Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI Hong Kong

Kamis, 31 Agustus 2017

Seorang BMI Ditangkap karena Mencuri Uang di Toko 7-11

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial YUN (39 tahun asal Malang) telah dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 31 Agustus  2017 bertempat di Pengadilan Shatin.
Terdakwa YUN datang ke Hong Kong pada tahun 2013   dan bekerja sebagai domestic helper  dengan majikan yang berlokasi di daerah Shatin, saat ini Terdakwa YUN masih bekerja dengan majikannya dan akan finish kontrak pada bulan November 2017 dan majikannya dan Terdakwa YUN bersepakat akan memperpanjang kembali kontrak kerjanya.
Pada tanggal 15 Agustus 2017 Terdakwa YUN beserta dengan anak majikan yang dirawatnya pergi mengunjungi Seven Eleven di bawah rumah dimana Terdakwa YUN bekerja, Terdakwa hendak mengisi ulang kartu oktopus serta membeli ice cream, namun pada saat hendak membayar di kasir, tampak di meja kasir ada sebuah majalah dan uang sebesar HKD 2.000 (dua ribu hongkong dollar), Terdakwa YUN melihat kesekeliling Seven Eleven yang tampaknya sepi tidak ada pengunjung lain, meskipun ada kasir di depannya, kemudian Terdakwa YUN menggerakkan tangannya dan menggeser uang tersebut ke arahnya secara perlahan-lahan, dan tanpa diketahui oleh siapapun kemudian Terdakwa YUN mengambil uang sebesar HKD 2.000 (Dua ribu hongkong dollar) dan memasukkan ke dalam dompet miliknya, dan setelah itu segera Terdakwa YUN meninggalkan Seven Eleven disertai anak majikannya.
Pada Keesokan harinya pada tanggal 16 Agustus 2017, tampaklah polisi sedang berdiri dibawah apartemen majikannya dimana Terdakwa YUN bekerja dan pada saat Terdakwa YUN keluar rumahnya dan bertemu dengan polisi itu kemudian polisi itu langsung menangkap Terdakwa YUN dengan tuduhan bahwa Terdakwa YUN telah melakukan pencurian uang  di Seven Eleven dan membawanya ke kantor polisi di Shatin.
Terdakwa YUN diinterogasi dan di Interview oleh polisi Shatin dan polisi Shatin menjelaskan bahwa ada seseorang melaporkan bahwa dirinya telah kehilangan uang sebesar HKD 2000 (dua ribu hongkong dollar) sewaktu berada di Seven Eleven dan berdasarkan  CCTV yang ada di Seven Eleven diketahui bahwa Terdakwa YUN yang mengambil uang tersebut  dan Terdakwa YUN  mengakui bahwa dirinya telah mengambil uang yang ada dimeja kasir di Seven Eleven dan memasukkan ke dalam dompetnya, Terdakwa YUN diizinkan untuk bail out dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 10.000 (sepuluh ribu hongkong dollar) sambil menunggu hari persidangannya.
Hasil persidangannya telah dibacakan dakwaan terhadap Terdakwa YUN, bahwa yang bersangkutan telah melakukan pencurian uang sebesar HKD 2.000 (dua ribu hongkong dollar) di Seven Eleven  di Hong  Kong dimana atas dakwaan tersebut Terdakwa YUN mengakuinya sehingga Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa YUN dinyatakan bersalah dan oleh karenanya yang bersangkutan dijatuhi  hukuman dengan pidana penjara selama  14 hari   dengan masa percobaan selama 2 tahun dan juga Terdakwa YUN  harus mengembalikan uang sebesar HKD 2.000 ( dua ribu hongkong dollar) kepada pemiliknya.  Dengan vonis tersebut maka Terdakwa YUN    tidak perlu menjalani hukuman penjara namun dalam waktu 24 bulan  Terdakwa YUN tidak diperbolehkan untuk melakukan pelanggaran atau berbuat kesalahan lagi. Apabila Terdakwa melakukan kesalahan / pelanggaran yang baru dalam waktu 24  bulan, maka Terdakwa harus menjalani hukuman penjara selama 14  hari ditambah dengan hukuman yang baru atas pelanggaran yang telah dilakukannya tersebut.


