Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI Hong Kong

Senin, 31 Juli 2017

RPS Ditangkap Karena Status Papernya Tidak Diperbaharui

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa RPS (29 tahun asal Kediri) telah dilaksanakan pada hari Senin tanggal 31  Juli 2017 bertempat di Pengadilan Shatin lantai 3 court 1.
Terdakwa RPS datang ke Hong Kong pada tahun 2009 dan bekerja sebagai domestic helper dimana yang bersangkutan telah berganti beberapa kali majikan di Hong Kong dan sebelum kontraknya habis Terdakwa RPS telah diputus kontraknya pada bulan Maret  2013.
Dengan diputusnya kontrak tersebut maka Terdakwa RPS  seharusnya telah meninggalkan Hong Kong karena sampai batas waktu yang ditentukan yang bersangkutan tidak juga mendapatkan majikan yang baru namun yang bersangkutan masih tetap berada di Hong Kong sampai akhirnya menjadi overstay selama  3 tahun.
Pada  tahun 2014  Terdakwa  RPS menyerahkan  diri  ke Kantor Imigrasi di Ma Tao Kok dan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap Terdakwa RPS, yang bersangkutan kemudian mengajukan paper ke Imigrasi Hong Kong  dan permohonan papernya mendapatkan persetujuan dari Kantor Imigrasi Hong Kong sehingga Terdakwa RPS akhirnya  dibebaskan.
Pada tanggal 19 Juli 2017 Terdakwa RPS kembali ditangkap oleh petugas dan kemudian dilakukan interogasi  hingga akhirnya  pada tanggal 24 Juli 2017 Terdakwa RPS ditahan di penjara Tai Lam sampai dengan menunggu hari persidangannya dikarenakan yang bersangkutan telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong  yaitu surat keterangan paper yang telah diberikan kepada Terdakwa RPS telah berakhir dan Terdakwa wajib melaporkan diri serta mendaftarkan diri kembali untuk mengajukan paper yang baru namun hal tersebut tidak dilakukan oleh yang bersangkutan.
Dengan adanya pelanggaran tersebut maka kasus overstay yang telah ditunda karena papernya telah disetujui kemudian disidangkan kembali atas tuduhan bahwa Terdakwa RPS telah melanggar peraturan  Keimigrasian  di  Hong Kong  dengan  overstay selama  3 tahun.
Adapun hasil persidangan pada hari ini yaitu Terdakwa RPS selama dalam tahanan telah mengajukan  banding untuk mengajukan kembali papernya kepada Imigrasi Hong Kong, karena sampai saat ini Imigrasi Hong Kong masih belum menerima permohonan papernya yang baru maka Hakim memutuskan untuk menunda persidangan perkara atas nama Terdakwa RPS sampai dengan tanggal 7 Agustus 2017.


Kamis, 27 Juli 2017

Karena Lupa Bayar Belanjaan, RIS Ditangkap Polisi dan Disidangkan

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial RIS (33 tahun asal Madiun) telah dilaksanakan pada hari Kamis  tanggal  27  Juli  2017 bertempat di Shatin  Court  lantai  6 court  1.
Terdakwa RIS pada bulan Juli 2015 datang  ke Hong Kong dan bekerja sebagai domestic helper dengan majikan yang berlokasi di daerah Shatin.
Terdakwa RIS pada tanggal 16 Juli  2017  berbelanja ke supermarket Park n Shop di daerah Shatin, namun Terdakwa tidak melakukan pembayaran ke kasir, barang yang telah diambilnya itu adalah sebungkus buah Cherry, beberapa buah Kiwi  dengan jumlah keseluruhan sebesar HKD 55 (lima puluh lima Hong Kong dollar).
Pada saat Terdakwa hendak meninggalkan supermarket tersebut petugas supermarket menghadang dan melaporkannya ke polisi setempat dimana pada hari yang sama Terdakwa kemudian di bawa ke Kantor Polisi setempat untuk di interview dan diinterogasi  namun Terdakwa menyatakan bahwa dirinya tidak ada maksud untuk mencuri hanya Terdakwa lupa untuk membayarnya ke kasir. Terdakwa diizinkan bail out dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 1.000 (seribu Hong Kong dollar) dan diizinkan untuk menunggu di rumah majikan selama menunggu hari persidangannya.

