  telah overstay.
Setelah keluar dari rumah sakit Kwong Wah, Terdakwa di bawa ke Kantor Imigrasi CIC  di Tuen Mun dan dilakukan interview serta interogasi terhadap dirinya. Dikarenakan sakit yang dideritanya maka Terdakwa DP masuk kembali ke rumah sakit QUEEN ELIZABETH untuk dirawat selama beberapa hari dan kemudian Terdakwa ditahan di penjara Tailam sampai menunggu hari persidangannya.
Adapun hasil persidangannya,  Terdakwa DP telah mengajukan banding terkait permohonan bail outtetapi Pengadilan Tinggi juga telah menolak  permohonan tersebut. Selanjutnya mengingat pada tanggal 24 Januari 2017 Terdakwa telah mengajukan paper dan sampai dengan saat ini masih dalam proses  maka  Hakim kemudian  memutuskan untuk menunda persidangan sampai dengan tanggal 13 Februari 2017.   

Kamis, 26 Januari 2017

Pengadilan Hadirkan Saksi-saksi dalam Persidangan THA

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial THA (47 tahun) telah dilaksanakan pada hari Kamis  tanggal  26 Januari 2017 bertempat di Kowloon City Court.
Terdakwa THA  diajukan ke persidangan dengan tuduhan telah melakukan penganiayaan yang menyebabkan luka serius terhadap majikannya Lee Yuen Ping dikarenakan pada tanggal 5 Oktober 2016 yang bersangkutan telah mendorong majikannya hingga terjatuh di kamar rumah kediamannya Flat 10A, lantai 17 Mei Foo Sun Chuen, No. 10 Nassau street, Mei Foo, Kowloon.
Pada hari ini telah dibacakan kembali tuduhan terhadap  Terdakwa THA  namun Terdakwa  THA tetap tidak mengakui bahwa dirinya telah melakukan penganiayaan  terhadap majikannya. Selanjutnya pada persidangan hari ini telah dihadirkan 2 orang saksi yaitu korban yang merupakan majikan Terdakwa dan Agen yang memperkenalkan Terdakwa dengan majikannya.
Dalam keterangannya, Saksi Korban mengaku telah didorong oleh Terdakwa THA sehingga majikannya tersebut dirawat di rumah sakit dan bagian lengan kiri majikan juga sakit dan hingga saat ini masih harus menjalani terapi setiap dua kali dalam seminggu. Sedangkan Saksi dari Agen memberikan keterangan bahwa benar dirinya yang telah mengenalkan Terdakwa THA dengan majikannya dan kedua belah pihak juga telah menyampaikan adanya kejadian atau permasalahan tersebut kepada pihak Agen.
Selanjutnya hasil persidangannya, setelah mendengarkan kesaksian dari pihak korban dan dari pihak Agen tersebut, maka Hakim memutuskan untuk menunda persidangan sampai dengan tanggal 2 Februari 2017 dengan agenda pembacaan putusan.

Rabu, 25 Januari 2017

Kunjungan ke Penjara Lo Wu, 25 Januari 2017

Tanggal 25 Januari 2017 Tim Citizen Service KJRI Hong Kong melakukan kunjungan ke Rumah Tahanan Lo Wu Correctional Institution. Dalam kesempatan kunjungan tersebut, Tim Citizen Service KJRI Hong Kong telah melakukan pertemuan dengan Warga Negara Indonesia yang sedang menjalani hukuman sebanyak 63 orang yang dibagi dalam 3 (tiga) sesi dimana pada sesi pertama bertemu dengan narapidana sebanyak 33 (tiga puluh tiga) orang. Selanjutnya pada sesi kedua bertemu dengan narapidana sebanyak 2 (dua) orang dan pada sesi ketiga bertemu dengan narapidana sebanyak 26 (dua puluh enam) orang dari 28 (dua puluh delapan) narapidana yang diinformasikan pihak penjara.
Adapun data Warga Negara Indonesia yang bermasalah dengan hukum di Lo Wu Correctional Institution sampai dengan saat ini terdiri dari :