Rabu, 30 Agustus 2017

Pengajuan Paper Mantan BMI Ditolak Imigrasi Hong Kong

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial DBR (27 tahun asal Banyuwangi) telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 30 Agustus 2017 bertempat di Shatin  Court.
Terdakwa DBR  datang ke Hong Kong pada  tahun  2012, dan bekerja sebagai domestic helper, setelah 3 tahun bekerja dengan majikan yang berlokasi di Wong Tai Sin, Terdakwa DBR memutuskan kontrak dengan majikannya dan kemudian mencari majikan baru lagi di Hong Kong dan menunggu visa di Indonesia, dan pada bulan Juli tahun 2016 Terdakwa DBR  datang kembali ke Hong Kong untuk bekrja dengan majikannya yang baru yang berlokasi di Tin Shui Wai, namun Terdakwa DBR hanya bekerja selama 5 bulan saja sebab Terdakwa DBR break kontrak dengan alasan majikannya tidak mengganti uang belanja yang telah dibayarkan dahulu dengan menggunakan uang Terdakwa DBR. 
Setelah keluar dari majikannya karena Terdakwa DBR masih juga tidak mendapatkan majikan baru dan juga masih tetap berada di Hong Kong maka Terdakwa DBR menjadi overstay sekitar sebulan , selanjutnya Terdakwa DBR datang ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay untuk menyerahkan diri pada bulan januari 2017, setelah dilakukan interview dan interogasi terhadap Terdakwa DBR maka  Imigrasi Hong Kong mengizinkan bail out  dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 100 (seratus hongkong dollar)  sampai menunggu hari persidangannya.
Adapun hasil persidangannya telah dibacakan dakwaan terhadap Terdakwa DBR  yaitu telah melanggar Peraturan Keimigrasian  di Hong Kong yaitu telah overstay di Hong Kong selama 1 bulan, dan karena permohonan kedua kalinya untuk mengajukan paper dari Terdakwa DBR  telah ditolak Imigrasi Hong Kong, maka pada kesempatan ini Hakim memberikan kesempatan terakhir kepada Terdakwa DBR untuk mengajukan kembali permohonan papernya oleh karena itu Hakim memutuskan untuk menunda persidangan perkara atas nama Terdakwa DBR di tunda sampai dengan tanggal 27 September 2017.

Selasa, 29 Agustus 2017

Kurang Paham Mengenai Keimigrasian, MAR Melakukan Pelanggaran Ijin Tinggal di Hong Kong