Adapun hasil persidangan pada hari ini, hanya dibacakan saja dakwaan terhadap Terdakwa RIS  bahwa dirinya dituduh telah melakukan pencurian di Supermarket  Park n Shop di daerah Shatin, dan Hakim kemudian memutuskan untuk menunda persidangan perkara atas nama Terdakwa RIS sampai dengan tanggal 24 Agustus 2017.

Rabu, 26 Juli 2017

SW Dipenjara karena Melanggar Peraturan Keimigrasian Hong Kong

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial SW berusia 35 tahun, telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 26 Juli 2017 bertempat di Pengadillan Shatin lantai  3 court 1.
Terdakwa SW datang ke Hong Kong pada tahun 2011 dan bekerja sebagai domestic helper dimana yang bersangkutan telah berganti beberapa kali majikan di Hong Kong dan sebelum kontraknya habis Terdakwa SW telah diputus kontraknya sehingga pada tanggal 20 Desember 2011 Terdakwa SR) WAHYUNI seharusnya telah meninggalkan Hong Kong namun yang bersangkutan masih tetap berada di Hong Kong dan akhirnya menjadi overstay selama 2 tahun 2 bulan.
Pada tanggal 11 Maret 2014 Terdakwa SW menyerahkan diri ke Kantor Imigrasi di Ma Tao Kok dan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap Terdakwa SW, yang bersangkutan kemudian di tahan sampai dengan tanggal 1 April 2014 di penjara Tai Lam. Selanjutnya karena Terdakwa SW mengajukan paper dan permohonan papernya tersebut mendapatkan persetujuan dari Kantor Imigrasi Hong Kong maka Terdakwa SW akhirnya  dibebaskan.
Pada tanggal 19 Juli 2017 Terdakwa SW kembali ditangkap dan ditahan di penjara Tai Lam dikarenakan yang bersangkutan telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu surat keterangan paper yang telah diberikan kepada Terdakwa SW telah berakhir dan Terdakwa wajib melaporkan diri serta mendaftarkan diri kembali untuk mengajukan paper yang baru namun Terdakwa SW tidak melakukannya, sehingga kasusnya yang telah ditunda karena papernya telah disetujui kemudian disidangkan kembali atas tuduhan bahwa Terdakwa SW telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong dengan overstay selama 2 tahun 2 bulan.
Adapun hasil persidangan pada hari ini yaitu bahwa Terdakwa SW mengakui kesalahannya sehingga Hakim kemudian menyatakan bahwa Terdakwa SW dinyatakan bersalah dan oleh karenanya Hakim menjatuhkan vonis hukuman penjara kepada yang bersangkutan selama 49 hari dikurangi selama Terdakwa SW sempat ditahan di penjara Tai Lam selama 22 hari, sehingga Terdakwa SW hanya diwajibkan untuk menjalani hukuman penjara selama 27 hari.


Jumat, 21 Juli 2017

Setelah Ditangkap karena Overstay, RA Akhirnya Mengajukan Status Paper

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial RA (36 tahun asal Cirebon) telah dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 21 Juli 2017 bertempat di pengadillan Shatin lantai 3 court 1.
Terdakwa RA datang ke Hong Kong sejak tahun 2007 dan bekerja sebagai domestic helper, majikan  terakhir dimana Terdakwa RA bekerja berlokasi di daerah Ho Man Tin, namun sebelum Kontrak Kerjanya berakhir Terdakwa RA telah memutuskan Kontrak Kerjanya, sehingga yang bersangkutan hanya bekerja selama 5 bulan saja sampai dengan bulan September 2016.
Setelah memutuskan Kontrak Kerjanya tersebut, Terdakwa RA tidak juga mendapatkan majikan yang baru hingga batas izin tinggalnya di Hong Kong telah habis tetapi yang bersangkutan masih tetap berada di Hong Kong dan akhirnya menjadi overstay selama 6 bulan.
Pada tanggal  14 Maret  2017 Terdakwa RA datang ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay untuk menyerahkan diri dan setelah petugas Imigrasi menginterogasi Terdakwa RA maka Terdakwa RA diizinkan untuk bail out dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 100 (seratus Hong Kong dollar) dan  Terdakwa RA diizinkan untuk tinggal bersama temannya sampai menunggu hari persidangannya.

