Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI Hong Kong

Jumat, 23 Februari 2018

BMI Overstayer Menyerahkan Diri Karena Ingin Pulang ke Tanah Air

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial IA (35 tahun kelahiran Jember)  telah dilaksanakan pada hari  Jumat tanggal  23  Februari  2018  bertempat di pengadilan Sha Tin lantai  3 ruang sidang 1.
Terdakwa IA pertama kali datang ke Hong Kong pada tahun 2012 dan telah  bekerja dengan beberapa majikan dimana majikan terakhir berlokasi di daerah Central.
Namun sebelum kontrak kerjanya habis, majikan dari Terdakwa IA telah memutuskan kontrak kerjanya. Meskipun kontrak kerjanya sudah diputus, Terdakwa  IA  tidak langsung meninggalkan Hong Kong karena masih berkeinginan untuk mencari majikan yang baru. Sampai dengan batas izin tinggalnya di Hong Kong berakhir yang bersangkutan belum mendapatkan majikan baru dan masih belum juga meninggalkan Hong Kong sehingga akhirnya menjadi overstay di Hong Kong selama 2 tahun 1 bulan.
Pada tanggal   9 Maret 2015  Terdakwa IA datang menyerahkan diri ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay dan setelah  Petugas Imigrasi melakukan investigasi maka yang bersangkutan diijinkan untuk tinggal di luar sambil menunggu hari persidangannya terkait kasusnya.
Pada persidangan pertama  Terdakwa  IA telah mengakui bahwa dirinya telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong dan telah mengajukan paper, namun saat ini Terdakwa IA berkeinginan untuk pulang ke tanah air  sehingga Terdakwa IA telah membatalkan paper-nya di Kantor Imigrasi Kowloon Bay;
Adapun hasil persidangannya, meskipun Terdakwa IA berkeinginan untuk kembali ke tanah air dan yang bersangkutan telah membatalkan permohonan paper-nya di Imigrasi Hong Kong namun Terdakwa IA tetap harus menjalani proses hukum terkait dengan pelanggaran peraturan Keimigrasian dimana yang bersangkutan telah overstay selama 2 tahun 1 bulan di Hong Kong. Selanjutnya mengingat pihak Jaksa Penuntut Umum masih belum menerima laporan dari Kantor Imigrasi Hong Kong maka pihaknya kemudian memohon kepada Hakim untuk dapat menunda persidangan. Atas permohonan dari Jaksa Penuntut Umum tersebut Hakim menyetujuinya dan kemudian memutuskan untuk menunda persidangan perkara atas nama Terdakwa IA sampai dengan tanggal  26 April 2018.


Rabu, 21 Februari 2018

KJRI Kunjungi WNI Bermasalah Hukum di Tai Lam Centre for Woman, Rabu 21 Februari 2018


Tim Citizen Service KJRI Hong Kong yang dipimpin langsung oleh Konsul Jenderal RI Hong Kong bersama Konsul Kejaksaan, Konsul Tenaga Kerja, Konsul Muda Konsuler dan 2 orang staf telah melaksanakan kunjungan ke penjara Tai Lam Centre for Woman dan bertemu dengan 16 orang WNI perempuan yang terdiri dari 12 orang tahanan dan 4 orang narapidana ;
 


Pada kesempatan tersebut kami memberikan konsultasi dan layanan pengaduan kepada WNI terkait dengan berbagai permasalahan seperti pelayanan pihak penjara serta berbagai keluhan lainnya selama menjalani masa hukuman di rumah tahanan seperti penggantian menu makanan, pemeriksaan kesehatan diri ke dokter dan lain sebagainya ;
 
Selain itu kami juga melakukan pendataan ulang terhadap identitas para WNI yang saat ini berada di Penjara Tai Lam Centre for Woman;
 

Dalam kunjungan tersebut, kami juga membawakan beberapa barang sesuai permintaan dari WNI pada kunjungan sebelumnya seperti buku novel, pensil warna, majalah, shampo, lotion, handcream dll.
 
Secara umum seluruh Warga Negara Indonesia yang berada di penjara Tai Lam Centre for Woman dalam keadaan baik serta diperlakukan secara wajar oleh pihak penjara.

Rabu, 14 Februari 2018

Persidangan Perkara Pelecehan Seksual dan Pemerkosaan BMI oleh Majikannya


Pada tanggal 21 Desember 2017, seorang BMI berinisial SYN datang ke KJRI Hong Kong untuk melaporkan bahwa dirinya telah menjadi korban kekerasan seksual yang telah dilakukan oleh majikan laki-lakinya atas nama TWS terhadap dirinya ;

Berdasarkan Kontrak Kerja Nomor M 136753, Sdri. SYN bekerja dengan majikan atas nama WCK (isteri Terdakwa). Adapun yang bersangkutan mulai bekerja di rumah majikannya tersebut pada tanggal 10 Desember 2017 untuk merawat anak perempuan majikan yang berusia 13 tahun yang mengalami keterbelakangan mental ;
 