Persidangan Warga Negara Indonesia  atas nama Terdakwa berinisial MAR (42 tahun asal Purwokerto) telah dilaksanakan pada hari Selasa  tanggal 29  Agustus  2017 bertempat di Shatin  Court.
Terdakwa MAR datang ke Hong Kong pada  tahun 2013  dan bekerja sebagai domestic helper, Terdakwa sudah berganti majikan sebanyak 2 kali ,  majikan terakhir dimana Terdakwa MAR bekerja berlokasi di daerah North Point. Namun sebelum kontrak kerjanya habis Terdakwa MAR telah diputus kontrak oleh majikannya pada  tanggal 10 April 2017, dimana sampai batas waktu yang diijinkan Terdakwa MAR masih belum juga mendapatkan majikan baru dan yang bersangkutan masih tetap berada di Hong Kong hingga akhirnya menjadi overstay di Hong Kong selama 1,5 bulan.
Pada tanggal 14 Juni 2017 Terdakwa MAR  mendapatkan majikan di Hong Kong dan agennya meminta Terdakwa MAR untuk keluar Hong Kong dan menunggu visanya di Macau, namun sewaktu pemeriksaan di Imigrasi Hong Kong (Sheung Wan) sebelum naik kapal untuk berangkat ke Macau, Terdakwa MAR ditangkap oleh petugas Imigrasi di Sheung Wan dan petugas Imigrasi Sheung Wan mengambil dokumen Terdakwa MAR, kemudian Terdakwa MAR diminta untuk datang ke Kowloon Bay pada tanggal 5 Juli 2017 dengan membawa dokumen yang diberikan oleh petugas Imigrasi di Sheung Wan.
Pada tanggal 5 Juli 2017 Terdakwa MAR mendatangi Kantor Imigrasi di Kowloon Bay dan setelah diinterogasi dan diinterview oleh Petugas Imigrasi, Terdakwa MAR diizinkan untuk bail out dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 100 (seratus hongkong dollar) sambil menunggu hari persidangannya.
Hasil persidangan pada hari ini telah dibacakan dakwaan terhadap Terdakwa MAR, bahwa yang bersangkutan telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah overstay di Hong Kong selama 1,5 bulan, dimana atas dakwaan tersebut Terdakwa MAR mengakuinya sehingga Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa MAR dinyatakan bersalah dan oleh karenanya yang bersangkutan dijatuhi  hukuman dengan pidana penjara selama 6 hari dengan masa percobaan selama 12 bulan.  Dengan vonis tersebut maka Terdakwa MAR tidak perlu menjalani hukuman penjara namun dalam waktu 12 bulan  Terdakwa MAR tidak diperbolehkan untuk melakukan pelanggaran atau berbuat kesalahan lagi. Apabila Terdakwa melakukan kesalahan / pelanggaran yang baru dalam waktu 12  bulan, maka Terdakwa harus menjalani hukuman penjara selama  6  hari ditambah dengan hukuman yang baru atas pelanggaran yang telah dilakukannya tersebut.


Senin, 28 Agustus 2017

JUM Kabur dari Rumah Majikan, Overstay, Lalu Menyerahkan Diri karena Ingin Pulang ke Tanah Air

Senin, 28 Agustus 2017 telah dilaksanakan persidangan Warga Negara Indonesia dengan Nomor Kasus STCC 2892/2017  atas nama Terdakwa berinisial JUM (40 tahun asal Pasuruan) bertempat di Shatin  Court  lantai  6  court 7.
Terdakwa JUM datang ke Hong Kong pada bulan April 2012 dan bekerja sebagai domestic helper dan telah berganti beberapa majikan,  majikan terakhir Terdakwa JUM   berlokasi di daerah  Sham Shui Po, dan pada tanggal 29 Februari 2016  Sebelum kontrak kerjanya habis Terdakwa JUM telah memutuskan untuk mengakhiri kontrak kerja dengan  majikannya, dengan melarikan diri (kabur) pada saat hari liburnya dengan tidak kembali ke rumah majikannya  hingga Terdakwa JUM akhirnya overstay di Hong Kong selama 1 tahun 4,5 bulan.
Pada tanggal  18 Juli 2017  Terdakwa JUM menyerahkan diri ke Kantor Imigrasi di Ma Tao Kok karena Terdakwa JUM berkeinginan untuk pulang ke tanah air. Setelah Terdakwa JUM diinterogasi dan diinterview oleh petugas Imigrasi maka yang bersangkutan diizinkan untuk bail out dengan uang jaminan sebesar HKD 100 (Seratus Hong Kong dollar) dan menunggu sampai dengan hari persidangannya.
Hasil persidangan pada hari ini telah dibacakan dakwaan terhadap Terdakwa JUM, bahwa yang bersangkutan telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah overstay di Hong Kong selama 1 tahun 4,5 bulan, dimana atas dakwaan tersebut Terdakwa JUM mengakuinya sehingga Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa JUM dinyatakan bersalah dan oleh karenanya yang bersangkutan dijatuhi hukuman dengan pidana penjara selama  4 minggu dengan masa percobaan selama 15 bulan.  Dengan vonis tersebut maka Terdakwa JUM tidak perlu menjalani hukuman penjara namun dalam waktu 15 bulan  Terdakwa JUM  tidak diperbolehkan untuk melakukan pelanggaran atau berbuat kesalahan lagi. Apabila Terdakwa melakukan kesalahan / pelanggaran yang baru dalam waktu 15 bulan, maka Terdakwa harus menjalani hukuman penjara selama 4 minggu  ditambah dengan hukuman yang baru atas pelanggaran yang telah dilakukannya tersebut.


