Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI Hong Kong

Jumat, 30 Maret 2018

WNI Terjerat Hukuman Penjara Akibat Memalsukan Paspor dan Dokumen Identitas Hong Kong


Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa MD (25 tahun, kelahiran Tegal)  telah dilaksanakan pada hari Kamis  tanggal  29 Maret 2018  bertempat di Shatin Court lantai  5 court 6 ;
Terdakwa MD awalnya datang ke Hong Kong  beserta dengan kekasihnya (pria berkebangsaan China yang bekerja sebagai TKA di Jakarta) pada tanggal 3 November 2017 sebagai turis dengan maksud untuk membuat Paspor di Kantor Imigrasi Hong Kong ;

Terdakwa MD pada tanggal 21 November 2017 telah datang ke Kantor Imigrasi Wan Chai untuk membuat Paspor Hong Kong dan diketahui bahwa dokumen yang merupakan syarat membuat Paspor yang dimilikinya tersebut ternyata palsu dan Terdakwa mengakui di depan petugas Imigrasi Hong Kong sehingga Petugas Imigrasi kemudian memintanya untuk datang ke Imigrasi di Kowloon Bay guna diinterview dan Terdakwa MD diizinkan untuk bail out dengan  membayar uang jaminan sebesar HKD 100 (seratus Hong Kong dollar) dan diminta untuk menunggu sampai dengan hari persidangannya ; 

Pada tanggal 22 November 2015 Terdakwa MD datang ke KJRI Hong Kong untuk konsultasi sekaligus meminta perlindungan hukum terkait  dengan dokumen Akte Kelahiran Hong Kong dan HKID yang palsu yang dimiliki oleh Terdakwa MD. Adapun Terdakwa MD  telah di dakwa dengan 6 dakwaan yaitu :
  •  Terdakwa MD telah menggunakan paspor dengan data yang palsu pada tanggal 23 September 2017
  • Terdakwa MD telah menggunakannya dan mengakuinya bahwa paspor tersebut adalah miliknya pada tanggal 23 September 2017
  • Terdakwa MD  telah menggunakan paspor dengan data yang palsu pada tanggal 3 November 2017
  • Terdakwa MD telah menggunakan dan mengakuinya bahwa paspor tersebut adalah miliknya pada tanggal 3 November 2017
  •  Terdakwa MD telah memiliki HKID palsu
  •  Terdakwa MD telah memiliki Akte Kelahiran Hong Kong palsu
Terdakwa MD menuturkan kisahnya bahwa dokumen tersebut belum pernah digunakan sebelumnya hanya karena desakan dari kekasihnya orang China tersebut yang meminta Terdakwa MD untuk membuat Paspor Hong Kong dimana kekasihnya tersebut memiliki suatu tujuan tertentu. Saat ini Terdakwa sedang dalam keadaan hamil 7 bulan dan tidak memiliki tempat tinggal mengingat kekasihnya tersebut telah meninggalkan dirinya setelah mengetahui bahwa dokumen yang dimiliki oleh Terdakwa MD palsu sehingga sampai dengan saat ini yang bersangkutan masih tinggal di Shelter KJRI Hong Kong ; 
Terdakwa MD telah melahirkan bayi perempuan pada tanggal 1 Februari 2018 , di Pamela Youth Hospital dengan bantuan Path Fander, saat ini akte kelahiran untuk putri Terdakwa MD sedang di proses oleh Panth Fander.Pada persidangan hari ini atas persetujuan dari Pengacara dan Jaksa Penuntut Umum maka dakwaan a-d pada butir nomor 4 telah di batalkan, namun untuk dakwaan memiliki HKID palsu yang bernomorkan Y 141862(9)  dan Akte Kelahiran Hong Kong palsu dengan nomor A 990043 tertanggal 19 November 2012 tetap akan di dakwakan terhadap Terdakwa MD ;
Pada Persidangan hari ini, Terdakwa MD telah mengakui bahwa dirinya telah melanggar Peraturan Ke Imigrasian di Hong Kong dengan kepemilikan dokumen palsu maka Hakim menyatakan bahwa Terdakwa MD telah bersalah dan oleh karenanya Hakim menjatuhkan Hukuman penjara selama 18 bulan, namun karena Terdakwa MD mengakui tuduhan itu maka Terdakwa MD mendapatkan keringan sepertiga dari hukuman itu dan Hukuman menjadi 12 bulan, namun karena Hakim juga memikirkan bayi perempuan yang akan dirawat Terdakwa MD selama masa hukumannya ini maka Hakim mempertimbangkan dan memberikan keringanan 1 bulan , sehingga Terdakwa MD  hanya wajib menjalani hukuman penjara selama 11 bulan.