No
Status
Jumlah
1
Tahanan
2 orang
2
Narapidana
61 orang
T O T A L
63 orang

Kemudian berdasarkan pendataan yang dilakukan terhadap WNI yang berada di Lo Wu Correctional Institution sesuai klasifikasi tindak pidana yang dilakukan adalah sebagai berikut :
No
Status
Jumlah
1
Narkotika
15  orang
2
Pencurian
10  orang
3
Pelanggaran Ijin Tinggal
15  orang
4
Dokumen Palsu
2  orang
5
Menggunakan ID Orang Lain
6  orang
6
Paper Kerja
6  orang
7
Lain-lain
9  orang
T O T A L
63 orang

Disamping itu dalam kunjungan tersebut, Tim Citizen Service telah memberikan barang berupa lipbalm kepada seluruh WNI yang berada di Lo Wu Correctional Institution serta beberapa barang lainnya sesuai permintaan dari WNI pada kunjungan sebelumnya seperti Al Qur’an, buku Yasin, Novel, pensil warna, majalah, kamus bahasa Inggris, dll.
Secara umum kondisi para WNI yang berada di Lo Wu Correctional Institution sehat dan baik serta diperlakukan secara wajar oleh pihak penjara.


Selasa, 24 Januari 2017

BMI Asal Ponorogo Divonis 3 bulan Penjara karena Overstay


Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial MAR (42 tahun asal Ponorogo) telah dilaksanakan pada hari Jumat  tanggal 24 Januari 2017 bertempat di Shatin Court lantai  5 court 5;

Terdakwa MAR diajukan ke persidangan dengan tuduhan telah melanggar peraturan Keimigrasian Hong Kong yaitu telah overstay selama 3 tahun 7 bulan ;

Terdakwa MAR datang pertama kali ke Hong Kong pada tahun 2003 dan  bekerja di Hong Kong sebagai domestic helper dimana yang bersangkutan telah berganti majikan sebanyak 3 kali. Adapun majikan terakhir dari Terdakwa MAR  berlokasi di daerah Shatin dan Terdakwa MAR bekerja hanya selama 1 tahun, kemudian  mengajukan break kontrak  dan izin tinggal di Hong Kong hanya sampai dengan tanggal 21 Mei 2013. Setelah Terdakwa MAR break kontrak, yang bersangkutan tidak juga mendapatkan majikan baru dan tidak juga meninggalkan Hong Kong sehingga yang bersangkutan akhirnya menjadi overstay di Hong Kong ;  

Pada tanggal 22 Desember 2016  Terdakwa MAR menyerahkan diri ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay dikarenakan Terdakwa MAR berkeinginan untuk pulang ke tanah air dimana Terdakwa MAR kemudian di interview dan di interogasi oleh petugas Imigrasi di Kowloon Bay dan yang bersangkutan mengakui bahwa dirinya telah bersalah dengan status overstay di Hong Kong selama 3 tahun 7 bulan ;

Pada  persidangan hari ini  Terdakwa MAR mengakui perbuatannya yang telah melanggar peraturan Keimigrasian yaitu telah overstay selama 3 tahun 7 bulan ;

Adapun hasil persidangan pada hari ini, Hakim menyatakan bahwa Terdakwa MAR bersalah karena telah melakukan pelanggaran Keimigrasian di Hong Kong dan oleh karenanya  Hakim kemudian  memutuskan untuk menjatuhkan hukuman kepada Terdakwa MAR dengan pidana penjara selama 3 bulan.   