Jumat, 25 Agustus 2017

Persidangan SA Diundur Lagi Hingga 1 September 2017

Kamis, 25 Agustus  2017 telah dilasanakan persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa SA (44 tahun asal Blora) bertempat di Tuen Mun Court lantai 3. Terdakwa SA datang ke Hong Kong pada  tanggal 13 Februari 2014  dan bekerja sebagai domestic helper dimana setelah kontraknya habis Terdakwa SA kemudian memperpanjang kontrak dengan majikannya yang sama dan bekerja hingga saat ini.
Pada tanggal  11 Juli 2017 tiba-tiba beberapa orang polisi datang ke rumah majikan untuk menangkap Terdakwa SA dengan tuduhan bahwa Terdakwa SA telah melakukan penganiayaan terhadap bayi majikan yang dirawatnya dan  saat ini  berusia 2 bulan.
Terdakwa SA pada hari yang sama kemudian di bawa ke Kantor  Polisi untuk diinterview dan diinterogasi guna mendapatkan informasi yang lebih jelas dimana pada kesempatan tersebut Terdakwa SITI  AMINAH menjelaskan bahwa pada tanggal 2 Juli 2017  saat Terdakwa SA meninggalkan  bayi yang berusia 2 bulan itu sedang tertidur di tempat tidurnya, yang bersangkutan tidak mengetahui jika kakak dari bayi yang berusia 2 bulan itu datang menghampiri bayi  tersebut dan ketika Terdakwa SA kembali ke kamar tidur bayi ternyata bayi yang dirawatnya tersebut sudah jatuh dilantai dan dalam kondisi sedang menangis.
Adapun hasil persidangan pada hari ini Jaksa Penuntut Umum mengajukan permohonan kepada Hakim untuk menunda persidangan sebab Jaksa Penuntut Umum masih menunggu hasil laporan dari pihak rumah sakit yang memeriksa bayi tersebut yang menemukan 4 luka pada bagian tengkorak kepala bayi tersebut dan untuk mengetahui apakah luka yang diakibatkannya itu berakibat fatal atau tidaknya bagi kelangsungan hidup bayi tersebut, sehubungan dengan hal tersebut maka Hakim mengabulkan permohonan untuk menunda persidangan sampai dengan tanggal 1 September 2017 untuk mengetahui apakah permohonan bail out yang kedua kali dari Terdakwa SA dikabulkan oleh Hakim atau tidak, dan sambil menunggu persidangan berikutnya maka Terdakwa SA tetap akan berada dalan tahanan penjara Tai Lam Centre for Women.  


Selasa, 22 Agustus 2017

KJRI Hong Kong Ajak Anggota Komnas Perempuan Kunjungi Penjara di Hong Kong

Tanggal 22 Agustus 2017 Tim Citizen Service KJRI Hong Kong  Kunjungan ke penjara Tai Lam Centre for Woman bersama perwakilan dari Komisi Nasional Perempuan yakni Ibu Sri Nurherwati.  
Pada kunjungan tersebut Tim  hanya dapat menemui 24 (dua puluh empat) dari 30 (tiga puluh) orang Warga Negara Indonesia perempuan yang terdiri dari 21 (dua puluh satu) orang berstatus tahanan dan 9 (sembilan) orang berstatus narapidana, sedangkan 6 enam) orang lainnya tidak bisa ditemui karena sedang menghadiri persidangan dan beberapa sedang memeriksa kesehatannya di rumah sakit.
Adapun data tahanan berdasarkan kasusnya adalah sebagai berikut :