Rabu, 28 Maret 2018

KJRI Hong Kong Kunjungi WNI Bermasalah Hukum di Penjara Lo Wu



Kunjungan ke penjara Lo Wu Correctional Institution telah dilaksanakan oleh Tim Citizen Service KJRI Hong Kong yang dipimpin oleh Konsul Kejaksaan pada hari Rabu tanggal 28 Maret 2018 dan difasilitasi oleh Petugas Social Welfare.


Adapun jumlah Warga Negara Indonesia yang bermasalah dengan hukum di penjara Lo Wu Correctional Institution sampai dengan saat ini terdiri dari :

a.         Tahanan             :             0 orang

b.         Narapidana        :           70 orang

               Jumlah        :           70 orang


Kemudian berdasarkan pendataan yang dilakukan terhadap WNI yang berada di Lo Wu Correctional Institution sesuai klasifikasi tindak pidana yang dilakukan adalah sebagai berikut :

NO.
TINDAK PIDANA
NAPI
TAHANAN
JUMLAH
1
Narkotika
15
0
15
2
Pencurian
7
0
7
3
Pemalsuan Dokumen
3
0
3
4
ID Orang Lain
7
0
7
5
Paper Kerja
4
0
4
6
BOC (Overstay)
25
0
25
7
Lain-lain
9
0
9
TOTAL
70
0
70


Di samping itu dalam kunjungan tersebut, Tim Citizen Service juga memberikan beberapa barang sesuai permintaan dari tahanan WNI pada kunjungan sebelumnya seperti Shampoo, Body Lotion, Hand cream, buku gambar, kamus,  Al-Quran, Bible, novel, pensil warna, majalah, dll ;

 Tim Citizen Service juga memberikan konsultasi dan layanan pengaduan kepada WNI terkait dengan berbagai permasalahan seperti pelayanan pihak penjara serta berbagai keluhan lainnya selama menjalani masa hukuman di Lo Wu Correctional Institution. Selain itu Tim Citizen Service juga melakukan pendataan ulang terhadap identitas para WNI yang saat ini berada di penjara Lo Wu Correctional Institution;

 Pada kunjungan kali ini, Tim Citizen Service mendapat berita duka dari pihak penjara bahwa salah satu narapidana berkewarganegaraan Indonesia atas nama DW meninggal dunia pada hari Selasa tanggal 27 Maret 2018 pukul 19.04 di Rumah Sakit Queen Elizabeth. Berita ini kemudian disampaikan kepada rekan narapidana yang lain. Sebelum mengakhiri sesi kunjungan, para narapidana melakukan doa bersama untuk almarhumah DW, yang dipimpin oleh Tim Citizen Service.

Secara keseluruhan, berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Tim Citizen Service KJRI Hong Kong, secara umum kondisi para WNI yang berada di Lo Wu Correctional Institution sehat dan baik serta diperlakukan secara wajar oleh pihak penjara.


Kamis, 22 Maret 2018

Dua BMI Dibui 6 Minggu Karena Berjualan Tanpa Izin


 Persidangan Warga Negara Indonesia berinisial SR (44 tahun, kelahiran Kendal) dan KT   (40 tahun, kelahiran Semarang) telah dilaksanakan pada hari  Jumat  tanggal  16 Maret 2018  bertempat di Shatin Court lantai  3 court 1 ;

Terdakwa SR pertama kali datang ke Hong Kong pada tahun 2002 dan saat ini Terdakwa SR telah bekerja  selama 5 tahun dengan majikan yang berlokasi di daerah Tin Hau dimana Kontrak Kerjanya baru akan berakhir pada tahun 2019 ;