Berdasarkan pengakuan Korban, sejak tanggal 10 s/d 18 Desember 2017, korban telah memperoleh perlakuan yang dapat dikategorikan sebagai pelecehan seksual dari majikan laki-lakinya seperti mengusap-usap kepala dan kaki korban saat dirinya sedang tertidur bersama anak Terdakwa di kamarnya ;

Pada tanggal 19 Desember 2017, sekitar pukul 22.00 korban yang sedang tertidur bersama anak majikannya telah ditarik secara paksa oleh Terdakwa untuk berpindah ke kamar tidurnya saat istri Terdakwa belum pulang ke rumah ;
Setelah sampai di kamar Terdakwa, yang bersangkutan berusaha untuk memperkosa Korban namun tidak berlangsung lama terdengar suara dari arah pintu rumah dimana diduga istrinya sedang berusaha masuk ke apartemen sehingga Terdakwa kemudian menyuruh korban kembali ke kamarnya ;

Pada tanggal 20 Desember 2017, sekitar pukul 16.45 Terdakwa  kembali memperkosa korban di dapur apartemennya saat istri Terdakwa tidak sedang berada di rumah ;

Pada tanggal 21 Desember 2017, sekitar pukul 06.30 Korban yang merasa ketakutan kemudian melarikan diri dari rumah majikannya dan melaporkan kejadian yang dialaminya tersebut kepada pihak KJRI Hong Kong ;

Korban sempat juga melaporkan kejadian tersebut kepada pihak agen namun agen justru menyarankan untuk tidak melapor ke KJRI Hong Kong, melainkan meminta uang ganti rugi kepada majikan sehingga pihak KJRI Hong Kong kemudian memanggil agen yang bersangkutan untuk memberikan teguran sekaligus meminta agen untuk mengambilkan paspor Korban yang ditahan oleh majikan ;

Kasus ini selanjutnya telah dilaporkan ke Kepolisian Wong Tai Sin pada tanggal 22 Desember 2017 dimana Korban telah mengikuti serangkaian pemeriksaan pada tanggal 22-24 Desember 2017. Pemeriksaan juga dilakukan secara terpisah terhadap Terdakwa dan istrinya. Identifikasi pelaku oleh korban (ID parade) telah dilakukan pada tanggal 28 Desember 2017 dengan didampingi oleh Fungsi Kepolisian dan Protkons KJRI Hong Kong;

Pihak Kepolisian Wong Tai Sin kemudian telah menangkap Terdakwa pada tanggal 22 Desember 2017, sekitar pukul 22.00 untuk selanjutnya memproses kasus ini sampai dengan dibawa ke persidangan di pengadilan ;

Hasil persidangan pada hari ini mengingat Jaksa Penuntut Umum menyatakan bahwa pihaknya masih belum memperoleh hasil tes DNA terkait sperma Terdakwa yang ada dalam celana maupun baju korban maka Hakim memutuskan untuk menunda persidangan sampai dengan tanggal 14 Maret  2018 dan menyatakan bahwa Terdakwa tetap akan berada dalam tahanan selama menanti persidangan berikutnya.

Senin, 05 Februari 2018

KJRI Hong Kong Kunjungi WNI Bermasalah Hukum di Penjara Hei Ling Chau



Pada tanggal 2 Februari 2018, Tim KJRI Hong Kong berkunjung ke penjara Hei Ling Chau Correctional Instituition. Kunjungan tersebut dilakukan oleh Konsul Kejaksaan, Konsul Imigrasi beserta Staf Fungsi Kejaksaan, dimana dalam kunjungan tersebut Tim menemui  tahanan laki-laki Warga Negara Indonesia  yang berinisial FN yang terlibat kasus pencurian di Hong Kong. Pada kesempatan kunjungan tersebut Tim membawakan bingkisan berupa majalah Tempo, Shampo, Lotion, Lip Balm dan Johnson Baby Lotion ;

 Pada kesempatan ini tim melakukan investigasi terhadap tahanan WNI yang bernama FN guna mendapatkan informasi  terkait dengan pemalsuan pada data paspor dimana Terdakwa FN telah beberapa kali masuk ke Hong Kong dengan data – data sebagai berikut :

  • Paspor pertama menggunakan nama berinisial RL yang dibuat di Kanim Batam;
  • Paspor kedua menggunakan nama BB yang di buat di Kanim Batam :
  • Paspor ketiga menggunakan nama AC yang dibuat di Kanim Jambi ;
  • Paspor keempat menggunakan nama AL yang di buat di Kanim Padang ;
  • Paspor kelima menggunakan nama FN yang dibuat di Kanim Tangerang.


Terkait dengan pembuatan Paspor tersebut, pada umumnya Sdr. FN datang langsung ke kantor Imigrasi dimana segala administrasi telah diselesaikan terlebih dahulu oleh calo dan petugas Imigrasi. Menurut pengakuan Sdr. FN setiap membuat paspor yang bersangkutan dikenai biaya antara Rp. 10 juta sampai dengan Rp. 15 juta ;


 Secara umum kondisi narapidana cukup baik, sehat, dan mendapatkan perlakuan secara wajar oleh pihak HEI LING CHAU Correctional Institution serta mereka juga mendapatkan berbagai pelatihan keterampilan seperti menjahit, dll.
Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI HongKong