NO
TINDAK PIDANA
NAPI
TAHANAN
JUMLAH
1
Narkotika
3
7
10
2
Pencurian
0
1
1
3
Pemalsuan Dokumen
1
0
1
4
ID Orang Lain
2
4
6
5
Paper Kerja
0
0
0
6
BOC (Overstay)
2
4
6
7
Lain-lain
2
4
6
TOTAL
10
20
30

Tim Citizen Service pada kunjungan tersebut membawakan barang-barang keperluan untuk para tahanan seperti shampo, body lotion, hand body, kamus, pensil warna, buku tulis , dll. 
Tim Citizen Service pada kesempatan tersebut juga memberikan konsultasi dan layanan pengaduan kepada WNI terkait dengan permasalahan dan berbagai keluhan tahanan lainnya selama menjalani masa hukuman di Tai Lam Centre for Women. 
Tim Citizen Service juga melakukan pendataan ulang terhadap identitas para WNI yang saat ini masih  berada di penjara Tai Lam Centre for Women dan dapat kami sampaikan  pula bahwa secara umum seluruh Warga Negara Indonesia yang berada di penjara Tai Lam Centre for Woman dalam  kondisi yang  baik serta diperlakukan secara wajar dan baik  oleh pihak penjara.


Senin, 21 Agustus 2017

Positif Pengguna Narkotika, IM Dipenjara dan Akan Masuk Panti Rehabilitasi

Senin, 21 Agustus  2017 telah digelar persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial IM  berusia 38 tahun telah dilaksanakan di  Tuen Mun  Court lantai 3 court 1.
Terdakwa IM datang ke Hong Kong  pada bulan April tahun 2014 sebagai domestic helper dan bekerja dengan majikan yang berlokasi di daerah Tuen Mun, namun setelah diinterminit oleh majikannya Terdakwa IM karena tidak mendapatkan majikan sehingga Terdakwa IM menjadi overstay dan akhirnya mengajukan dan menjadi pemegang paper.
Terdakwa IM hidup bersama dengan seorang laki-laki berkewarganegaraan Pakistan, dan Terdakwa IM ditangkap oleh polisi pada tanggal 3 Mei 2017 karena Terdakwa Ikah Mulyati diduga terlibat kasus Narkoba.
Terdakwa IM pada saat ditangkap polisi Terdakwa IM memiliki Narkoba jenis Metatetamin Klorida  sebanyak 0.08 gram, dan permohonan bail out dari  Terdakwa IM ditolak maka pada hari yang sama Terdakwa IM  langsung ditahan di rumah tahanan wanita di Tai Lam untuk menunggu persidangan.

Hasil persidangannya dikarenakan Terdakwa IM mengakui perbuatanya bahwa dirinya telah kecanduan narkoba, Metatetamin Klorida yang dimilikinya adalah digunakan untuk dirinya sendiri, dan polisi melakukan test air ludah untuk menguji apakah Terdakwa Kecanduan narkoba, dan apabila hasilnya positif maka Terdakwa IM akan ditempatkan ke rehabilitasi untuk pemulihan orang yang kecanduan narkoba dan karena dirinya mengakui kesalahannya, maka Hakim memutuskan bahwa Terdakwa IM dijatuhi hukuman penjara selama 4 bulan.