Persidangan HAR Ditunda Sampai Akhir April 2017


Persidangan WNI atas nama Terdakwa HAR  (32 tahun asal Magetan) telah dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 24 Januari  2017 bertempat di Shatin Court lantai  3 court 1.
Terdakwa HAR pertama kali datang ke Hong Kong pada tahun 2010 dan bekerja hanya selama 1 bulan  pada majikan yang berlokasi di South Horizon  kemudian di-terminate  oleh  majikan.
Pada tahun 2014 Terdakwa HAR datang kembali ke Hong Kong untuk bekerja sebagai domestic helper dan bekerja pada majikan yang berlokasi di Yuen Long hingga finish kontrak selama 2 tahun.
Pada bulan April 2016  pada  saat Terdakwa HAR hendak memperpanjang kontrak kerjanya dengan majikan yang sama di Imigrasi Hong Kong yang bersangkutan diminta untuk datang ke Kantor Imigrasi Kowloon Bay dikarenakan terdapat perbedaan data pada dokumen Terdakwa HAR.
Terdakwa HAR  dituduh telah melakukan pelanggaran Keimigrasian di Hong Kong dengan memberikan informasi dan data yang tidak benar / palsu yang mana data yang ada di Paspor tidak sesuai dengan Kartu Keluarga Terdakwa HAR yang terdapat di Imigrasi Hong Kong.
Selama menjalani proses persidangan Terdakwa HAR  diizinkan bailout dengan uang jaminan sebesar HK$ 100 (seratus Hong Kong dollar)  dan saat ini Terdakwa ditampung oleh agennya yang bernama Safe Trading di Yuen Long,
Hasil persidangannya, Jaksa Penuntut Umum mengajukan permohoan kepada Hakim untuk menunda persidangan selama 3 bulan dan Hakim menyetujui permohonan tersebut sehingga Hakim kemudian memutuskan persidangan ditunda sampai dengan tanggal 24 April 2017.                

Senin, 23 Januari 2017

DP, Migran Asal Purworejo, Diadili karena Overstay

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial DP  (46 tahun asal Purworejo) telah dilaksanakan pada hari Senin tanggal  23 Januari 2017 bertempat di Shatin Court lantai  3 court 1.
Terdakwa DP  diajukan ke persidangan dengan tuduhan telah melanggar peraturan Keimigrasian Hong Kong yaitu telah overstay selama 8 tahun.
Terdakwa DP datang pertama kali ke Hong Kong pada tahun 1999  dan  selama bekerja di Hong Kong telah berganti tiga majikan dimana majikan yang terakhir berlokasi di daerah Hung Hom dan bekerja hanya sampai dengan tahun 2008. Setelah yang bersangkutan putus kontrak kerja dengan majikannya tersebut, Terdakwa  DP tidak juga mendapatkan majikan yang baru dan tidak juga meninggalkan Hong Kong sehingga yang bersangkutan akhirnya menjadi overstay di Hong Kong.
Pada  bulan Desember  2016  Terdakwa DP  masuk rumah sakit di Kwong Wah  karena penyakit busung air yang dideritanya, dan pihak rumah sakit menghubungi polisi dan melaporkan Terdakwa DP karena Terdakwa DP tidak memiliki dokumen dan baru diketahui oleh pihak rumah sakit  bahwa Terdakwa DP  telah overstay.
Setelah keluar dari rumah sakit Kwong Wah, Terdakwa di bawa ke Kantor Imigrasi CIC  di Tuen Mun dan dilakukan interview serta interogasi terhadap dirinya. Dikarenakan sakit yang dideritanya maka Terdakwa DP masuk kembali ke rumah sakit QUEEN ELIZABETH untuk dirawat selama beberapa hari dan kemudian Terdakwa di tahan di penjara Tai Lam sampai menunggu hari persidangannya.
Adapun hasil persidangannya,  Terdakwa DP melalui pengacaranya mengajukan bail out dengan uang jaminan sebesar HKD 1,000 (seribu Hong Kong dollar) namun permohonannya tersebut ditolak oleh Hakim. Selanjutnya mengingat pada tanggal 9 Januari 2017  Terdakwa DP telah mengajukan paperkepada Imigrasi Hong Kong, maka  Hakim kemudian  memutuskan untuk menunda persidangan sampai dengan tanggal 27 Januari 2017.    