Adapun hasil persidangan pada hari ini Hakim memutuskan  bahwa dakwaan terhadap Terdakwa  RA yaitu telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong dengan overstay selama 6 bulan telah dibatalkan dikarenakan permohonan paper dari yang bersangkutan telah disetujui dan oleh karenanya Terdakwa RA  diizinkan untuk mengambil kembali uang jaminannya yang sebesar HKD 100 (seratus Hong Kong dollar).

Kamis, 20 Juli 2017

Sidang SA Ditunda, Hakim Tolak Permohonan Bail Out-nya


Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa SA (44 tahun asal Blora) telah dilaksanakan pada hari Kamis  tanggal 20 Juli 2017 bertempat di Tuen Mun  Court  lantai  3  court 1.
Terdakwa SA datang ke Hong Kong pada  tanggal 13 Februari 2014  dan bekerja sebagai domestic helper dimana setelah kontraknya habis Terdakwa SA kemudian memperpanjang kontrak dengan majikannya yang sama dan bekerja hingga saat ini.
Pada tanggal  11 Juli 2017 tiba-tiba beberapa orang polisi datang ke rumah majikan untuk menangkap  Terdakwa SA dengan tuduhan bahwa Terdakwa SA telah melakukan penganiayaan terhadap bayi majikan yang dirawatnya dan  saat ini  berusia 2 bulan.
Terdakwa SA pada hari yang sama kemudian di bawa ke Kantor  Polisi untuk diinterview dan diinterogasi guna mendapatkan informasi yang lebih jelas dimana pada kesempatan tersebut Terdakwa SITI  AMINAH menjelaskan bahwa pada tanggal 2 Juli 2017  saat Terdakwa SA meninggalkan  bayi yang berusia 2 bulan itu sedang tertidur di tempat tidurnya, yang bersangkutan tidak mengetahui jika kakak dari bayi yang berusia 2 bulan itu datang menghampiri bayi  tersebut dan ketika Terdakwa SA kembali ke kamar tidur bayi ternyata bayi yang dirawatnya tersebut sudah jatuh dilantai dan dalam kondisi sedang menangis.
Adapun hasil persidangan pada hari ini yaitu bahwa permohonan  kedua  untuk mengajukan bail out dari Terdakwa SA telah ditolak oleh Hakim, dan Hakim juga memutuskan bahwa sidang Terdakwa SA akan ditunda sampai dengan tanggal 23 Agustus 2017 dimana sambil menunggu persidangan berikutnya Terdakwa SA akan tetap di tahan di penjara Tailam Centre for Women.

Selasa, 18 Juli 2017

KJRI Hong Kong Ajak Peserta Magang Fungsi Kejaksaan Kunjungi WNI di Penjara Tai Lam