Jumat, 18 Agustus 2017

Karena Ingin Melahirkan di Hong Kong, PIT Menyerahkan Diri ke Imigrasi

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial PIT  (35 tahun asal Ngawi)  telah dilaksanakan pada hari Jumat  tanggal  18 Agustus  2017 bertempat di Shatin Court lantai 3.
Terdakwa PIT  datang ke Hong Kong pada tahun 2006 dan bekerja sebagai domestic helper. Terdakwa PIT  telah berganti 3 kali majikan di Hong Kong, namun setelah kontrak kerjanya berakhir pada  bulan November  2014, Terdakwa PIT  tidak juga mendapatkan majikan baru sampai akhirnya yang bersangkutan menjadi overstay di Hong Kong  selama 2 tahun 8 bulan. Adapun saat ini Terdakwa PIT sedang hamil 8 bulan dan hidup bersama dengan seorang laki-laki berkewarganegaraan China dan tinggal di daerah Tin Hau.
Pada tanggal 12 Juli 2017  Terdakwa PIT  menyerahkan diri ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay  dikarenakan yang bersangkutan  berkeinginan untuk melahirkan di Hong Kong dimana pihak Imigrasi Hong Kong kemudian melakukan interogasi dan Terdakwa PIT   selanjutnya diijinkan untuk bail out dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 100 (seratus Hong Kong dollar ) sambil menunggu sampai dengan hari persidangannya.
Hasil Persidangan pada hari ini yaitu dikarenakan Terdakwa PIT mengakui perbuatanya bahwa dirinya telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong dengan telah overstay selama 2 tahun 8  bulan, dan mengingat Terdakwa PIT  sedang mengajukan paper kepada Imigrasi Hong Kong yang sampai saat ini belum ada surat jawaban dari Kantor Imigrasi Hong Kong, maka Hakim mengizinkan Terdakwa PIT  untuk melahirkan bayinya di Hong Kong sambil menunggu keputusan dari Kantor Imigrasi Hong Kong terkait dengan pengajuan paper-nya tersebut. Disamping itu pada persidangan hari ini Hakim juga telah memutuskan bahwa Terdakwa PIT dinyatakan bersalah dan oleh karenanya yang bersangkutan dijatuhi  hukuman pidana penjara selama  3 bulan  dengan masa percobaan selama 24 bulan.  Dengan vonis tersebut maka Terdakwa PIT tidak perlu menjalani hukuman penjara namun dalam waktu 24 bulan  Terdakwa  PIT tidak diperbolehkan untuk melakukan pelanggaran atau berbuat kesalahan lagi. Apabila Terdakwa melakukan kesalahan / pelanggaran yang baru dalam waktu 24  bulan, maka Terdakwa harus menjalani hukuman penjara selama 3 bulan ditambah dengan hukuman yang baru atas pelanggaran yang telah dilakukannya tersebut.


Rabu, 16 Agustus 2017

EH Ditangkap atas Tuduhan Berjualan Secara Ilegal

Rabu, 16  Agustus  2017 telah digelar persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial EH (42 tahun kelahiran Purwodadi) bertempat di Shatin Court lantai 6.
Terdakwa EH datang ke Hong Kong pada tahun 2003 dan setelah kontrak kerjanya berakhir pada tahun 2005, Terdakwa EH  kemudian berganti majikan yang bertempat tinggal di Yuen Long sampai dengan saat ini sehingga yang bersangkutan telah bekerja dengan majikan yang sama selama 12 tahun.
Pada tanggal 11 Juni  2017 ketika sedang menikmati hari liburnya, Terdakwa EH  ditangkap oleh Petugas karena dituduh telah melanggar Peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah berjualan secara illegal di daerah Tsuen Wan namun yang bersangkutan kemudian diijinkan untuk pulang kerumahnya. Pada tanggal 28 Juli 2017 Terdakwa  EH  diminta untuk datang kembali ke Kantor Polisi  Tsuen Wan guna untuk diwawancara dan dicatat pernyataannya oleh petugas polisi dan Terdakwa EH  diizinkan bail out dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 300 (tiga ratus Hong Kong dollar) dan menunggu sampai dengan hari persidangannya.
Adapun hasil persidangannya yaitu hanya pembacaan dakwaan terhadap Terdakwa EH. Selanjutnya mengingat Pengacara belum mengambil pernyataan dan belum melakukan wawancara terhadap Terdakwa EH, maka Pengacara memohon kepada Hakim untuk menunda persidangan perkara atas nama Terdakwa EH, dan Hakim menyetujui untuk menunda persidangan sampai dengan tanggal 12 September 2017.