Jumat, 20 Januari 2017

SR Overstay Diganjar Kurungan Penjara 3 Bulan

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama  Terdakwa  berinisial  SR (38 tahun asal Madiun)  telah dilaksanakan pada hari Jumat  tanggal 20 Januari 2017 bertempat di Sha TinCourt   lantai  5 court 5.
Terdakwa SR diajukan ke persidangan dengan tuduhan telah melanggar peraturan Keimigrasian Hong Kong yaitu telah overstay selama 4 tahun 7 bulan.
Terdakwa SR datang pertama kali ke Hong Kong pada tahun 2011 dan  bekerja di Hong Kong  hanya sampai dengan bulan Juni 2012 karena diberhentikan oleh majikannya. Kemudian karena Terdakwa SR tidak juga mendapatkan majikan baru dan tidak juga meninggalkan Hong Kong maka yang bersangkutan akhirnya menjadi overstay di Hong Kong.
Pada tanggal 10 Januari 2017 Terdakwa SR menyerahkan diri ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay dikarenakan Terdakwa SR  berkeinginan untuk pulang ke tanah air dimana Terdakwa SR  kemudian di interview dan di interogasi oleh petugas Imigrasi di Kowloon Bay dan yang bersangkutan mengakui bahwa dirinya telah bersalah dengan status overstay di Hong Kong selama 4 tahun 7 bulan.  Terdakwa SR diizinkan untuk tinggal di luar dengan jaminan sebesar HKD 100 (seratus Hong Kong dollar) sambil menunggu hari persidangannya.
Pada  persidangan tersebut Terdakwa SR  mengakui perbuatannya yang telah melanggar peraturan Keimigrasian yaitu telah overstay selama 4 tahun 7 bulan.
Adapun hasil persidangannya, Hakim menyatakan bahwa Terdakwa SR bersalah karena telah melakukan pelanggaran Keimigrasian di Hong Kong dan oleh karenanya Hakim kemudian  memutuskan untuk menjatuhkan hukuman kepada Terdakwa SR dengan pidana penjara selama 3 bulan.   

Kamis, 19 Januari 2017

NB Ditangkap Polisi dan Disidangkan karena Diduga telah Menganiaya Anak Kecil

Persidangan WNI dengan nomor kasus TMCC 97/2017 atas nama Terdakwa berinisial NB (36 tahun asal Blitar) telah dilaksanakan pada hari Kamis  tanggal 19 Januari 2017 bertempat di Tuen Mun t Court  lantai 3 court 2. Terdakwa NB  diajukan ke persidangan dengan dakwaan telah melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap anak kecil perempuan berusia 3,5 tahun  di rumah majikannya yang berlokasi di daerah Tuen Mun.

Terdakwa NB datang pertama kali  ke Hong Kong pada tanggal 17 Desember 2015 untuk bekerja sebagai domestic helper dan bekerja dengan majikan yang berlokasi di daerah Tuen Mun.
Pada tanggal 9 Januari 2017 Terdakwa NB  ditangkap di rumah majikannya  oleh polisi Tuen Mun yang mendapatkan laporan dari tetangga rumah majikannya karena Terdakwa NB dituduh telah menganiaya seorang anak kecil perempuan yang berusia 3,5 tahun.
Terdakwa kemudian dibawa ke kantor polisi di Tuen Mun guna  diinterview dan diinterogasi oleh polisi yang kemudian Terdakwa NB  dimasukkan ke dalam penjara Tai Lam Centre for Women sejak tanggal 11 Januari 2017.
Pada persidangan terdahulu Terdakwa NB tidak mengakui perbuatannya telah menganiaya seorang anak kecil perempuan berusia 3,5 tahun.
Pada hari ini Terdakwa NB diizinkan untuk bail out dengan uang jaminan sebesar HKD 200 (dua ratus hongkong dollar) dan dengan mediasi dari pihak KJRI saat ini Terdakwa NB ditampung di shelter agennya yang berlokasi di Tuen Wan, dan pengadilan pun menyatakan bahwa Terdakwa NB  diwajibkan untuk melapor diri setiap hari Senin, Rabu dan Jumat ke kantor Polisi di Wan Chai antara  jam 2-5 sore sampai dengan tanggal persidangan berikutnya.
Hasil persidangan hari ini, mengingat Terdakwa NB tidak mengakui perbuatannya, maka Hakim memutuskan untuk menunda persidangan sampai dengan tanggal 23 Februari 2017.