Pada hari Selasa tanggal 18 Juli 2017, Peserta Program Jaksa Magang yang berjumlah 6 (enam) orang berkesempatan untuk ikut dalam kunjungan dinas ke Rumah Tahanan Tai Lam Centre for Woman bersama-sama dengan Konsul Kejaksaan, dan 3 (tiga) orang staff. Kunjungan ke penjara tersebut  selain dimaksudkan sebagai sarana monitoring WNI yang bermasalah hukum di Hong Kong juga dimaksudkan untuk mengenalkan kepada para Peserta Program Jaksa Magang terkait dengan sistem dan mekanisme Pemerintah Hong Kong dalam menangani para tahanan maupun Narapidana khususnya yang berasal dari Indonesia yang saat ini berada di Penjara Tai Lam Centre for Woman.
Pada kunjungan tersebut Tim dapat menemui 14 (empat belas) dari 18 (delapan belas) orang Warga Negara Indonesia perempuan yang terdiri dari 10 (sepuluh) orang berstatus tahanan dan 8 (delapan) orang berstatus narapidana, sedangkan 4 (empat) orang lainnya tidak bersedia untuk ditemui.
Adapun data tahanan berdasarkan kasusnya adalah sebagai berikut :
NO
TINDAK PIDANA
NAPI
TAHANAN
JUMLAH
1
Narkotika
2
5
7
2
Pencurian
0
2
2
3
Pemalsuan Dokumen
1
0
1
4
ID Orang Lain
1
0
1
5
Paper Kerja
0
0
0
6
BOC (Overstay)
2
0
2
7
Lain-lain
2
3
5
TOTAL
8
10
18
Tim Citizen Service pada kunjungan tersebut membawakan barang-barang keperluan untuk para tahanan seperti shampo, body lotion, hand body, Al-Quran, pensil warna, buku bacaan, al-kitab, dll.
Tim Citizen Service pada kesempatan tersebut juga memberikan konsultasi dan layanan pengaduan kepada WNI terkait dengan permasalahan upaya hukum banding yang diajukan oleh 2 orang narapidana kasus narkotika serta berbagai keluhan tahanan lainnya selama menjalani masa hukuman di Tai Lam Centre for Women. Selain itu Tim Citizen Service juga melakukan pendataan ulang terhadap identitas para WNI yang saat ini berada di penjara Tai Lam Centre for Women;
Secara umum seluruh Warga Negara Indonesia yang berada di penjara Tai Lam Centre for Woman dalam keadaan baik serta diperlakukan secara wajar oleh pihak penjara.

Senin, 17 Juli 2017

Mengaku Tidak Tahu Dirinya Overstay, SP Divonis Hukuman Percobaan

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial SP (40 tahun asal Salatiga) telah dilaksanakan pada hari Senin  tanggal 17 Juli 2017 bertempat di Pengadilan Sha Tin lantai  3 court 1.
Terdakwa SP pertama kali  datang ke Hong Kong pada  tahun 2010  dan bekerja sebagai domestic helper kemudian setelah kontraknya habis Terdakwa SP renew kontrak dengan majikannya yang sama dan bekerja hingga saat ini di daerah Sham Shui Po.
Pada tanggal 24 Februari 2017 saat Terdakwa SP datang ke Kantor Imigrasi di Wan Chai untuk memperpanjang visa baru diketahui bahwa dirinya telah overstay di Hong Kong selama 2 tahun 2 bulan, dan pihak Imigrasi meminta Terdakwa SP untuk hadir di persidangan pada hari ini.
Kontrak Kerja Terdakwa SP dengan majikannya seharusnya berakhir pada tanggal 23 Desember 2014 namun sebelum Kontrak Kerjanya berakhir majikannya yang merupakan seorang nenek telah meninggal dunia,  namun karena  Terdakwa SP tidak memahami dan tidak mengerti bahwa Kontrak Kerjanya tersebut harus diperbaharui dengan majikan yang baru setelah nama majikan  yang tertera pada kontrak kerjanya meninggal dunia, maka Terdakwa SP  masih tetap bekerja di rumah majikannya tersebut untuk merawat suami dari majikannya yang telah meninggal dan pada  tanggal 13 Februari  2017 suami majikannya itu juga meninggal dunia pada usia 87 tahun.
Karena Kontrak Kerja Terdakwa SP berakhir pada tanggal 23 Desember 2014 dan batas izin tinggal dari Terdakwa SP hanya sampai dengan tanggal 5 Januari 2015, maka pada tanggal 24 Februari 2017 saat  Terdakwa SP hendak mengurus visa kerjanya dengan anak majikannya yang lama baru diketahui bahwa dirinya telah overstay selama 2 tahun 2 bulan.
Adapun hasil persidangan pada hari ini, telah dibacakan tuduhan terhadap Terdakwa SP dan Terdakwa mengakui semua kesalahannya, namun Hakim menilai bahwa Terdakwa SP telah membantu merawat sepasang suami istri yang telah tua sampai  keduanya meninggal  dunia dan Terdakwa SP pun telah berusaha meminta bantuan agen nya untuk memperpanjang visanya namun agen tersebut telah tutup sehingga Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa dinyatakan bersalah dan oleh karenanya yang bersangkutan dijatuhi hukuman dengan pidana penjara selama  8 minggu dengan masa percobaan selama 12 bulan.  Dengan vonis tersebut maka Terdakwa SP tidak perlu menjalani hukuman penjara namun dalam waktu 12 bulan  Terdakwa SP tidak diperbolehkan untuk melakukan pelanggaran atau berbuat kesalahan lagi. Apabila Terdakwa melakukan kesalahan / pelanggaran yang baru dalam waktu 12  bulan, maka Terdakwa harus menjalani hukuman penjara selama 8 minggu ditambah dengan hukuman yang baru atas pelanggaran yang telah dilakukannya tersebut.