Sedangkan Terdakwa KT  pertama kali  datang ke Hong Kong pada tahun  1999    dan telah  bekerja dengan beberapa  majikan dimana majikan terakhir berlokasi di  daerah Wan Chai, namun sebelum Kontrak Kerjanya berakhir,  Terdakwa KT telah diputus kontrak oleh majikannya pada tanggal 7 Maret 2018, dan kemudian di tampung di shelter milik agennya  ;

Pada tanggal  19 November 2017, saat Departemen Kesehatan dan Kebersihan Lingkungan sedang melakukan operasi di Victoria Park Causeway Bay, beberapa petugas telah datang menghampiri kedua Terdakwa  yang sedang berjualan makanan jajan pasar dan bakso. Petugas kemudian meminta kedua Terdakwa untuk menunjukkan dokumen / identitasnya dimana  pada saat di periksa  HKID  dari kedua Terdakwa tersebut diketahui bahwa kedua Terdakwa adalah Tenaga Kerja Indonesia yang datang ke Hong Kong untuk bekerja sebagai Domestic Helper ;

Pada hari yang sama kedua Terdakwa ditangkap dan di bawa  ke Kantor Polisi di North Point dengan tuduhan telah melanggar Peraturan Keimigrasian di Hong Kong dan kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap kedua Terdakwa. Setelah itu kedua Terdakwa ditransfer ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay guna penyelidikan lebih lanjut dan setelah dilakukan interogasi kedua Terdakwa diizinkan pulang ke rumah majikannya dengan membayar jaminan sebesar HKD 200 (dua ratus Hong Kong dollar) serta diminta untuk menunggu sampai dengan hari persidangannya ;

Adapun hasil persidangan hari ini, kedua Terdakwa mengakui  kesalahannya yaitu telah melanggar Peraturan Keimigrasian di Hong Kong sehingga Hakim memutuskan bahwa kedua Terdakwa dinyatakan bersalah dan oleh karenanya Hakim menjatuhkan hukuman kepada masing-masing Terdakwa dengan pidana penjara selama 6 minggu.

WNI Paper Tertangkap Membawa Ekstasi Senilai Ratusan Ribu Dollar Hong Kong


Persidangan Warga Negara Indonesia berinisial TM, telah dilaksanakan pada hari Kamis, 15 Maret 2018  bertempat di West Kowloon Court lantai 4 court 1  ;

Pada tanggal 10 Maret 2018 Terdakwa TM  ditangkap oleh Petugas Customs Hong Kong di Chek Lap Kok dimana saat di tangkap yang bersangkutan sedang memegang 3 buah kantong plastik dan setelah diperiksa ternyata dalam kantong plastik tersebut berisi 2.228 gram ekstasi senilai HKD 400.000 (empat ratus ribu Hong Kong dollar) ;

Terdakwa TM adalah pemegang paper dan tinggal di daerah Sham Shui Po dimana yang bersangkutan  pernah tersangkut kasus hukum di Hong Kong dan divonis pada pada tanggal 28 Februari 2017 dengan hukuman percobaan selama 15 bulan ;

Pada persidangan hari ini Terdakwa TM mengajukan bail out dengan jaminan sebesar HKD 1.000 (seribu Hong Kong dollar), namun Hakim memandang bahwa kasus yang sedang dihadapi oleh Terdakwa TM serius sehingga permohonan untuk bail out di tolak oleh Hakim karena dikhawatirkan yang bersangkutan tidak akan kembali datang untuk menghadiri persidangan berikutnya ;

Adapun hasil persidangan pada hari ini, Jaksa Penuntut Umum mengajukan permohonan untuk menunda persidangan perkara atas nama Terdakwa TM, dikarenakan masih membutuhkan waktu yang cukup untuk memastikan berapa jumlah kokain murni setelah dicuci. Hakim memandang hal ini sangat penting dan oleh karenanya Hakim memutuskan untuk menunda persidangan sampai dengan tanggal 7 Juni 2018 , dan selama menanti persidangan berikutnya Terdakwa TM akan tetap berada dalam tahanan.