Rabu, 18 Januari 2017

Terpidana Kasus Pencurian Divonis 18 Bulan Penjara

Persidangan WNI dengan nomor kasus DCCC 867/2016 atas nama Terdakwa berinisial RO (30 tahun asal Lampung) telah dilaksanakan pada hari Rabu  tanggal 18 Januari 2017 bertempat di District Court  lantai 9 court 28. Terdakwa RO  diajukan ke persidangan dengan dakwaan telah melakukan tindak pidana pencurian di rumah majikannya yang berlokasi di daerah Central Hong Kong.

Terdakwa RO datang ke Hong Kong untuk bekerja sebagai domestic helper dimana  kontrak kerja dengan majikannya berakhir  pada tanggal 28 Juni 2016. Pada saat kontrak kerjanya berakhir dan Terdakwa RO akan meninggalkan rumah majikannya ternyata dalam kopernya telah ditemukan beberapa barang berharga milik majikannya  antara lain : 3 buah tas tangan, 2 buah perhiasan dari kristal,  6 buah cincin, 5 buah gelang tangan, 3 pasang anting-anting, 4 buah kalung, beberapa liontin dan 3 pasang sepatu, dengan nilai keseluruhannya kurang lebih sebesar HKD  561,400  (lima ratus enam puluh satu ribu empat ratus Hong Kong dollar) sehingga Terdakwa RO kemudian dilaporkan  oleh majikannya  ke pihak Kepolisian.
Berdasarkan laporan dari majikannya tersebut maka Terdakwa RO kemudian ditangkap oleh Petugas Kepolisian Central dan dibawa ke Kantor Kepolisian Central untuk di interogasi. Selanjutnya pada tanggal 29 Juni 2016 Terdakwa RO dibawa ke rumah tahanan di Tai Lam Centre for Women yang kemudian Terdakwa dipindahkan ke Lowu Correctional Institution pada tanggal 2 Juli 2016 sampai dengan saat ini.
Terdakwa RO telah mengakui kesalahannya pada saat diinterogasi oleh petugas Kepolisian Central bahwa dirinya telah melakukan pencurian di rumah majikannya.
Hasil persidangan hari ini, mengingat Terdakwa RO telah mengakui perbuatannya yaitu telah melakukan pencurian barang-barang milik majikannya maka Hakim kemudian memutuskan Terdakwa RO dinyatakan bersalah dan oleh karenanya yang bersangkutan dijatuhi hukuman berupa pidana penjara selama 18 bulan.

Selasa, 17 Januari 2017

Bagaimana Cara Melakukan Gugatan Cerai Jarak Jauh?

Pertanyaan :

Kepada yang terhormat Bapak pengasuh rubrik Konsultasi Hukum di Koran Berita Indonesia. Perkenalkan nama saya Ernawati, saat ini tinggal di daerah Taiko Sing. Pada kesempatan ini saya mohon pencerahannya terkait dengan rencana saya untuk mengajukan perceraian jarak jauh. Apakah KJRI dapat memberikan bantuan kepada BMI yang hendak mengajukan perceraian ? Jika dapat, kira-kira dalam bentuk apa bantuan yang dapat diberikan ? Selanjutnya mohon dijelaskan juga bagaimana caranya utuk melakukan perceraian jarak jauh, dikarenakan yang bersangkutan tidak bisa pulang ke Indonesia untuk mengajukan gugatan sendiri maupun menghadiri persidangan mengingat keadaan yang tidak memungkinkan baik terkait masalah cuti maupun biaya perjalanan. Demikian atas penjelasannya diucapkan banyak terima kasih.

Salam hormat, Ernawati.


Jawaban  :

Terimakasih atas pertanyaan yang Mbak Ernawati sampaikan pada rubrik Konsultasi Hukum ini. Kami turut prihatin dengan permasalahan yang sedang anda alami sekarang mengingat pada prinsipnya setiap perkawinan adalah bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal sehingga dalam setiap permasalahan yang timbul dalam kehidupan perkawinan diharapkan dapat dilakukan upaya yang maksimal untuk mencari jalan keluar yang terbaik untuk semua pihak dan mempertahankan keutuhan rumah tangga.