Selasa, 15 Agustus 2017

STD Divonis Penjara Karena Bekerja Secara Tidak Sah

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial STD (42 tahun asal Jakarta)  telah dilaksanakan pada hari Selasa  tanggal 15 Agustus 2017 bertempat di Pengadilan Shatin lantai 6 court 7.
Terdakwa STD datang ke Hong Kong pada tanggal 5 Mei 2015  dan bekerja sebagai domestic helper  dengan  majikan  yang  berlokasi di Sek Kip Mei .
Namun sebelum kontrak kerjanya berakhir Terdakwa STD  telah diputus kontrak oleh majikannya pada tanggal 24 Oktober 2016. Kemudian karena Terdakwa STD masih belum mendapatkan majikan baru di Hong Kong dan yang bersangkutan tidak juga meninggalkan Hong Kong sampai batas waktu izin tinggalnya habis, maka Terdakwa  STD akhirnya menjadi overstay selama  2 bulan.
Setelah diputus kontraknya oleh majikan dan akhirnya overstay, Terdakwa  STD ditampung di boarding house milik agennya. Kemudian atas dasar kesepakatan antara Terdakwa STD dengan pihak agennya, selama overstay di Hong Kong Terdakwa STD telah dipekerjakan secara part time dengan 3 majikan di 3 lokasi yang bebeda dengan perjanjian setiap harinya yang bersangkutan akan dibayar sebesar HKD 150 (seratus lima puluh Hong Kong dollar).
Pada tanggal 30 Desember 2016 dikarenakan Terdakwa STD merasa takut karena dirinya telah overstay maka yang bersangkutan kemudian datang ke Kantor Imigrasi Wan Chai untuk mengurus perpanjangan  izin tinggalnya di Hong Kong, namun Petugas Imigrasi Wan Chai kemudian memberikan kertas dan meminta Terdakwa STD untuk datang ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay. Setelah diinterview dan dilakukan interogasi oleh pihak Imigrasi Kowloon Bay, Terdakwa STD diizinkan untuk bail out dengan uang jaminan sebesar HKD 400 (empat ratus Hong Kong dollar).
Dakwaan yang dituduhkan kepada Terdakwa STD yaitu : 
Terdakwa telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah bekerja secara tidak sah dengan melakukan kerja part time di daerah Aplei Chau selama 21 hari ;
Terdakwa telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah bekerja secara tidak sah dengan melakukan kerja part time di daerah Tuen Mun selama 1 hari ;
Terdakwa telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah bekerja secara tidak sah dengan melakukan kerja part time di daerah Tsing Yi selama 4 hari ;
Adapun hasil persidangan pada hari ini yaitu bahwa Terdakwa STD telah mengakui bersalah atas dakwaan yang dituduhkan kepada dirinya, sehingga Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa STD dinyatakan telah bersalah melakukan pelanggaran Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah bekerja secara illegal dan oleh karenanya Hakim menjatuhkan hukuman dengan pidana penjara kepada yang bersangkutan selama 6 minggu .