Jumat, 16 Maret 2018

Sindikat Pencuri Asal Indonesia Ditangkap pasca Mencuri di Mong Kok


 Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa JA, IR, dan HS, telah dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 15 Maret 2018 bertempat di Pengadilan West Kowloon lantai 4 Ruang Sidang 1 ;
Ketiga Terdakwa datang ke Hong Kong pada bulan Januari 2018 sebagai turis dan pada tanggal 6 Februari 2018  ketiga Terdakwa ditangkap di Terminal Ferry ketika akan pergi ke Macau dengan tuduhan telah melakukan pencurian (mencopet) di daerah Mong Kok ;
Pada hari yang sama ketiga Terdakwa langsung diamankan petugas untuk diperiksa dan diwawancara,  kemudian ketiganya ditahan di Penjara Lai Chi Kok untuk menunggu hari persidangannya ;
Pada kesempatan tersebut, dihadirkan pula Terdakwa lain atas nama FY yang diketahui bahwa Terdakwa FY merupakan anggota dari sindikat yang sama ;
Adapun hasil persidangan hari ini hanya dibacakan dakwaan terhadap keempat Terdakwa yaitu para Terdakwa dituduh telah melakukan pencurian di daerah Mong Kok Hong Kong. Selanjutnya Hakim memutuskan untuk menunda persidangan perkara keempat Terdakwa sampai dengan tanggal 19 April 2018.

Selasa, 13 Maret 2018

Tertangkap Tangan Berjualan Obat-Obatan di Victoria Park, BMI Dijatuhi Hukuman Penjara


Persidangan Warga Negara Indonesia atas Terdakwa berinisial YK (37 tahun, kelahiran Blitar telah dilaksanakan pada hari  Selasa, 13 Maret 2018  bertempat di Sha Tin  Court lantai  3 court 1;

Terdakwa YK  datang ke Hong Kong pada tahun  2014  untuk bekerja sebagai domestic helper dan  bekerja dengan  majikan yang  berlokasi di daerah Tseung Kwan O namun pada tanggal 6 April 2015 Majikan telah memutuskan Kontrak Kerja dengan Terdakwa YK. Selanjutnya karena Terdakwa YK masih berkeinginan untuk mencari majikan baru di Hong Kong dan masih belum meninggalkan Hong Kong hingga batas izin tinggalnya di Hong Kong telah habis maka yang bersangkutan  akhirnya menjadi overstay di Hong Kong selama 2 tahun 11 bulan  ;

Pada tanggal 11 Maret 2018  Terdakwa YK ditangkap oleh Petugas yang sedang melakukan operasi gabungan (Imigrasi, Pamong Praja, Departemen Kesehatan) di Victoria Park Causeway Bay pada saat yang bersangkutan sedang berjualan obat-obatan. Setelah ditangkap Terdakwa YK diminta untuk menunjukkan HKID-nya dan diketahui bahwa Terdakwa YK selain telah berjualan obat-obatan secara ilegal juga telah overstay selama 2 tahun 11 bulan ;

Terdakwa YK pada hari yang sama di bawa ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay untuk diperiksa dan di interogasi, dan pada saat ditangkap obat-obatan yang telah disita oleh Petugas Imigrasi adalah sebagai berikut :
a.            6  paket Paramex
b.            4 paket Pilkita
c.             11 paket Panadol Biasa
d.            3 paket obat ambeien
e.            4 paket Natur-E
f.             7 paket Foldan
g.            3 paket Ponstan
h.            4 paket CTM
i.              9 paket Konidin OBH cair
j.             1 paket Panadol Extra dan 39 macam obat-obatan lainnya

Adapun hasil persidangan pada hari ini, Terdakwa YK mengakui bahwa dirinya telah melanggar Peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah overstay selama 2 tahun 11 bulan serta telah berjualan secara illegal di Hong Kong, sehingga Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa YK dinyatakan bersalah melanggar Peraturan Keimigrasian di Hong Kong dan oleh karenanya menjatuhkan hukuman kepada yang bersangkutan dengan pidana penjara selama 2 bulan.

Senin, 12 Maret 2018

BMI Overstay 7 Tahun Mendapat Hukuman 5 Bulan Penjara

Persidangan Warga Negara Indonesia atas Terdakwa berinisial WA (34 tahun kelahiran Temanggung)  telah dilaksanakan pada hari  Senin tanggal  12 Maret  2018  bertempat di Shatin Court lantai  3 court 2.