Selanjutnya terkait dengan pengajuan gugatan cerai tersebut KJRI hanya dapat memberikan bantuan kepada BMI dalam bentuk konsultasi serta legalisasi berbagai dokumen yang diperlukan dalam proses pengajuan gugatan perceraian tersebut.

Adapun mengenai cara mengajukan gugatan perceraian jarak jauh karena yang bersangkutan (penggugat) tidak bisa pulang ke Indonesia pada pokoknya dapat kami sampaikan sebagai berikut  :
1.         Berdasarkan Pasal 39 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dijelaskan bahwa :
Ø   Perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak ;
Ø   Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami isteri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami isteri ;
Ø   Tata cara perceraian di depan sidang pengadilan diatur dalam peraturan perundangan sendiri.

2.         Apabila anda yang mengajukan gugatan perceraian, berarti anda adalah Pihak Penggugat dan suami adalah Pihak Tergugat. Selanjutnya untuk mengajukan gugatan perceraian, anda atau Kuasa Hukum atau Kuasa Insidentil mendatangi Pengadilan Agama (PA) di wilayah tempat tinggal anda namun karena anda saat ini tinggal di luar negeri maka gugatan diajukan di Pengadilan Agama wilayah tempat tinggal suami selaku Pihak Tergugat.

3.         Merujuk pada Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam dan Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, ada beberapa alasan yang dapat dijadikan sebagai dasar gugatan perceraian yang diajukan di Pengadilan Agama yaitu :
v   Suami berbuat zina, pemabuk, pemadat, penjudi dan sebagainya ;
v   Suami meninggalkan Anda selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa ada ijin atau alasan yang jelas dan benar ;
v   Suami dihukum penjara selama 5 (lima) tahun atau lebih setelah perkawinan dilangsungkan ;
v   Suami bertindak kejam dan suka menganiaya Anda ;
v   Suami tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami karena cacat badan atau penyakit yang dideritanya ;
v   Terjadi perselisihan dan pertengkaran terus menerus tanpa kemungkinan untuk rukun kembali ;
v   Suami melanggar taklik talak yang dia ucapkan saat ijab kabul ;
v   Suami beralih agama atau murtad yang mengakibatkan ketidakharmonisan dalam keluarga.

4.         Sebagaimana yang telah diuraikan pada point 2 di atas, mengingat Anda tinggal di luar negeri dan tidak dapat pulang ke Indonesia maka untuk mengajukan gugatan perceraian Anda dapat menguasakannya melalui Surat Kuasa kepada Advokat ataupun Saudara Anda dengan menggunakan Kuasa Insidentil dimana domisili kuasa hukum Anda ataupun yang diberikan kuasa dapat dipilih sebagai domisili Anda sebagai Penggugat.

5.         Selain memberikan Surat Kuasa kepada seorang Advokat / Pengacara untuk mewakili kepentingan Anda saat akan mengajukan gugatan perceraian maka Anda juga dapat memberikan Surat Kuasa kepada seseorang yang masih mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda yang selanjutnya disebut sebagai Kuasa Insidentil. Kuasa insidentil ini dapat diberikan apabila memenuhi syarat kuasa insidentil. Surat Kuasa Insidentil hanya dapat diberikan setelah mendapatkan ijin dari Ketua Pengadilan jika Penerima Kuasa memenuhi syarat-syarat sebagai berikut  :
Ø   Penerima Kuasa tidak berprofesi sebagai advokat / pengacara ;
Ø   Penerima Kuasa adalah orang yang mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda dengan Pemberi Kuasa sampai derajat ketiga yang dibuktiokan dengan Surat Keterangan Hubungan Keluarga dari Lurah / Kepala Desa ;
Ø   Tidak menerima imbalan jasa atau upah ;
Ø   Sepanjang tahun berjalan belum pernah bertindak sebagai Kuasa Insidentil pada perkara yang lain.


6.         Dapat kami sampaikan juga bahwa Surat Kuasa baik yang diberikan kepada Advokat / Pengacara maupun yang diberikan kepada keluarga sebagai Kuasa Insidentil sebelum diajukan ke Pengadilan terkait gugatan perceraian harus dilegalisasi terlebih dahulu oleh Bidang Konsuler di KJRI.  
Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI HongKong