Status RPS Masih Belum Diputuskan oleh Hakim

Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa RPS (29 tahun asal Kediri14 Mei 1988) telah dilaksanakan pada hari Selasa  tanggal 15 Agustus  2017 bertempat di Pengadilan Shatin lantai  3 court 1.
Terdakwa RPS datang ke Hong Kong pada tahun 2009 dan bekerja sebagai domestic helper dimana yang bersangkutan telah berganti beberapa kali majikan di Hong Kong dan majikan yang terakhir ternyata sebelum kontraknya habis Terdakwa RPS telah diputus kontraknya pada bulan Maret  2012.
Dengan diputusnya kontrak tersebut maka Terdakwa RPS  seharusnya telah meninggalkan Hong Kong karena sampai batas waktu yang ditentukan yang bersangkutan tidak juga mendapatkan majikan yang baru namun yang bersangkutan masih tetap berada di Hong Kong sampai akhirnya menjadi overstay selama  3 tahun.
Pada  tahun 2015  Terdakwa  RPS menyerahkan  diri  ke Kantor Imigrasi di Ma Tao Kok dan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap Terdakwa RPS, yang bersangkutan kemudian  mengajukan paper ke Imigrasi Hong Kong  dan permohonan papernya mendapatkan persetujuan dari Kantor Imigrasi Hong Kong sehingga kasus overstay atas nama Terdakwa RPS untuk sementara dihentikan.
Pada tanggal 19 Juli 2017 Terdakwa RPS kembali ditangkap oleh petugas dan kemudian dilakukan interogasi  hingga akhirnya  pada tanggal 24 Juli 2017 Terdakwa RPS ditahan di penjara Tailam sampai dengan menunggu hari persidangannya dikarenakan yang bersangkutan telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong  yaitu surat keterangan paper yang telah diberikan kepada Terdakwa RPS telah berakhir dan Terdakwa wajib melaporkan diri serta mendaftarkan diri kembali untuk mengajukan paper yang baru namun hal tersebut tidak dilakukan oleh yang bersangkutan.
Dengan adanya pelanggaran tersebut maka kasus overstay yang telah dihentikan sebelumnya karena permohonan papernya telah disetujui kemudian disidangkan kembali atas tuduhan bahwa Terdakwa RPS telah melanggar peraturan  Keimigrasian  di  Hong Kong  dengan  overstay selama  3 tahun.
Adapun hasil persidangan pada hari ini yaitu Jaksa Penuntut Umum menyatakan bahwa persetujuan dari Imigrasi terkait dengan permohonan pengajuan bandingnya untuk mendapatkan kembali paper tersebut  sampai dengan saat ini  pihaknya masih belum menerimanya. Kemudian terkait dengan Terdakwa RPS yang mengajukan bail out dengan uang jaminan sebesar HKD 700 (tujuh ratus Hong Kong dollar) oleh Hakim juga belum diputuskan, dan untuk sementara sambil menanti persidangan yang akan datang pada tanggal 22 Agustus 2017,Terdakwa RPS tetap harus ditahan di penjara Tai Lam Centre For Women.

Rabu, 09 Agustus 2017

Imigrasi Hong Kong Ciduk MA Sedang Berjualan di Taman Victoria

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial MA  (44 tahun asal Ngawi)  telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 9 Agustus 2017 bertempat di Pengadilan Shatin lantai 6 court 7.
Terdakwa MA datang ke Hong Kong pada tahun 2000 dan bekerja sebagai domestic helper  sehingga sampai dengan saat ini yang bersangkutan telah bekerja selama 17  tahun dimana majikan yang  terakhir berlokasi di daerah Sau Kei Wan.
Pada tanggal 25 Juni 2017 saat menikmati hari libur,  Terdakwa MA   telah ditangkap oleh Petugas Imigrasi di daerah Victoria Park dengan tuduhan bahwa Terdakwa MA telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu bahwa yang bersangkutan telah berjualan minuman botol di taman Victoria Park tanpa izin yang sah mengingat Terdakwa MA  diizinkan berada di Hong Kong hanya untuk bekerja sebagai domestik helper, sehingga Terdakwa MA kemudian dibawa ke Kantor Imigrasi Kowloon Bay untuk diperiksa dan di interview. Selanjutnya Petugas Imigrasi mengizinkan Terdakwa MA untuk bail out dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 100 (seratus Hong Kong dollar) sampai tiba hari persidangannya.
Adapun hasil persidangan pada hari ini telah dibacakan dakwaan terhadap Terdakwa MA  yang telah melanggar Peraturan Keimigrasian  di Hong Kong yaitu telah berjualan tanpa izin yang sah dari Pemerintah Hong Kong, namun Terdakwa  MA tidak mengakui bersalah sehingga Hakim memutuskan untuk menunda persidangan perkara atas nama Terdakwa MA sampai dengan tanggal 26 Oktober 2017.

Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI HongKong