Terdakwa WA pertama kali  datang ke Hong Kong pada tahun 2006 dan telah  bekerja dengan beberapa  majikan dimana dengan majikan terakhir yang berlokasi di  daerah Tsuen Wan, yang bersangkutan bekerja sampai dengan bulan Desember 2010.

Semenjak keluar dari majikannya tersebut, Terdakwa WA tidak mendapatkan majikan baru dan Terdakwa WA masih tetap berada di Hong Kong hingga akhirnya overstay selama 7 tahun 2 bulan ;
Pada tanggal 7 Maret 2018 saat  Terdakwa WA sedang menunggu temannya di daerah Time Square Causeway Bay, Terdakwa WA di curigai oleh Polisi yang sedang berpatroli dan kemudian Terdakwa WA  ditangkap dan dibawa ke Kantor Polisi di Wan Chai untuk di interogasi lebih lanjut dikarenakan dari dokumen yang dimilikinya diketahui bahwa Terdakwa WA telah overstay selama 7 tahun 2 bulan di Hong Kong.

Terdakwa WA kemudian dipindahkan ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay untuk di interogasi oleh Imigrasi Hong Kong, dan selanjutnya Terdakwa WA sempat di tahan di Kantor Imigrasi Kowloon Bay untuk di bawa ke persidangan yang akan ditentukan oleh Imigrasi Hong Kong.


Adapun hasil persidangan hari ini, Terdakwa WA  telah mengakui kesalahannya bahwa dirinya telah melanggar Peraturan Keimigrasian di Hong Kong dan telah overstay di Hong Kong selama 7 tahun 2 bulan dan  oleh karenaya Hakim menyatakan bahwa Terdakwa WA dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman dengan pidana penjara selama 7 bulan. Mengingat Terdakwa WA mengakui dakwaan yang dituduhkan kepadanya maka Hakim juga menetapkan untuk memotong sepertiga dari hukuman yang telah ditetapkan selama 7 bulan sehingga   Terdakwa WA hanya wajib menjalani hukuman penjara selama 5 bulan.
              

Kamis, 08 Maret 2018

Niat Menghibur BMI, 2 Pelawak WNI Dibekuk Polisi



Persidangan 2 (dua) orang pelawak Warga Negara Indonesia berinisial DA (32 tahun kelahiran Banyuwangi) dan YP (Ngawi, 26 Juni 1981) telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 7 Maret 2018 bertempat di Magistrate’s Court Shatin Hong Kong lantai 5 court 6. Dalam persidangan tersebut telah dihadiri juga oleh Konsul Jenderal RI di Hong Kong yang didampingi oleh Konsul Kejaksaan serta Konsul Protokol dan Konsuler  ;

Kedua pelawak WNI tersebut ditangkap oleh aparat Imigrasi Hong Kong pada tanggal 4 Februari 2018 pada saat mereka mengisi acara yang diselenggarakan oleh organisasi Buruh Migran Indonesia yang bernama “Hong Kong Solidarity” dalam gedung di daerah Tsim Sha Tsui. Keduanya ditangkap oleh aparat dengan tuduhan telah menyalahgunakan visa kunjungan / visa turis untuk bekerja di Hong Kong. Setelah menjalani persidangan pertama pada tanggal 6 Februari 2018, kedua pelawak tersebut telah ditahan di Penjara Lai Chi Kok sampai dengan persidangan kedua tanggal 7 Maret 2018 ini ;
Sebelum persidangan dimulai pihak KJRI Hong Kong dalam hal ini Konsul Jenderal RI yang didampingi oleh Konsul Kejaksaan diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Sdr. DA dan Sdr. YP bersama-sama dengan Pengacara (Duty Lawyer) yang bernama Mr. ANTHONY P.W. LO dalam rangka untuk menyampaikan pandangan hukum serta arahan kepada kedua WNI dalam menghadapi persidangan;