Dapat kami sampaikan juga bahwa dengan putusan Hakim yang menjatuhkan pidana percobaan tersebut selanjutnya Terdakwa SP akan langsung pulang ke Indonesia.

Jumat, 14 Juli 2017

SE Didenda HKD 1.500 karena Terbukti Mencuri di Toko Pakaian

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa SE (48 tahun asal Malang) telah dilaksanakan pada hari Jumat  tanggal  14  Juli  2017 bertempat di Pengadilan Eastern lantai  6 court 1.
Terdakwa SE pertama kali datang ke Hong Kong pada bulan Oktober 2015 dan bekerja sebagai domestic helper   dengan majikan di daerah Central  Hong Kong,  dimana kontrak kerjanya akan berakhir pada bulan Nopember 2017.
Terdakwa SE pada tanggal 16 Juni 2017 saat sedang liburan beserta dengan temannya berjalan di daerah Causeway Bay dan mampir disebuah toko pakaian di WINDSOR Building.
Pada kesempatan tersebut, teman dari Terdakwa SE terlebih dahulu pergi dikarenakan hendak menemui teman yang lainnya, sedangkan Terdakwa SE masih berada di toko pakaian tersebut dan menurut pengakuan dari Terdakwa SE bahwa benar dirinya telah memasukkan sepasang sepatu wanita hak tinggi yang berwarna hitam, 1 buah T-shirt berwarna hijau, sebuah celana warna hitam dan sebuah celana berwarna abu-abu ke dalam tas hitam yang dibawanya.
Tanpa disadari oleh Terdakwa SE, pada saat itu petugas keamanan yang bekerja di Windsor Building memperhatikan Terdakwa SE yang semula tas hitamnya tampak tidak membengkak namun setelah beberapa saat tas hitamnya itu menjadi besar dan penuh dengan barang-barang, sehingga Petugas menduga bahwa Terdakwa SE telah melakukan pencurian di toko tersebut, dan pada saat Terdakwa SE hendak meninggalkan WINDSOR Building, petugas menangkap dan melaporkan kepada Polisi setempat dan polisi menangkap serta membawanya ke kantor polisi.
Terdakwa SE  diinterview dan mengakui bahwa dirinya telah melakukan pencurian barang-barang tersebut yang nilai keseluruhannya sebesar HKD $ 616 (enam ratus enam belas Hong Kong dollar). Dalam perkara ini Terdakwa SE tidak dilakukan penahanan karena diizinkan untuk bail out dengan uang jaminan sebesar HKD 400 (empat ratus Hong Kong dollar) sambil menunggu hari persidangannya.
Adapun hasil persidangan pada hari ini, Terdakwa SE mengakui bahwa dirinya telah melakukan pencurian di toko pakaian di WINDSOR Building Hong Kong dan oleh karenanya Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa SE dinyatakan bersalah dan Hakim juga menjatuhkan hukuman kepada Terdakwa SE untuk membayar denda sebesar HKD 1.500 (seribu lima ratus Hong Kong dollar).


Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI HongKong