Pada kesempatan pertemuan tersebut, Konsul Jenderal RI menyampaikan surat dukungan (Mitigation Letter) yang ditujukan kepada Hakim yang akan memimpin persidangan untuk disampaikan melalui Pengacara. Surat tersebut pada pokoknya berisi permohonan kepada Hakim untuk dapat kiranya mempertimbangkan beberapa hal dalam memutus perkara dimaksud sehingga kedua WNI tersebut dapat diberikan hukuman yang seringan-ringannya dan seadil-adilnya ;

Sidang dipimpin oleh Hakim WINNIE LAU YEE WAN, yang dilaksanakan dalam bahasa Inggris dimana untuk kedua Terdakwa selain didampingi oleh Pengacara juga didampingi oleh seorang penerjemah. Adapun jalannya persidangan adalah sebagai berikut  :

Persidangan diawali dengan pembacaan kembali Surat Dakwaan yang pada pokoknya menyatakan bahwa kedua Terdakwa telah menyalahgunakan ijin tinggal kunjungan singkat yang diberikan oleh Imigrasi Hong Kong dengan bekerja dan menerima imbalan sebagai pengisi acara hiburan yang diselenggarakan oleh komunitas Buruh Migran Indonesia. Atas Dakwaan tersebut, kedua WNI menyatakan mengerti dan memahami isi Dakwaan serta mengakui kesalahannya ;

Hakim selanjutnya memberikan kesempatan kepada pihak Pengacara untuk menyampaikan pembelaan. Pada kesempatan tersebut pihak Pengacara kemudian menyerahkan surat dukungan dari Konsul Jenderal RI kepada Hakim dan selanjutnya menyampaikan pembelaan yang pada pokoknya sebagai berikut  :

Memohon kepada Hakim agar dapat mempertimbangkan surat dukungan sekaligus kehadiran Konsul Jenderal RI beserta beberapa pejabat KJRI Hong Kong di ruang persidangan ;

Memohon agar Hakim berpendapat bahwa perkara ini sebagai perkara dengan keadaan khusus (exceptional circumtances) mengingat apa yang dilakukan oleh kedua Terdakwa tersebut adalah memberikan hiburan kepada para Buruh Migran Indonesia di Hong Kong yang disertai dengan pengumpulan dana untuk kegiatan sosial, sementara uang yang diterima oleh keduanya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan selama berada di Hong Kong ;

Disampaikan juga bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh para Terdakwa yaitu menghibur para Buruh Migran Indonesia berbeda dengan pekerjaan yang seringkali dilakukan oleh para pelaku pelanggaran sejenis yang dapat mengakibatkan berkurangnya lapangan pekerjaan bagi warga Hong Kong ;
Berdasarkan hal-hal sebagaimana tersebut di atas serta dengan mempertimbangkan sikap kooperatif dari para Terdakwa yang mengakui perbuatannya maka Pengacara memohon kepada Hakim agar dapat kiranya memberikan hukuman percobaan terhadap para Terdakwa ;

Hakim kemudian meminta pandangan kepada Jaksa Penuntut Umum apakah ada kasus-kasus yang ditangani sebelumnya yang memiliki karakteristik yang sama. Terkait dengan pertanyaan dari Hakim tersebut, Jaksa Penuntut Umum menyampaikan bahwa pihaknya pernah menangani kasus serupa dan diberikan hukuman percobaan ;

Setelah mempelajari kembali seluruh dokumen perkara termasuk Mitigation Letter dari Konsul Jenderal RI maka Hakim membacakan Putusan yang pada pokoknya sebagai berikut  :

Bahwa terkait kasus-kasus seperti ini biasanya pihaknya memberikan hukuman minimal 3 (tiga) bulan penjara ; 
Namun demikian dengan mempertimbangkan pengakuan dari para Terdakwa, Mitigation Letter dari Konjen RI serta kondisi khusus sebagaimana disampaikan oleh Pengacara  maka diputuskan bahwa kedua Terdakwa dinyatakan bersalah telah melakukan pelanggaran peraturan Keimigrasian Hong Kong dan oleh karenanya menghukum kedua Terdakwa dengan pidana penjara selama 6 (enam) minggu dengan masa percobaan selama 18 bulan ;

Dengan putusan tersebut maka kedua Terdakwa tidak perlu menjalani hukum nama dalam jangka waktu 18 bulan apabila kedua Terdakwa melakukan pelanggaran lagi maka akan diberikan hukuman atas pelanggaran yang baru tersebut serta ditambah dengan hukuman ditunda selama masa percobaan.
Berdasarkan Putusan Hakim tersebut maka Sdr. DA dan Sdr. YP setelah persidangan selesai langsung dibebaskan dimana keduanya hanya perlu melapor ke Kantor Imigrasi Hong Kong untuk mengambil kembali dokumen Paspor milik mereka serta surat pengantar untuk keluar dari Hong Kong. 

Selanjutnya sambil menunggu proses pemulangan ke tanah air kedua pelawak tersebut ditampung di Wisma Konjen RI Hong Kong ;

Selasa, 06 Maret 2018

BMI Dilaporkan atas Tuduhan Pencurian di Rumah Majikannya


Persidangan Warga Negara Indonesia atas Terdakwa ES (28 Tahun kelahiran Semarang), telah dilaksanakan pada hari  Selasa tanggal  6 Maret 2018  bertempat di Fan Ling  Court lantai  4 court 2;
Terdakwa ES datang ke Hong Kong pada tahun 2010  untuk bekerja sebagai domestic helper dan  bekerja dengan  majikan yang  berlokasi di daerah Taipo  ;

Pada tanggal 24 September 2017 saat hari liburnya, Terdakwa ES  bermaksud hendak menyimpan sebagian pakaian miliknya yang di masukkan ke dalam sebuah koper dan hendak di bawa ke agennya (Special Zone). Namun pada saat Terdakwa ES hendak melangkah keluar rumah, anak kedua dari majikannya menegur dan menanyakan hendak kemana dan apa yang ada dalam koper tersebut. Kemudian Terdakwa ES meminta anak kedua majikan itu untuk membukanya dan melihatnya jika ingin mengetahui apa yang ada di dalam koper yang dibawanya tersebut. Setelah koper tersebut dibuka ternyata telah ditemukan : 5 buah pakaian dalam milik dari kakak anak majikan tersebut, 1 set pakaian dalam,  sebuah batu Kristal yang menurut pengakuan Terdakwa ES  batu Kristal itu ditemukan berada di luar rumah majikan dan kemudian  disimpannya di dalam gudang namun entah mengapa batu Kristal itu berada dalam koper miliknya, 1 buah kacamata,  dan 1 buah sweater ; 

Setelah melihat barang yang ditemukan dalam koper Terdakwa ES tersebut,   anak kedua majikan kemudian melaporkan kepada polisi dengan tuduhan bahwa Terdakwa ES telah melakukan pencurian di rumah nya. Terdakwa ES belum sempat menjelaskan apapun  namun polisi telah datang dan menangkap Terdakwa ES serta membawanya ke kantor polisi di Taipo untuk di investigasi. Setelah wawancara di lakukan maka Terdakwa ES diizinkan untuk bail out dengan membayar jaminan sebesar HKD 500 (lima ratus Hong Kong dollar) dan diminta untuk menunggu sampai dengan hari persidangannya dimanaTerdakwa ES kemudian di tampung di shelter agennya ;

Pada tanggal 24 Desember 2017 Terdakwa ES telah melahirkan seorang bayi laki-laki (saat ini bayinya berusia 3 minggu) di rumah sakit Prince of  Wales  di Shatin sebagai hasil hubungan dengan teman laki-lakinya yang bekerja di Korea yang datang ke Hong Kong untuk mengunjungi Terdakwa ES pada bulan Maret 2017 ; 

Pada tanggal 27 Desember 2017  Terdakwa ES  dipindahkan ke Shelter di Pathfinder dikarenakan shelter milik agennya sudah tidak memungkinkan untuk menampung Terdakwa ES beserta dengan bayinya ;

Hasil persidangan pada hari ini, setelah mempertimbangakan semua  keterangan yang telah disampaikan oleh para saksi dan pernyataan yang telah dikemukakan oleh Terdakwa ES, maka Hakim memutuskan bahwa Terdakwa ES telah melakukan tindak pidana pencurian serta telah merusak kepercayaan majikan yang selama ini sangat menghargai dan mempercayai yang bersangkutan. Oleh karena Hakim memutuskan untuk mencabut status bail out  Terdakwa ES sehingga setelah persidangan  pada hari ini yang bersangkutan beserta dengan bayinya harus di tahan di rumah tahanan di Tai lam  Centre for Women. Selanjutnya Hakim juga memutuskan untuk persidangan dengan agenda pembacaan putusan ditunda sampai dengan tanggal 19 Maret 2018.

Kamis, 01 Maret 2018

BMI Overstayer Disidang setelah Melahirkan



Persidangan Warga Negara Indonesia atas Terdakwa berinisial AD (36 tahun kelahiran Cirebon) telah dilaksanakan pada hari  Kamis  tanggal 1 Maret  2018   bertempat di Shatin Court lantai  3 court 1;

 Terdakwa AD datang ke Hong Kong pada tahun 2013  untuk bekerja sebagai domestic helper dan telah bekerja dengan 2 majikan yang berbeda dimana majikan terakhir berlokasi di daerah Tai Wai  ;

Selain Terdakwa AD, ada juga  Tenaga Kerja Indonesia lainnya yang sudah bekerja 8 tahun dengan majikan tersebut. Selanjutnya karena Terdakwa AD ini dipandang tidak dapat bekerja sama dengan Tenaga Kerja Indonesia yang lainnya tersebut maka pada tanggal 19 Juni 2017 Terdakwa AD diputus kontraknya oleh majikannya  ;

Pada saat Terdakwa  AD diputus kontraknya oleh majikannya, yang bersangkutan sedang hamil 1 bulan ( hasil hubungan dengan seorang laki laki Indonesia yang datang ke Hong Kong berlibur namun entah dimana sekarang keberadaannya) ; Setelah diputus kontraknya, Terdakwa AD kemudian tinggal bersama teman Indonesia yang memegang paper di daerah Wanchai ;

Pada bulan Februari 2018 Terdakwa AD menghubungi ambulance karena merasa dirinya akan melahirkan dan ambulance membawa Terdakwa AD ke rumah sakit Pamela di Chai Wan.  Petugas rumah sakit yang mengetahui bahwa Terdakwa AD telah overstay di Hong Kong kemudian menghubungi pihak Kepolisian di North Point ;

Setelah Terdakwa selesai melahirkan dan dirawat selama 3 hari di rumah sakit kemudian Kepolisian North Point datang untuk menangkap Terdakwa AD dengan tuduhan bahwa Terdakwa AD telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah overstay selama 7,5 bulan. Terdakwa AD kemudian di bawa ke Kantor Polisi di North Point untuk diperiksa dan di interogasi. Setelah itu Terdakwa AD di minta untuk datang ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay untuk di periksa lebih lanjut dimana setelah selesai pemeriksaan yang bersangkutan di izinkan bail out dengan membayar uang jaminan sebesar HKD 100 (seratus Hong Kong dollar) sambil menunggu hari persidangannya. Adapun selama Terdakwa AD diperiksa oleh petugas Imigrasi bayinya dirawat di rumah sakit Pamela Chai Wan ;

Selama menunggu hari persidangannya Terdakwa AD beserta bayinya kemudian di tampung di shelter Pathfinder ;

Hasil persidangan pada hari ini, Terdakwa AD telah mengakui kesalahannya bahwa dirinya telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah overstay selama 7,5 bulan,  sehingga Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa AD dinyatakan bersalah dan oleh karenanya yang bersangkutan  dijatuhi  hukuman  dengan pidana penjara selama 14 hari  dengan masa percobaan selama  12 bulan sehingga untuk saat ini  Terdakwa AD  tidak perlu menjalani hukuman penjara selama 14 hari namun dalam waktu 12 bulan  yang bersangkutan  tidak diperbolehkan melakukan pelanggaran atau berbuat kesalahan lagi. Apabila Terdakwa melakukan kesalahan / pelanggaran yang baru dalam waktu 12 bulan, maka Terdakwa harus menjalani hukuman penjara selama 14 hari ditambah dengan hukuman atas pelanggaran yang baru.      

Selamat Datang di Website Kejaksaan KJRI HongKong